Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
Teriak


__ADS_3

Hari sudah berganti menjadi gelap, senja pun sudah tidak tampak untuk memperlihatkan sinarnya di hari ini, di dalam rumah aku sudah berpikir untuk segera menikmati makanan yang di masak oleh Nagisa, karena terlalu lama menghabiskan waktu di pantai tadi aku telah melupakan rasa lapar,


Tapi setelah berada dekat dengan rumah, semua rasa lapar mulai menerjang hingga aku tidak berpikir yang lain selain membuat perutku kenyang terlebih dahulu,


Perlahan aku membuka pintu, suara nagisa terdengar,


"Ya, Nagisa akan pulang nanti, " Dia sedang menerima telepon dari ponsel.


Melihatnya yang sedemikian serius aku tidak ingin mengganggu apa yang sedang di bicarakan.


"Baik, ayah setelah ujian akhir sekolah ini ."


Saat nagisa melihatku dia terkejut, karena aku sedang menyiapkan semua keperluan untuk makan malam ini,


"Ayah, ada kak Yoan ....Ya, ok" Kata Nagisa yang seperti kesal dengan sikap Ayah,


Ya, seperti ayah masih marah untuk membicarakan tentang aku, walau pun kenyataannya memang begitu aku menerima semua tanpa perlu menawar.


"Itu dari ayah ?." Tanya aku dengan ekspresi datar,


"Ya ." Nagisa menjawabnya dengan sedikit murung,


Nagisa mendekat dan berdiri di hadapanku,


"Sudahlah, tidak usah kau pikirkan, kakak yakin semua akan baik baik saja ." Kata aku dengan tersenyum,


Aku mengusap kepalanya Nagisa, tapi tetap wajah murungnya sangat jelas sekali...."Kenapa ayah seperti itu dengan kakak ." Tanya Nagisa,


Aku kembali mempersiapkan semua keperluan untuk makan dan menjawab pertanyaan dari nagisa,


"Ya itu memang salah kakak dulu, kakak tidak bisa menerima kematian ibu dan menolak untuk meninggalkan rumah ini, ayah tidaklah salah waktu itu, dia hanya memikirkan akan seperti apa nasib kita, jika harus hidup di dalam keadaan di mana dia tidak bisa meninggalkan kedua anaknya dan sekarang kakak sadar dengan semua itu ."


Nagisa terdiam melihatku tersenyum, ya senyuman ini hanya sebuah kebohongan agar dia tidak memikirkan hal buruk tentang ayah,


"Dan juga nagisa, kakak sudah janji jika nanti kakak akan menjelaskan semuanya kepada ayah dan meminta maaf dengan semua yang terjadi selama ini ." Lanjut aku menjelaskan.

__ADS_1


Nagisa mengangguk, dia sendiri seperti tidak ingin melihatku terus memikirkan hal ini,


"Ya sudahlah, ayo kita makan dulu ."


"Mmm." Nagisa mengangguk dan duduk untuk makan bersama.


Dia adik yang sangat aku cintai, bahkan aku melakukan semua ini agar dia tampak lebih tenang dan tidak memikirkan hal yang tidak perlu, begini saja pun aku sudah merasa lebih dari cukup,


"Sungguh kau itu sangat cantik Nagisa ." Kata aku secara tiba tiba,


Nagisa terbatuk saat memasukkan makanannya,


"Kau tidak apa apa nagisa, jangan terburu buru ." Tanya aku melihat Nagisa,


Wajahnya memerah,karena memang dia adalah adikku yang sangat cantik, bahkan dengan wajah malu.


Malam terus berlanjut dan apa yang terjadi tadi siang membuatku terjaga, mata yang tidak bisa terpejam untuk melupakan semua masalah di malam ini,


"Menyusahkan saja." Gumamku sedikit kesal,


Aku merasa tidak berguna saat memikirkan semua ini, hanya berguling dan memutar tubuh, mencari posisi yang nyaman untukku beristirahat, tapi kipas yang berputar di atasku membuatku semakin tidak bisa tenang untuk sekedar beristirahat,


Tentunya aku merasa sedikit gila mengatakan keluh kesahku dengan menyalahkan kipas angin yang tidak memiliki salah apa pun .


