Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
sekedar


__ADS_3

Apa kita pernah merasa, saat di mana semua telah diperjuangkan tapi tidak mendapatkan apa pun, atau mungkin saat tubuh tidak memiliki kekuatan untuk terus berjuang dan itu membuat semua harapan hancur.


Aku pernah merasakannya, saat dimana seseorang yang aku harapkan untuk terus ada di sampingku kemudian pergi dan itu menghancurkan semua harapan.


Cita cita dan kehidupanku sendiri, apa yang aku lihat adalah harapan untuk terus melanjutkan hidup dalam kehidupan yang rumit ini.


Rina masih berusaha untuk mencapai ke kehidupan yang dia harapkan, hanya untuk terus maju mendapatkan sedikit harapan itu, Aku pernah mengatakan kepadanya.


"Aku tidak bisa mengalah untuk hal ini, hanya saja aku bisa memberikanmu kesempatan agar kau berusaha mendapatkannya."


Apa yang aku maksudkan dengan 'berusaha' dan 'mendapatkannya' adalah kerja kerasnya, sejauh mana dia akan berusaha untuk bisa mengalahkan ku dan mendapatkan apa yang dia inginkan, yaitu berada di peringkat pertama di sekolah dan mendapatkan sebuah beasiswa untuk melanjutkan sekolah hingga tingkat sarjana, mendapatkan tunjangan hidup untuk dirinya dan keluarganya, aku sedikit bertanya.


"Kenapa dia sebegitu menginginkan beasiswa itu ." Gumamku di dalam hati .


Itu terjawab saat apa yang aku berjanji untuk mengajarkan tingkat belajar agar dia bisa setara.


Sebuah rumah yang sederhana, bahkan lebih sederhana untuk di katakan sederhana, dengan ukuran 4 x 6 meter dan semua suara berisik dari adik adiknya, dengan jumlah yang bahkan sama seperti sebuah tim voli .


"Maaf, ini rumahku, maaf kalau rumah ini sempit dan berisik ." Rina setelah membuka pintu .


"Ah, tak apa ." Aku tersenyum .


Tentunya langkah pertama dari depan pintu saat aku masuk, aku sudah di sambut dengan puluhan buku yang terlempar ke sana kemari.


"Aduh, Ana, Ren, jangan berkelahi ." Dia tidak meminta maaf jika dengan adik adiknya.


Dua anak kecil dengan umur delapan tahun dan tujuh tahun sedang melakukan perang dingin antara dua kubu yang memperebutkan sengketa atas buku bacaan yang mereka tarik.


Di sisi lain laki laki yang mungkin anak tertua nomor dua sedang sibuk dengan televisinya, sekaligus menjaga adik terkecil yang terus menangis, yang terakhir datang mendekat ke arahku dan mengatakan.


"Ah, kakak pacarnya mbak ya ." Kata seorang anak kecil tahu apalah dia yang berusia sekitar empat tahun.


Salah paham yang tidak membuatku pusing, karena kesalahpahaman ini biasa terjadi jika seorang laki laki datang berkunjung ke rumah seorang perempuan .


"Ya ini hal yang luar biasa, Rina." Gumam ku saat melihat setiap kerepotan yang terjadi di rumah sempit ini mengingatkan aku ke sebuah keluara dan aku sendiri merasa kalau jika ini sesuatu yang indah untuk di lihat.


"Kau memiliki keluarga yang hebat ." Kata aku dengan tertawa .


"Ya, ini lebih dari hebat, ini sangat luar biasa." Jawabnya dengan tersenyum .


Dalam kebisingan ini aku sedikit iri dan bergumam ...."Ya, tidak sepertiku ."

__ADS_1


Rina melihat ke arahku, di berkata aku hanya berpikir apa dia mendengar suara tidak jelas itu .


"Ah tidak bukan apa apa"


"Maaf kalau begitu, baiklah mari kita mulai." Kata Rina dengan nada semangat tapi masih menundukkan wajahnya.


Tapi saat ingin mempersiapkan segala sesuatu untuk memulai pelajaran tambahan dariku, aku baru sadar kalau di ruangan ini sudah tidak ada tempat lagi untuk kami duduk. Melihat semua yang bertumpuk, aku terdiam dan tersenyum sendiri, hingga sebuah perasaan saat celanaku ada yang menariknya dari bawah .


"Kakak, kakak."


Dia si bocah perempuan kecil adik ke empat, datang lagi melihatku dengan tatapan polosnya


"Kakak, sedih ya ." Tangan kecilnya mengusap wajahku .


Jika bisa aku rasakan, kenapa dia yang masih kecil ini pun bisa melihat apa yang tidak terlihat, tangan menyentuh pipiku mengusapnya seperti ada air mata yang menetes .


"Ah tidak, Kakak tidak sedih ." Aku menggeleng .


Hingga Rina mengambil si adik kecil itu, menggendongnya dan berkata.... "Ya, Nia jangan mencoret coret wajah kak An."


