Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
Ayah


__ADS_3

Mendengar dengan nada kasar itu membuatku sedikit merinding, karena mungkin sudah sekian lama aku tidak merasakan aura menekan seperti ini, bahkan Nagisa yang berlari mendekat pun berhenti di tengah jalan dan terdiam ketakutan saat melihat sosoknya, sang ayah yang bertubuh tinggi besar dan berotot tebal berdiri seperti menantangku,


"Ayah ...."Nagisa menggumamkan namanya,


Aku yang sejak tadi melihatnya sungguh tidak aku sangka wajah itu sudah bertambah tua bahkan ketika terakhir aku melihatnya,


"Mau sampai kapan kau akan berjongkok dan memandangi ayahmu seperti itu, cepat berdiri ." Kata Ayah dengan nada kerasnya,


"Ah maaf ."


Saat aku berdiri aku memotret wajahnya, melihat hasilnya ya sebuah gambar laki laki tua dengan brewok tebal dan rambut yang mulai beruban tentunya,


"Masuklah, An, Nagisa, Tita, dan juga Rea ibumu sudah menunggu di ruang tamu ." Kata sang Ayah dengan berjalan memasuki rumah ini,


"Ia paman Ryu ",Rea dengan penuh keakraban menjawabnya,


Sedikit hal dari semua yang aku paham setelah sampai di tempat ini adalah satu buah pertanyaan,


Yaitu, apa semua kejadian yang berhubungan dengan kedekatan Rea adalah sebuah kebetulan belaka atau mungkin memang sudah menjadi takdir untuk kami bertemu, tapi sejauh ini karena aku tidak pernah percaya dengan namanya 'kebetulan' sebab semua yang ada di dunia ini mengikuti arus kehidupan dengan alasannya masing masing, termasuk pertemuanku dengan Rea yang memang ini sebuah takdir, setidaknya hal ini perlu penjelasan yang lebih terperinci dari setiap orang untuk menemukan kesimpulan dari ini semua,


Tapi tetap saja, ayahku masih terlihat tegas, wajah tua itu masih tetap menakutkan walau usianya masihlah di angka 41 mungkin dan dengan keriput itu aku merasa kalau seingatku dulu dia tidaklah setua ini, aku mengikuti langkahnya dari belakang, sedikit hal aku mengatakan kepadanya,


"Apa ayah merasa sudah bertambah tua ." Kata aku melihat betapa dia menatapku tajam,


"Pertanyaan macam apa itu An, tentu saja setiap manusia akan terus bertambah tua dan mengubah hidupnya dari kuat menjadi lemah, karena kita manusia, hanya menerimanya saja ." Jawab ayahku dengan sikapnya yang begitu tegas,


"Setidaknya, aku tidak mengharapkan jawaban sepanjang itu ayah, "


Ya setelah aku mengatakannya, dengan keras ayah menginjakkan sepatunya ke kakiku yang hanya menggunakan sandal saja, sungguh sakit jika harus di ceritakan tentang seperti apa rasanya,


"Kau juga masih seenaknya sendiri kalau mengatakan hal yang tidak perlu ." Kata Ayah dengan nada yang begitu keras,


"Ya itu sangat mirip dengan ayah ." Balas aku mengatakannya dengan spontan,


Aku sedikit mengerti ayahku bukan tipe orang yang bisa dengan mudah mengungkapkan semuanya secara emosional tapi lebih ke arah perkataan atau pun tindakan, sungguh aku seperti cerminan dari dirinya sendiri, saat aku masuk dua wanita yang sedang berbincang langsung melihat ke arahku, setidaknya salah satu dari mereka sudah aku kenali, yaitu ibu dari Rea, tante Tina yang sengaja datang untuk bertemu dengan kami semua, sedangkan satunya lagi sudah bisa aku tebak dia adalah istri dari ayahku, terlihat mungkin 8 tahun lebih muda dari usia ayahku, termasuk wajahnya yang masih di bilang cantik, walau masih lebih cantik ibuku sendiri tentunya,


"Ah kalian sudah datang, " Tante Tina menyambut kami,


Dia berjalan mendekat dan termasuk ibu baru yang mungkin sudah lebih mengenal Nagisa dari pada aku, Nagisa yang berdiri di sampingku berbisik,


