Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
penebusan dosa


__ADS_3

Aku berjalan pergi, melewati gerbang sekolah untuk keluar dan pulang, seseorang sudah berdiri di samping gerbang luar, dengan tangan yang menggenggam sebuah apel dan tongkat, tanpa melihat apa yang wanita itu lakukan didalam diam, aku melihat saat pandangan wanita itu menatap langit.


"Nona kenapa kau di sini ?." Bertanya aku melihat Rea secara tiba-tiba muncul di tempat ini.


"Aku menunggumu ." Jawab Rea yang menurutku sesuatu yang tidak terpikirkan oleh siapa pun.


Bagiamana mungkin dia tahu kalau aku bersekolah ditempat ini, sedangkan ada dua sekolah lain yang berdiri di wilayah prefektur Shizuoka.


Dia yang menggunakan seragam dari sekolah luar biasa yang bukan dari kota ini, aku sedikit canggung, bisa dikatakan, aku membiarkan seorang gadis menunggu hanya untuk bertemu.


Walau aku sendiri tidak tahu jika Rea muncul tanpa alasan.


"Apa kau ingin pulang ?." Tanya Rea dan berjalan mendekat .


"Ya tentu, karena aku tidak mungkin bersekolah, dimana tidak ada satu pun guru yang ingin mengajar di luar jam kerjanya ." Jawab aku membalas dengan senyuman.


Dia tertawa dan membalas apa yang aku ucapkan, "Tapi menurutku guru itu tidak bekerja, mereka mengabdi ."


Kata Rea yang membalas perkataanku dengan tatapan kosongnya.


"Tidak ada guru yang mengabdi, sedangkan mereka berdemo untuk meminta kenaikan gaji ." Balas kembali aku menjawab perkataan Rea.


Rea sejenak terdiam, seperti kebingungan, "Mungkin kau benar, ternyata mereka bekerja, jadi lagu itu harus di ganti ." kata Rea dengan senyum lemas yang memikirkan jawaban itu.


Aku merasa lebih hidup jika bersama dengan gadis ini,  setiap ucapan Rea membuatku takjub, dia tidak merasa frustrasi atau pun murung, hanya karena sebuah kekurangan yang dimiliki oleh matanya, dia mengulurkan tangan dan aku bertanya.


"Ada apa dengan tanganmu nona ." Bertanya aku kebingungan.


Dia terlihat cemberut, tangan yang masih mengarah kepadaku dan berkata ."Tolong bantu aku berjalan." Kata Rea yang merasa kesal.


Harusnya aku tahu apa yang ingin dia sampaikan, saat aku menggapai tangan kecil itu, rasa lembut kulitnya menyentuh hingga detak jantungku berantakan.


"Ke mana kita akan pergi ? ." Tanya aku, karena aku tidak tahu apa yang ingin Rea lakukan.

__ADS_1


"Ke pantai." Itu yang dia katakan ketika berjalan disampingku.


Dalam setiap langkah, aku ditemani oleh gumaman suara bernada, timbul tenggelam dalam ritme yang indah.


Seakan waktu bergerak melambat dan aku tidak ingin waktu beranjak pergi untuk saat ini, lebih lama bersama dengan Rea, lebih jauh untuk berjalan berdua, saling bergandengan dan tidak peduli dengan tatapan setiap orang.


Hanya kami, antara dua pasang manusia yang sama-sama kehilangan separuh arti hidup.


"Nah nona, kenapa kau menyukai senja di atas karang itu ?." Tanya aku dari untuk satu pertanyaan yang masih belum terjawab.


"Karena aku merindukan langit, langit indah dengan hangatnya senja, langit gelap dengan sejuknya angin dan langit penuh keajaiban sebuah aurora."


Itu yang Rea jawab, sama seperti yang dikatakan oleh ibu, cahaya keajaiban dari tanah yang dingin. Dia ingin menemukan hal itu, sebuah keajaiban yang mereka inginkan.


Di satu sisi aku ingin memberikan sebuah janji untuk ibu dan di sisi yang lain aku tidak ingin memberikan harapan kepada Rea.