Maka dari itu, apa yang aku rasa seperti air mata itu, terasa lengket saat aku menyentuhnya dan ternyata memang, ini adalah lem .


"Sungguh, aku bisa di tipu oleh wajah polos ." Kata aku dengan lemas.


"Wah, mesra sekali ." Wajah Rina tampak merah dan dipalingkan dari tatapanku.


Ini salah paham yang merepotkan tentunya .


"Rina, apa ada tamu ." Sebuah suara wanita yang begitu berat .


Seorang wanita dengan semua wajah keriputnya keluar dari balik tirai kamar. Melihatnya yang mungkin berumur lima puluh tahun itu seperti sedang sakit, Rina mendekat, merangkul dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar .


"Ibu, jangan keluar dulu, nanti ibu bertambah sakit." Perasaan Rina yang mungkin sedang khawatir .


Aku bisa merasakan dan mengerti kenapa dia ingin mendapatkan beasiswa itu, ini bukan karena sebuah alasan. Tapi menjadi keharusan.


Semua untuk mengurangi sebuah beban berat yang terlihat di setiap keriput wajah dari wanita yang di panggilnya ibu itu .


Kami belajar di luar rumah, semua buku yang bertumpuk di samping membuatku mengerti tentang kerja keras yang dia lakukan selama ini.


Aeperti aku dulu yang menyukai PR matematika dari pada bermain bola. Tapi dia adalah kerja keras karena memang itu yang harus dia lakukan .

__ADS_1


"Maaf An, kenapa kau tidak terganggu dengan keadaanku seperti ini ." Kata Rina yang masih menuliskan semua rumus di dalam buku .


Dia mengatakan hal itu dengan wajah yang masih terpaku ke soal di dalam bukunya dan aku pun menjawab ...."Ya mungkin karena aku menginginkan keadaan di mana aku bisa menyebut ini sebagai keluarga."


Dia meninggalkan pandangannya ke buku dan beralih ke arahku yang bersandar di tembok, menghadapkan diri ke langit.


Dari dalam rumah, sang ibu dengan penampan berisi air teh hangat di dalam gelas membawakan kepadaku, tapi Rina dengan cepat mengambil dari tangan sang ibu .


"Ibu jangan memaksakan diri, nanti ibu bertambah sakit ."


"Ah tidak, setidaknya ini hanya sekedar air teh ." Kata sang Ibu dengan tangan sedikit gemetar .


Tapi aku tidak melihatnya 'sekedar ', ini adalah air panas yang baru saja dia masak dan di tuangkan ke dalam teh yang baru.


Aku sadar bahkan untuk membuat teh setiap harinya pun sang ibu masih berpikir, apa masih cukup untuk memasak makanan.


Aku pun tersenyum menerima kebaikannya .


Dalam waktu yang terus berjalan, saling memberikan dan menerima, buku yang melayang karena terlalu pusing memikirkan jawaban yang benar.


Hingga tanpa sadar waktu telah mengantarkan langit menjadi sedikit pudar, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul empat sore, aku memberitahu Rina yang masih mengerjakan setiap soal yang aku berikan.


"Sepertinya sudah cukup untuk hari ini ." Aku yang memasukkan buku.


Dia melihatku yang berdiri setelah memasukkan semuanya, saat bersiap untuk pergi, seorang anak kecil tentunya mungkin dia adalah adik kedua dari yang paling muda mendekatiku lagi dan aku mengangkatnya.


"Apa kakak tahu, kak Rina selalu bekerja keras, Nia takut kalau kak Rina sakit ." Kata Nia dengan wajah polosnya .


"Ya, kakak tahu kok ." Jawab Rina yang masih tersenyum .


Aku tersenyum mendengarnya, memang apa yang aku lihat adalah sebuah tangan kecil untuk menggapai mimpi yang besar.


Tapi tangan ramping dengan pensil itu seperti terikat oleh rantai yang kuat dan membuatnya sadar sebuah kerja keras pun tidak bisa membawanya ke mana pun.


Bahkan untuk meraih mimpi.


Semakin menjauh dan menjauh, pergi meninggalkan gadis dengan harapannya, aku berpikir untuk mengalah dan memberikan kesempatan beasiswa kepadanya, hanya saja ...


"Dia pastinya akan marah dan tidak terima jika aku lakukan itu ." Gumam aku sedikit berpikir.


Dari langkah kaki yang aku pijakkan ini, bermacam tipe manusia sudah aku lewati. Manusia yang terus mencoba dan pada akhirnya tidak mendapatkan apa pun.

__ADS_1


Itu aku melihatnya, Aurora, Rina, Nagisa dan bahkan Sina, apa yang sudah membuatku seperti memikirkan perasaan ini.


Jika aku menganggap ini menyusahkan, aku tidak bisa berbuat banyak, karena aku sendiri pun tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan walau sudah mencoba sekeras mungkin.


__ADS_2