"Itu ibu Yuri, ibu kita sekarang, kakak ." Kata Nagisa dengan berbisik,


"Ya, aku bisa tahu itu ." Balas aku berbisik ke Nagisa,


Dengan sedikit sopan aku mendekat dan yang menjadi ibu baruku langsung memelukku, entah kenapa aku merasa seperti lebih banyak di peluk oleh wanita yang lebih tua dari pada aku, sedangkan aku sendiri tidak menyukai itu,


"Wah, manisnya kamu An, lebih tampan dari yang di foto ." Kata sang ibu baruku dengan bahagia,


Tita dan Rin datang mereka berdua termasuk Nagisa yang ada di sampingku mulai menarikku, Nagisa berkata,

__ADS_1


"Jangan merebut kakakku ."


Tita menjawabnya dengan sedikit lebih keras dan termasuk saat menarikku,


"Sekarang kakak An juga kakakku ."


Rin mulai beraksi,


"Kak An, punya Rin ."


Memang imut sekali apa yang di katakan oleh Rin tapi tetap saja aku masih kerepotan jika harus berhadapan dengan situasi seperti sekarang.


"Kalian itu anak anak ibu, jadi An juga anak ibu ." Kata Ibuku ini dengan senangnya,


Entah apa yang terjadi, aku merasa sudah seperti barang rebutan yang tidak penting di sini,


"Maaf sebelum itu, jika kalian terus meributkan hal ini, aku sudah mati sesak karena tercekik ." Kata aku dengan sesak,


Aku mencoba menyelamatkan diri, tapi tetap tidak ada yang memedulikannya, hingga dari mana datangnya, sebuah tarikan kuat membawaku keluar dari kerumunan keluargaku yang sangat antusias menyambutku di dalam kehidupan yang baru ini,


"Kalian semuanya sudah cukup, jangan seperti anak kecil, tentu kecuali Rin, " Teriak Tina dengan keras menghentikan masalah ini,


"Syukurlah aku selamat, terima kasih tante ."


Tapi alasan kenapa tante tina menyelamatkanku adalah alasan lain kenapa aku harus tetap waspada bahkan jika sudah aku melihat senyuman licik itu,


Dia memulai kembali keributan dan pada akhirnya aku sendirilah yang harus berusaha menghentikan semua ini,


"Sudah cukup, kalau masih seperti ini aku akan pergi ." Teriak aku mengancam,


Ya dengan ancaman itu semuanya menjadi lebih tenang termasuk untukku sendiri bisa bernafas lega tanpa ada yang mengganjal di dalam pandanganku,


"An, An, apa yang terjadi, " Kata Rea yang berjalan dan mencari sesuatu untuk dia pegang, langsung aku menangkap tangannya dan membuatnya berjalan mengikutiku, tapi tatapan setiap orang di tempat ini membuatku menjadi takut,


"Mungkin aku sudah salah memasuki rumah, Rea, " Kata aku berbisik ke telinganya,


"Tapi bukankah ada mama di sini, jadi tidak salah An ."


"Memang tidak salah untuk status sosial yang bernama keluarga, tapi salah jika aku menganggap kehidupanku akan nyaman di keluarga ini ." Aku berbisik kembali ke telinganya,


"Ah begitu ." Jawabnya dengan singkat,


Aku tidak mengharapkan Rea mengetahuinya dan setelah itu terdiam tanpa mengatakan apa pun, hanya saja, aku juga lebih baik diam dan berusaha untuk pura pura tidak tahu tentang ini semua,


"Ayah apa ayah tidak melakukan sesuatu untuk ini ." Kata aku melihat ke arah sang Ayah yang duduk dengan tenang,


Ayah hanya melihat tidak tersenyum atau apa pun hanya berkata...."Tolong jangan ribut, gak enak sama tetangga ." Kata sang Ayah.