"Sungguh menyebalkan jika aku tidak bisa menyelesaikan masalah ini ."


Sejenak aku melihat jam yang sudah lewat dari jam sebelas malam, karena terlalu bosan aku memutuskan untuk sedikit menikmati udara malam, keluar dan menenangkan pikiranku sejenak, merasakan tiupan angin yang tidak seperti biasa.


Atau mungkin karena aku terlalu gelisah memikirkan semua masalah ini dan membuatku bingung, tentu aku sangat jarang memikirkan hal berlebihan.


Dari jarak yang lumayan jauh, aku sudah bisa mendengar deruan ombak di pantai sana, karena suasana yang sudah sepi, tidak ada satu pun suara selain serangga malam, para kucing saling saut menyaut meminta kawin, atau burung-burung yang menemani sepinya malam ini.


Aku merasakan sebuah kegelisahan, mungkin cuma ini satu hal yang bisa menenangkan pikiran. Aku termenung, hanya mencoba tenang di tempat ini, suara dari alam menyelimuti beserta kedinginan yang datang secara perlahan, waktu terus bergerak seperti meninggalkanku di sudut ini,


"Aaaaaarrrrrrrrgggggghhhhh"

__ADS_1


Aku mendengar suara seseorang berteriak kencang di pantai ini, suara yang aku kenali, memecah kesunyian malam, gemuruh ombak pun tidak bisa mengalahkan seberapa kuat dia meneriakkan emosinya itu, aku tahu siapa yang berteriak itu, dia yang berdiri di ujung kiri pantai, di atas karang besar, dalam bayangan dengan tangan terangkat aku bisa tahu siapa yang memiliki tubuh ramping itu, tinggi tidak lebih dari 170 centimeter dia berdiri, aku mendengar teriakannya, penuh dengan emosi dan kesedihan.


Semua yang tercampur aduk, aku mendekat karena tahu itu dia, aku bisa mengerti dari kegelapan ini hanya cahaya lampu jalan untuk menerangi tepian pantai, bayangan itu tidak bergerak, hanya berdiri dengan tangannya yang masih terangkat,


"Rea ." Teriak aku,


Aku menyebutkan nama yang terlintas saat berjalan semakin dekat ke arah karang di ujung sana,


"Rea ....Rrrrrreeeeeaaaa." Kembali teriak aku,


Kuat aku berteriak memanggilnya, dia tahu itu aku, tubuhnya berputar seperti mencari, aku berlari semakin dekat,


"An, An, Yoaaaaannnnn."


Dia berjalan, tapi langkahnya itu salah, dia akan terjatuh dalam beberapa langkah, aku harus cepat,


"Rea, jangan bergerak ." Kata aku dengan berlari,


Suaraku terbentur oleh bunyi ombak besar yang datang terbentur karang,


"An, kau di mana, Yoan ."


Suaranya keras, sebentar lagi aku sampai, tinggal beberapa meter untuk menangkapnya dan ternyata memang langkah berikutnya Rea terjatuh, walau arah tempatnya jatuh itu adalah pasir, tapi dengan ketinggian sekitar dua meter itu akan bisa membuatnya cedera,


"Reeeeeaaaa ."


Aku sempat menangkapnya dan terjatuh tertimpa oleh tubuh Rea, tapi aku masih beruntung karena arah jatuh yang aku ambil jauh dari karang yang tajam di sebelah kiriku,


"Kau itu bodoh apa ." Teriak aku memarahinya,


Dia memutar tubuh dan menduduki perutku, telapak tangan kecil itu mengusap wajahku,


"An, An, yoan ." Terus memanggil namaku,


Dia tersenyum, air mata dari wajahnya itu menetes ke wajahku, dia tidak melepaskan usapan tangannya dari wajah dan aku berkata saat memegang tangan itu.

__ADS_1


"Ke mana saja kau nona, " Tanya aku bahagia melihatnya,


"Aku ....Aku .... ingin bertemu denganmu ." Jawab gadis yang masih duduk di atas perutku.


__ADS_2