Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
lembar demi lembar


__ADS_3

Noe sudah sekian lama tidak ke tempat ini, tapi dia masih mengingat sebuah hal yang aku sendiri melupakannya, aku dulu adalah seseorang yang diam dan lebih banyak diam, tidak menuntut apa pun, karena bagiku sendiri duniaku hanya ada di lembar demi lembar kertas buku yang selalu aku baca dan pertemuan pertama kali dengannya saat kelas satu sekolah dasar apa yang terjadi saat itu adalah dia merobek buku dengan sengaja saat aku membacanya dan berkata,


"Hey, kau itu selalu memegang bukumu memang apa yang menarik di dalamnya, " Itu kata Noe saat umur 7 tahun dan pertama kali aku mengenalnya,


Aku masih saja diam, dengan tatapan tenang aku membuka tas dan mengambil satu buku lainnya untuk aku baca, Noe mengambilnya kembali, ku ambil yang lain, hingga dia bertanya saat melihat berapa banyak buku yang di pegangnya itu,


"Oi sebanyak apa kau membawa buku ." Kata Noe dan di sampingnya sudah bertumpuk belasan buku,


"Ah, yang kau pegang itu baru separuhnya ." Kata aku membuatnya terkejut,


Dan pada akhirnya, Noe berhenti karena terlalu lelah memegangi semua buku itu, yang lebih jelas itu semua adalah buku dari guru untuk di bagikan di hari pertama sekolah untuk kelas satu dan aku yang membawakannya, itu adalah awal aku mengenalnya, hingga hari demi hari, setiap kejailannya yang berakhir dengan mengecewakan olehku, membuatnya menyerah dan entah sejak kapan Noe mulai mengikutiku, tapi di mulainya hari dengan kami berdua yang selalu bersama inilah membuatku sedikit sadar dia memang sahabatku,


Aku seperti mengingat kembali hal tidak penting di dalam otakku ini, melihatnya yang masih bertindak bodoh dengan semua perilaku konyolnya, hingga pada akhirnya aku tidak pernah mengerti tentang semua jalan pikiran laki laki ini, bahkan melihatnya yang sedang memainkan rubik kubus 6 x 6 dengan bingung memutar semua kotak ke segala arah, sedangkan aku sendiri melihatnya,


"Jika kau hanya berpikir mengumpulkan satu warna terlebih dulu maka sampai kapan pun warna lainnya tidak akan terkumpul, " Kata aku melihat Noe penuh dengan tatapan bingung,


Dia menyerah dan melemparkan rubikku ke atas kasur, wajahnya terlihat kusut, entah karena memikirkan kotak misteri itu atau memikirkan semua tugas sekolah yang tidak tersentuh olehnya, ya mungkin hanya dia dan Allah yang tahu, aku tidak perlu memikirkannya sebegitu rumit tentang kehidupan orang ini, karena semakin aku memikirkannya semakin aku tidak tahu arah dari semua pikirannya,


"An, apa kau tahu Sina kemarin aku lihat dia di tembak, kakak kelas." Kata Noe dengan bersemangat,


"Ah, aku tidak heran ." Jawab aku dengan ekspresi datar,


Noe melihat aneh ke padaku, seperti sebuah kejadian aneh saat aku tidak terkejut mendengar berita besar yang tersebar luas dan menggemparkan seluruh sekolah ini,


"Memang kau tidak cemburu An ." Noe seperti memancingku untuk mengikuti pembicaraan ini,


Dia menanyakan hal yang tidak perlu aku jawab, karena untuk pikiranku dengan sina memang sebatas teman sejak kecil dan tumbuh bersama .


"Untuk apa aku cemburu, aku akan ikut senang jika dia bisa berubah menjadi feminin ." Jawaban yang mungkin tidak ingin di dengar oleh Noe,


Noe yang mendekat dengan mengusapkan tangannya ke punggungku, mendorong tubuhku seperti untuk menangis di dadanya,


"Apa maksudnya ini ." Tanya aku dengan mencoba melepaskan tangannya, dan dia masih saja mengusap punggungku,


"Jika kau ingin menangis, menangislah aku masih akan tetap menjadi sahabatmu ." Itu Jawaban Noe,

__ADS_1


Apa maksudnya itu, aku tidak mengerti dengan perkataan berlebihannya, menganggap aku memiliki perasaan kepada sina kah ?,


"Oi, aku tidak memiliki perasaan apa pun terhadap sina selain sebagai sahabat sejak kecil, "


Noe yang mendengar hal itu langsung melemparkan tubuhku dengan seenaknya sendiri, bahkan hingga berguling, tapi untungnya tidak membentur apa pun,


"Memangnya selama ini kau tidak memiliki perasaan apa ... ." Tanya Noe yang mungkin penasaran,


"Tidak." Potong aku langsung menjawab tanpa ekspresi,


"Pun kepada Sina ....Cepat, sekali kau menjawabnya ." Teriaknya sedikit depresi,


Ya, sejak pertama bertemu dengannya, yang aku rasakan bukan seperti cinta, memang sedikit spesial hanya saja, dia seperti sahabatku atau jika lebih di khususkan sina seperti kakak perempuan untukku, walau demikian antara Nagisa dan Sina aku tahu mereka berdua tidaklah akrab, karena sampai sekarang sina tidak pernah datang ke rumahku ini, sekitar tiga minggu,


"Ya, aku sendiri tidak terlalu memikirkannya, entah dia akan punya pacar atau pun tidak, asalkan tidak ada yang menyakitinya saja aku sudah tenang ."