"Bahkan di sini tetangga itu sangat jauh Ayah, " Teriak aku karena Ayahku sendiri tidak mengerti apa pun,

__ADS_1


"Kalau begitu, jangan sampai ada yang pecah ." Sang ayah mencari alasan yang lain,


"Itu alasan yang tidak bagus ayah ." Aku lemas mendengarnya,


Dan pada akhirnya aku sungguh ingin melupakan kejadian 15 menit ini dan mungkin ini akan berbekas nantinya di dalam kenangan kelam kehidupanku,


Di saat semua menjadi lebih tenang dan kembali ke posisi seperti semula, aku mulai berhadapan dengan masalah yang sesungguhnya, setiap orang duduk dengan tenang di meja tamu dan ayahku memandangiku dengan tatapan tajam.


"Ayah, untuk kejadian tiga tahun yang lalu, saat aku menolak pergi dengan ayah, aku minta maaf karena keegoisanku sendiri ." Kata aku dengan semua hal yang aku ingat selama ini,


Dia berdiri, berjalan mendekat ke arahku, yang kemudian dia berkata...."Aku mengerti perasaanmu saat itu dan kau sudah melewati semuanya seorang diri, ayah tidak menyalahkanmu, tapi sekarang kau harus menebusnya, " Jawaban dari sang ayah dengan tatapan kuat.


"Aku akan menerima apa yang harus aku lakukan ." Jawab aku kuat menerima segalanya,


Dengan tangannya itu, ayah mengusap kepalaku, melihatku walau tanpa tersenyum sedikit pun,


"Dan soal beasiswa untuk Rina, Noe dan Sina, sudah ayah urus, jadi semuanya sudah tidak ada masalah lagi ." Kata Ayahku untuk segala hal yang aku lakukan,


Aku yang telah meminta beasiswa atas nama perusahaan yang ayahku jalani dan sekarang aku akan memulai kembali kehidupanku yang baru,


"Semua perusahaan yang sekarang, aku akan menyerahkannya kepadamu setelah kamu lulus dari Universitas Harvard."


Setiap orang di ruangan memang terkejut mendengar apa yang telah di katakan oleh ayahku, tapi ini bukan hal yang mendadak, karena saat aku meminta semua beasiswa untuk teman temanku, aku di berikan syarat ini dan aku menyetujuinya,


"Kenapa kakak tidak bilang sama Nagisa ." Teriak Nagisa


Nagisa seperti memberontak setelah mendengar apa yang di katakan oleh aku dan ayah, bahkan bukan hanya Nagisa, Tita dan Rea pun demikian,


"Ya ini adalah pilihan kakak, apa yang harus di bayar setelah kakak menerimanya ." Kata aku menjawab teriakan Nagisa,


"Ini tidak adil kenapa kakak harus berkorban demi orang lain, sedangkan untuk kakak sendiri seperti tidak mendapatkan apa pun ." Berteriak kembali Nagisa dengan penuh amarah,


"Nagisa, ini adalah pilihan kakak, jangan mengatakan hal yang tidak perlu ." Aku sedikit berteriak, membuat nagisa terdiam mendengarkannya,


"Ini tidak adil, ayah, "


Aku mengusap kepalanya, air mata itu menetes dan aku bersihkan dengan tanganku,


"Ini hanya empat tahun adikku, bukan pula selamanya, sejauh ini kakak hanya mengerti tentang seperti apa menjalani kehidupan seorang diri, tidak peduli apa yang di katakan oleh lain, tapi setelah bertemu dengan semua orang, mereka berjuang demi kehidupan mereka, itu membuka mata kakak, kakak ingin berjuang demi mereka semua, memberikan apa yang bisa di berikan dan menerima sebuah kebahagiaan yang bisa di kenang oleh mereka semua bahwa, kakak hidup dan mereka menjadi teman untuk kakak ."


Sedikit hal untuk membuat semua orang mengerti dan untuk jawaban yang ingin aku dengar,


"Ayah, katakan yang sebenarnya kenapa aku merasa Rea itu berbeda ." Bertanya aku kepada sang Ayah dengan semua kejadian ini,


Ayahku mulai berpikir, mungkin mencoba mengingat dari mana harus menceritakan awal kisah yang ingin aku dengar dari semua ini,


"Jadi Rea adalah anak yang mendapatkan donor hati dari Hana, " Jawab sang ayah dengan tenang,


Sedikit kata itu membuatku mengingat tentang seorang gadis kecil yang pernah aku lihat di bangku lorong rumah sakit dulu ketika ibuku masih di rawat,

__ADS_1


__ADS_2