"Jika suatu hari nanti saat kau di berikan kesempatan untuk  bisa melihat keajaiban, apa kau akan berjuang mendapatkan hal itu." Tanya aku kepada Rea yang masih tersenyum dalam setiap pijakan kaki.


Sungguh sebuah atmosfer yang begitu berat terasa di hatiku.


Aku masih mengikuti jalan ke pantai yang biasa aku datangi untuk melihat wanita ini, walau sekarang, itu bagaikan sebuah mimpi dan itu terasa indah sekali, menikmati waktu bersama.


"Nah nona, kenapa kau begitu penasaran kepadaku." Aku yang bertanya kepada Rea.


"Kenapa ya ?."


Dia tersenyum dan balik bertanya kepada dirinya sendiri, seakan dia mencoba untuk mengingat sesuatu dan itu membuatku menunggu untuk mendengar jawaban itu.


Satu menit berlalu, tidak ada jawaban .


Lima menit berlalu, masih mencoba berpikir .


Sepuluh menit berlalu dan aku berkata .

__ADS_1


"Lupakan saja pertanyaanku itu nona, sebelum kau melupakan kalau kita sudah ada di pantai." Kata aku melihat Rea terus berpikir dengan rumit.


"Haha, maaf maaf, hanya saja seperti ada sesuatu yang ingin aku lihat, entah apa, tapi itu sanggat penting ." Rea seperti menyembunyikan sesuatu, tapi biarlah.


Dia yang aku bantu melangkah ke atas karang, memang begitu manis untuk aku perhatikan, langkah pelan namun kuat, tidak gentar untuk berjalan dengan kaki ramping itu.


Untukku saja tajam karang sudah cukup untuk membuat kaki kesakitan.


Sungguh aku tidak pernah membayangkan, beberapa jam yang lalu, aku berada di dalam situasi dimana aku harus memperlihatkan sisi gelap yang aku sembunyikan.


Tapi untuk saat ini, aku berada didalam keindahan yang pastinya akan aku kenang, aku selalu berulang kali berpikir, apa yang Rea lihat didalam gelap mata menatap senja.


Hatiku bergetar, aku ragu, apa ini benar atau salah, tapi sebelum aku mengatakan itu, dirinya berkata .


"Ah, setiap aku merasakan kehangatan ini, entah kenapa aku merasa kalau aku begitu beruntung, hangat senja, sejuk angin, kicauan camar dan ketenangan hati, aku lebih hidup, merasa aku bahagia ."


Berkata Rea dengan tangan yang melebar ke langit, merasakan setiap belaian angin mengibas rambut hitam dari selatan.


Setiap kata yang Rea ucapkan, membuat tetesan air mata mengalir membasahi halus pipi, di kehangatan senja saat ini.


Rea melanjutkan kembali perkataannya itu, "Aku tidak merasa lengkap, di duniaku lebih dari kegelapan, ini begitu dalam dan aku ingin melihat segalanya."


Sebuah perkataan dimana dia ingin sesuatu untuk menyelamatkan dirinya dari kesepian.


Hidup seperti apa yang dia jalani ?, apa itu terasa gelap ?, Kesedihan dalam ketidakmampuan melawan takdir, dunia dibalik tatapan Rea, begitu dalam, sepi dan menyedihkan.


Aku hanya diam, tidak tahu harus menjawab apa, itu terlalu dalam, hingga aku hanya terdiam, sampai aku tersadar, jika gelap menyelimuti langit sore di hari ini.


Dunia berputar pada porosnya, matahari berganti, rembulan datang, begitu pun sebaliknya, mereka mengikuti jalan masing-masing, dalam aliran arus sistematis dari jagat raya.


Aku hanya sebagain kecil dari keberadaan alam semesta, Rea menerima kenyataan walau itu pahit dan getir dalam hidup.


Sedangkan aku bersembunyi dalam alasan tentang karma, aku menolak kenyataan, penebusan dosa atas kehilangan sosok ibu. Pada akhirnya aku hanya takut untuk berjalan kembali memperbaiki hidup yang sudah lama aku tinggalkan.

__ADS_1


__ADS_2