Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
kompas


__ADS_3

Mungkin ini sedikit terlambat untuk berkemas, ya karena esok adalah hari minggu aku masih bisa menunggu Rea di depan rumahnya, hampir setengah jam berlalu, entah apa yang di persiapkan olehnya, tapi setelah sekian lama menunggu, dia muncul dengan ransel kecil dan di bawakan oleh pembantunya,


"Bi, bilang ke mama kalau aku pergi dengan An, " Kata Rea yang berjalan.


"Baik nona ." Jawabnya dengan sopan,


Aku sendiri sedikit mengira dia akan membawa sebuah tas besar seperti kemarin ketika akan pergi denganku, untung saja ini sedikit normal tanpa perlu memikirkan hal lain seperti bawaan yang berat.


"Apa kau sudah siap Rea ." Bertanya aku saat memegang tangannya,


"Ya memangnya kita akan pergi ke mana ." Bertanya dia dengan wajah yang sangat percaya,


"Ke tempat ayahmu berada ." Jawab aku dan mengubah ekspresinya,


Wajahnya tersenyum, seperti anak kecil mendapatkan kado ulang tahun, ya tempat yang akan kami tuju adalah satu desa kecil di Utara jepang, Hokkaido, dengan bertumpu dari informasi yang telah aku dapatkan dari berbagai macam orang di sekitar tante Tina, laki laki bernama Kazuito, ayah dari Rea, kelahiran Sapporo dengan umur satu tahun lebih muda dari ayahku, dengan menggali informasi lebih dalam lagi dari setiap orang yang pernah menjadi bawahannya saat bekerja di sebuah perusahaan IT, mereka mengatakan kalau dia adalah 'yang di korbankan ', entah apa maksudnya itu hanya saja sesuatu yang tidak bisa aku mengerti semakin aku mencari semakin aku di bingungkan oleh pernyataan tentang dirinya yang berbeda dan sebuah catatan di dalam akun facebooknya sebuah status terakhir yang dia tuliskan adalah


"Aku terbunuh oleh masyarakat ."

__ADS_1


Ya semuanya hanya bisa di jawab oleh dirinya sendiri dan itu adalah sesuatu yang ingin di dengarkan oleh wanita di sampingku ini,


"Apa kau siap untuk mendengarkan apa alasan ayahmu, kenapa dia meninggalkanmu dan keluarganya." Kata aku bertanya kepada Rea


"Ya, apa pun itu, aku ingin mendengarnya dan aku siap menerima segalanya ."Dia menjawabnya dengan wajah tegar dan kuat,


Tapi tetap dia hannyalah seorang wanita yang masih mementingkan perasaannya dan mengabaikan semua logika yang ada,


"Ya, aku tahu sekarang kau menjadi lebih kuat nona ." Gumamku


Dia tersenyum dan membaringkan kepalanya ke bahuku, di dalam sebuah bis yang sedang berjalan aku tidak habis pikir, ternyata di butuh kan waktu yang cukup lama untuk sampai ke tempat itu, aku sendiri berusaha keras untuk mencari detail alamat dari rumah ayahnya Rea dengan semua informasi yang aku kumpulkan, bahkan seorang temannya mengatakan,


Itu yang mungkin dia harapkan, tapi perkataan di dalam status Facebook itu adalah tentang dia di khianati oleh harapan, seseorang yang di korbankan, menjadi tumbal untuk orang yang dia lindungi, yah seperti inilah dunia, tidak selamanya semua berjalan seperti harapan.


Melihat sekitar saat memasuki daerah pedesaan cukup jauh yang bahkan baru pertama kali aku melihatnya, semua tampak begitu indah, meskipun di sini benar-benar dingin.


"Ya mungkin ini memang tempat yang sempurna untuk menenangkan diri ." Seperti aku mengetahui jalan pikiran yang ayah Rea pilih,

__ADS_1


Sebuah ketenangan dan kedamaian walau seperti ini bukanlah pilihan yang tepat untuk keluarganya, aku hanya ingin memberikan sesuatu untuk gadis di sampingku ini, agar dia tidak merasa memiliki penyesalan dan mampu menjalani kehidupan yang bisa membuatnya bahagia,


perkebunan luas, bukit-bukit kecil yang hijau dan semua tanah lapang di samping bandara, aku bisa melihat sebuah tulisan besar, 'SAPPORO'' itu menjadi tujuan kami berdua, aku membangunkan rea yang masih terlelap tidur di pundakku, dia masih saja memejamkan mata, hingga rasa basah dan lembab mulai menggelitik di sekitar pundakku,


"Nona kita sudah sampai ." Panggil aku sedikit menggoyangkan tubuhnya,


Saat Rea bangun mungkin sudah 1/8 bagian baju sebelah kananku basah karena keringatnya, ya keringat dari mulut manisnya itu,


"Ah, apa kita sudah sampai, " Tanya Rea dengan wajah mengantuk,


"Ya mungkin sejak satu menit yang lalu ." Jawab aku dengan lemas,


Setelah aku turun mungkin aku harus mencari kamar mandi untuk mengganti pakaianku ini, melihat secarik kertas yang bergambar denah alamat rumah tempat ayah dari Rea itu, untuk seseorang yang baru pertama kali datang di tempat ini, bahkan arah barat atau pun timur seperti tidak ada bedanya dan menjadi lebih buruk ketika aku melihat ponsel yang aku andalan dengan GPS pun kesulitan mencari.


"Seharusnya aku membawa kompas, " Dengan lemas sedikit berpikir.


mencoba bertanya ke orang-orang, tanpa perlu bersusah payah mencari alamat yang membingungkan kepalaku itu, setidaknya membuatku sedikit malu.

__ADS_1


menggunakan bus yang secara perlahan dan sangat perlahan, melaju dengan kecepatan sedang, aku masih bisa menikmati apa yang terlihat di sekelilingku, sedangkan Rea terus memegangi tangan dan bersandar di pundak ku, memang sedikit membahagiakan, tapi di balik ini semua aku tidak bisa memperlihatkan sebuah pemandangan indah tanah hijau sedikit bersalju dengan bukit barisan kecil di daerah sekitar.


__ADS_2