Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
tidak ada di sini


__ADS_3

Aku tahu dia mencari alasan untuk bisa mengajakku bermain, walau pun aku menolaknya dia akan tetap memaksaku, termasuk teman yang menyusahkan seperti dirinya, bahkan jika ini sebuah manga pun wajah memohon itu akan memiliki efek bunga yang muncul di sekitar Noe.


"Baiklah, tapi aku tidak yakin bisa memenangkannya ." beralasan, ya aku hanya beralasan saja.


Aku bicara begitu untuk Noe, agar tidak banyak berharap, tapi tetap Noe tampak kegirangan dan melompat dengan heboh.


Ini tidak seperti dia memenangkan lotre, ini hanya berhadiah piagam, piala bergilir dan salam terimakasih, sederhana kan ?, Karena acara tidak lebih seperti sebuah hiburan semata.


"Ya kau tampak senang, hingga kau lupa mana kakimu yang terkilir ." Aku yang memang sudah tahu itu hanya alasannya saja.


Dia memang seperti itu, tapi yang lebih penting Nagisa melihat dari belakang, bahkan dia tidak tahu aku pernah berselancar.


"Apa kakak bisa .?" Nagisa bertanya, atau dia meragukan, karena sosok yang tidak pernah ditemui selama beberapa tahun berubah drastis.


Tapi Noe menjawabnya dengan wajah yang bersinar..."Ya, dia salah satu pemenang kejuaraan surfing di kota ini, jadi jangan heran, aku sendiri masih ingat beberapa bulan lalu."


"Kenapa jadi kau yang sombong ." Jawab adikku dengan wajah seperti melihat sesuatu yang tidak enak di pandang.


Noe tampak syok mendengar ucapan langsung dari adikku, ya memang begitulah Nagisa, selalu jujur dengan apa yang dia pikirkan.


"Kau tahu Nagisa, aku cukup bangga menjadi temannya."


"Padahal, aku terpaksa berteman denganmu."


"Jangan bilang begitu An."


Bersiap dengan semua perlengkapan, bahkan papan seluncur yang aku letakkan di atas permukaan air dan menggenggam tali dari Speedboat untuk membawaku ke titik start.


Saat sebuah ombak berukuran dua setengah meter mulai datang, aku melepas tali Speedboat dan mulai mengikuti arus ombak.


Bagiku ini seperti sebuah praktik ilmu fisika, tentang energi gerak, daya dorong, titik tumpu dan keseimbangan. Apa yang aku lihat dari semua ini adalah seperti apa aku membuat titik tumpu untuk sebuah keseimbangan di sebuah papan bergerak oleh daya dorong dari gelombang.

__ADS_1


Tentunya aku pun memperhitungkan tentang kuat energi dorong dari ombak, titik sebuah keseimbangan dari papan seluncur yang sangat berbeda dengan neraca.


Karena dorongan itu berada di belakang papan, sehingga saat satu kaki berada di atas harus menemukan titik seimbang yang pas dan pergerakan tubuh sebagai pengatur.


Seberapa aku harus menyesuaikan semua titik, agar seimbang saat menangkap daya dorong dari gelombang setinggi dua setengah meter ini tetap stabil.


Setidaknya aku sedikit menikmati, apa yang di namakan berseluncur, berada di tengah gulungan ombak, melewatinya seperti sebuah terowongan, melompat, berputar dan semua hal tentang kebebasan di dunia surfing ini memang indah.


Memang sangat menantang, tapi bukan ini yang aku ingin lihat, sesuatu yang membuat semuanya sempurna, bahkan aku tidak akan merasa bosan untuk di kagumi.


"Kau itu memang hebat, An ". Kata Noe dengan berlari menghampiriku.


Setiap tepukan tangan seperti membuatku tidak mengerti, apa yang mereka lihat dariku, aku tidak lebih dari orang asing, dan orang asing bukan hal penting bagi mereka.


"Aku tidak tahu kakak bisa bermain surfing ." Adikku seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Ya be..."