"Jika kau berkata seperti itu, tidakkah berarti kau memiliki perasaan khusus dengannya dan juga siapa yang berani menyakitinya, aku sendiri malah lebih khawatir dengan pacarnya ." Kata Noe memberikanku gambaran tentang apa yang akan terjadi,


"Ya, kau benar ." Tertawa kami berdua,


"Apa kau sedang dekat dengan Rina ?." Langsung Noe berganti topik ke wanita lain,


"Rina, ah ....dia, bisa di bilang begitu, " Kata aku menjawab sejujurnya,


Noe melihatku tajam, memperhatikan setiap inci dari wajahku, sungguh anehkah jika aku mengatakan dekat dengan seseorang sedangkan arti kata dekat yang dia tahu bukan seperti apa yang ada di dalam otaknya,


"Jangan anggap dekat itu karena aku menyukainya, " Kata aku menjawab tatapan mata itu,


Dia memiringkan kepalanya dan bertanya,


"Memangnya kenapa kau dekat dengan Rina ." Pertanyaan yang sangat penuh dengan keingintahuan,


"Ya, mungkin ...."


Aku berpikir tentang apa yang di tanyakan sahabatku ini, sedangkan jawaban untuknya itu baru saja aku berpikir sekarang,

__ADS_1


"Oi, kenapa memang ." Teriak Noe seperti segera mendengar jawabannya,


Aku masih berpikir dengan pertanyaan itu, bagiku sendiri yang sangat jarang melakukan hal merepotkan, bahkan untuk seseorang yang aku kenal kemarin, dan itu ....


"Ah, aku pun tidak tahu kenapa ." Itu jawabanku,


Noe mendengarnya, menggeleng tidak lazim, menarik nafasnya dan menghembuskan dengan maksud yang tidak jelas,


"Sudahlah, tak perlu berpikir terlalu keras, karena cinta itu tak perlu pemikiran atau pun logika kawan ." Itu kata Noe dengan matanya yang terlihat menjijikkan,


"Ya mungkin kau benar, tapi ...jika kau terus berpikir tentang hal yang membuatku kesal, mungkin besok aku akan menghapus semua data yang kau miliki di dalam laptopku ." Kata aku membuatnya berhenti tersenyum,


Wajahnya menjadi pucat, dia terkejut dengan perkataan yang aku ucapkan,


"Ya, di folder musik mp3 dan folder jangan di buka ." Tegas aku mengatakannya,


"Jangan An, jangan " Noe seperti memohon,


Aku tidak perlu setega itu sebenarnya, tapi sikapnya yang sangat mengacu ke arah romantis di dalam hidupku membuatku sedikit jengkel, dia mempertanyakan 'kapan punya pacar', untukku sendiri ingin bertanya kepadanya sendiri 'Aku tidak ingin mendengar pertanyaan itu darimu ' ya seperti itulah rasa marahku saat ada yang menanyakan kisah cintaku ini, bahkan jika aku sendiri memikirkan seseorang yang aku cintai maka itu adalah Aurora,


"Aku ingin membantunya, dia ingin mencapai harapannya, sedangkan aku tidak ingin mengalah, aku mengajarkan semua yang aku bisa, jika harapannya lebih kuat untuk bisa mencapainya, maka aku ingin melihat seberapa keras dia berjuang ." Kata aku setelah mendapatkan jawabannya,


Noe membuka jendela kamarku, yang memang angin di hari ini sedikit kencang karena pertemuan musim semi dan musim panas jadi angin lembab ini membuatku semakin berkeringat saat di dalam kamar,


"Kau itu masih mempermasalahkannya, karena kau tidak bisa memperbaiki harapanmu yang telah hancur, jadi...." Kata Noe tanpa di teruskan,


Aku mengerti maksud dari perkataannya, mungkin memang begitu, ini ternyata sangat jelas, bukan sebuah rasa iba, rasa meremehkan atau mungkin yang lainnya, karena aku sendiri sudah tahu jawabannya, tapi aku bersembunyi di balik keangkuhanku sendiri, hingga aku menjawabnya,


"Ya, kau benar, ini karena aku mencoba melarikan diri dari kegagalanku sendiri saat harapanku hancur dan berharap dengan membantunya aku bisa menebus dosaku ." Itu kata aku dengan perasaan yang begitu dalam,


Ya ini kenapa aku ingin sekali melihat dia berjuang untuk mendapatkan harapannya, ya karena memang jika bisa melihat harapan itu terwujud aku seperti bisa memaafkan diriku sendiri atas semua kesalahan yang tidak bisa aku perbaiki selama ini, saat aku mengatakan apa yang terlintas di dalam pikiranku ini, Noe tidak memperhatikan, dia melihat sebuah foto dari album di dalam rak bukuku,


"Hey, An lihat ini ." Kata Noe dengan foto di tangannya,


Sebuah foto yang dia tunjukan adalah dua wanita yang saling berdampingan, memegang masing masing kameranya dan berpakaian sekolah SMA, entah siapa yang memotretnya itu tidaklah penting untukku hanya saja, wanita dengan rambut pendek sebahu, itu adalah ibuku sedangkan siapa yang ada di sampingnya ya itu yang menjadi pertanyaan untukku sedangkan wajah itu sangat tidak asing jika aku pandangi, seperti aku memang sudah melihatnya berulang kali, senyum yang hangat lembut seperti sebuah senja dan kilauan cahayanya, pergelangan tangan kurus dengan jari jarinya seperti tirai, aku bisa melihatnya, setiap inci dari gambaran bentuk tubuhnya, karena memang aku seperti mengenalnya, ya aku tahu siapa dia.

__ADS_1


__ADS_2