Nagisa seperti tidak mengharapkan penjelasan dari Noe, dan dia berkata..."Kenapa jadi kau yang sombong lagi."


Sungguh perkataan yang menyakitkan, aku pun bisa mendengar suara hati dari Noe yang remuk.


"Jadi kenapa kau ingin aku yang bermain ." Tanya aku melihat ke arah Noe .


"Ah tidak, hanya saja beberapa hari ini kau terlihat murung, jadi mungkin dengan berselancar kau bisa sedikit lebih senang ." Jawab Noe dengan ragu-ragu.


Aku sedikit bisa mengerti, jika dia mengkhawatirkan ku, dia teman terpaksa kenal, menarik paksa aku dari dalam tempurung, hingga sekarang aku bisa melihat dunia yang luas.


"Memang, sedikit membuatku mengingat hal yang tidak penting." Gumam aku sedikit keras, sedangkan Nagisa mungkin bertanya tanya, tentang ingatan yang aku gumamkan tadi .


"Memang kenapa dengan kakak" Tanya Nagisa ke Noe.

__ADS_1


Tapi Noe sedikit tertawa, bahkan mungkin dia sedang menahan tawanya yang sudah tidak tertahankan .


"Karena dulu, saat dia terjatuh seekor ubur-ubur menempel di kepalanya dan itu menjadi salah satu alasan dia berhenti dari surfing ." Kata Noe, sedangkan Nagisa pastinya membayangkan apa yang terjadi dan dia berkata.


"Aku sedikit kasihan dengan ubur ubur itu, kenapa dia mau menempel di kepala kakakku yang tidak berguna ini ." Kata Nagisa dengan jujur. Paling tidak itu yang dia tahu


"Kau tidak sopan Nagisa dan maaf saja kalau aku tidak berguna ."


Itu memang salah satu yang menjadi alasan, tapi tentu aku tidak menceritakan kenapa aku keluar, ya mungkin sebuah alasan tentang 'melarikan diri ', sedikit tepat tentang masalah yang aku miliki.


"Aku, akan pergi, jadi sisanya urus saja sendiri ." Aku yang langsung pergi tanpa melihat hasil.


Tentunya matahari terasa begitu terik untuk hari ini, atau karena air laut, tubuh basah dan panas di atas tiga puluh derajat tentunya naik ke ubun-ubun.


Di saat seperti ini aku sungguh merindukan lemari es beserta isinya, sedangkan saat aku melihat jam di dalam ponsel, waktu sudah berada di antara jam setengah lima.


Bisa dikatakan setengah jam lagi, wanita otu akan berdiri dan menghadapkan semua jiwanya ke sinar senja yang hangat.


Tentu rasa kagum dan tidak ada kegiatan lain, menjadi alasan sederhana kenapa aku begitu tertarik memperhatikannya sampai sekarang.


Duduk di tempat biasa, dan menunggu seperti biasanya pula...


Tapi hingga senja hilang pun, dia tidak kunjung datang, aku merasa ini kedua kalinya aku melihat langit di sebuah sore begitu membosankan.


Aku yang masih berdiri di tepian pantai, tidak bisa melangkahkan kaki ke mana pun, seperti tidak ada yang bisa aku lakukan dan membuatku merasa mempunyai sedikit harapan, hanya sekilas saat suara Nagisa memanggil .


"Mau sampai kapan kakak akan terus berdiri di situ, ini sudah malam ." Teriak Nagisa dari kejauhan.


"Ya, kau benar, " Gumam aku melihatnya.


Hingga terasa langkah kaki berat untuk pergi, mungkin karena aku masih mengharapkan dia datang untuk sekedar menyapa, dan berkata..."Aku terlambat ."

__ADS_1


Tapi itu bukan sifat darinya, aku memang belum lama mengenal siapa wanita itu, hanya saja dari setiap perasaan, aku tidak pernah melihat dia terlambat, sampai dua hari ini dan tidak ada di sini .


__ADS_2