Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
gerimis jingga


__ADS_3

Saat itu mungkin kelas 6 di Sekolah Dasar, aku masih belum berpikir tentang keinginanku sendiri, selain memberikan yang terbaik untuk sebuah senyum pura-pura dari ibuku.


Setiap waktu menatap buku dan selalu buku setiap hari, memperlihatkan nilai sempurna, saat itulah ibuku tersenyum dan berkata.


"Kau hebat selalu mendapatkan nilai sempurna An, ibu bangga kepadamu."


Suara payau ibuku terdengar menyakitkan, tapi yang aku tahu, aku hanya ingin melihat ibuku tersenyum dalam penyakit yang beliau derita.


Aku tidak pernah berpikir selain itu dan itu, menjadi tujuan kenapa aku harus mengikuti perkataan ayah.


"Jika dengan mendapatkan nilai sempurna bisa membuat ibu bahagia, aku akan terus mendapatkannya, jadi ibu harus sembuh."


Bagiku itu bukan sebuah janji biasa, tapi sebuah harapan, aku harus mendapatkan nilai sempurna, terus dan terus, hingga pengharapanku menjadi kenyataan.


Jika setiap orang memiliki mimpi mereka sendiri, aku selalu bertanya kepada diriku, apa yang aku inginkan dari semua ini. Apa pilihanku akan menjadi yang aku inginkan di masa depan. Tapi masa depan samar dihadapanku, aku takut jika harus berubah, karena mungkin ibuku tidak tersenyum lagi.


Setiap aku berpikir untuk berubah, semakin aku ketakutan, merasa dunia biarlah tetap seperti ini, jangan berubah dan mengubah diriku. aku rela membunuh diriku sendiri untuk orang yang aku cintai.


Di setiap waktu, ibu selalu memegang kamera dan membidikkannya ke langit. Apa yang ibuku lakukan, selalu membuatku merasa takjub.


Melihat semua foto yang diambilnya dengan berbagi suasana dunia, seperti langit senja dan gerimis. Itu foto yang selalu ada di halaman depan album, ibu memberikan judul 'gerimis jingga.'


Ada pula sebuah foto, ketika peluncuran roket yang membelah langit pulau tanegashima menjadi jingga dan malam secara bersamaan. Itu bagaikan dua sisi dunia yang sangat berbeda.


Aku lebih sering melihat ibu tersenyum saat memandangi semua foto ditangannya, aku tidak bisa melakukan banyak hal. Hanya memberikan apa yang aku bisa lakukan dan itu sedikit harapan semoga bisa membuat ibu selalu tersenyum.


Aku ingat bahwa ibu pernah berkata, ketika aku sedang duduk disamping ibu dan memakan buah yang dia nikmati. Tatapan ibu melihat ke atas langit dan berkata.


"Apa kau tahu An, Ibu sudah lama sakit seperti ini, ibu tahu, umur tidak mungkin bisa ditebak, maka dari itu, ibu selalu berusaha sebaik mungkin dalam segala bidang dan termasuk melakukan setiap hal yang menurut ibu menyenangkan, mendaki gunung demi memotret langit, berpetualang ke seluruh tempat dengan pemandangan yang tidak pernah ibu lihat.


Itu membuat ibu seakan masih memiliki berbagai rencana dan ibu tidak tahu, sampai kapan terus berlanjut, itu membuat ibu sedikit sedih."


Ibuku berbicara lirih dengan pandangan mata sendu.


Dalam diam aku menginginkan harapan itu terwujud, aku sendiri tidak bisa berharap lebih, mungkin saat itu, aku mulai melihat dunia luar yang selalu di pandangi oleh ibu.

__ADS_1


Walau aku tidak mencoba untuk berubah, hanya melihat dan ingin mengetahuinya, seperti awal ketika mengikuti ajakkan Noe untuk bermain di taman.


Noe dengan senangnya mengangkat tangan dan berkata.


"Lihatlah awan itu besar dan sangat dekat." Kata Noe dengan tangannya menunjuk ke langit.


"Ya, itu dinamakan awan comulonimbus, ketinggiannya berkisar di seribu meter, dengan lebar hingga satu kilometer." Jawab ku dengan tatapan serius ke buku yang ada ditangan.


Noe melihatku aneh saat aku mengatakan apa yang aku tahu, tangan Noe yang awalnya menunjuk dengan tegak ke atas langit, kini menjadi bengkok tidak bersemangat.


"Entah kenapa, aku merasa ini bukan bermain, lebih seperti menjelaskan karya ilmiah tentang berbagai struktur awan." Kata Noe dengan lemasnya.


"Memangnya apa yang salah ?." Jawab aku, sedangkan Noe masih dengan senyumnya yang kecut, berjalan mendekat dan menepuk pundakku.


"Cobalah menikmatinya, jangan terpaku dengan pengetahuan, berimajinasi, melihat, dan berkata 'Ah benar itu indah sekali seperti bentuk bunga, atau apalah '." Kata Noe dengan memperagakannya dengan gerakan tangan.


"Tidak, itu memalukan ."Aku tetap tidak peduli.


Seperti Noe mendapatkan sebuah hantaman, tubuhnya menjadi lemas.


Aku bertanya pada diriku sendiri, tentang kenapa Noe begitu ingin aku menikmati suasana bermain, aku merasa ini tidak terlalu buruk, asal tidak melakukan hal yang norak seperti cara Noe.


Aku mengikuti Noe, berjalan menuju pantai tanpa tahu harus berbuat apa, hanya diam menatap ombak yang datang dan pecah menghantam karang. Jarang sekali aku berada di pantai ini, kecuali dengan ibu untuk mengambil foto disaat tertentu.


Noe melihat pantai ini adalah sebuah keindahan, sedangkan untukku tidak lebih dari struktur kulit bumi yang terselimuti air dan akibat dorongan angin membuatnya menjadi ombak.


Tapi tempat ini terlihat biasa saja .


"Apa yang kau lakukan Noe ?."


Bertanya aku saat melihat Noe yang memegang kepingan batu kerikil berbentuk tipis.


"Coba lihat ini ."Katanya dengan bergaya.


Melihat Noe memegang batu yang dilemparnya ke permukaan air, dengan lemparan gaya miring 45°, membuat kepingan batu tipis itu terpantul sebanyak tiga kali.

__ADS_1


Apa yang Noe lakukan membuat dirinya sedikit mengagumkan. Tapi tidak untukku.


"Lihat kan, itu hebat ."Dia memuji dirinya sendiri dengan membusung dada.


"Tidak, kau salah, jika kau melempar dari sudut itu maka terlihat biasa saja ." Bantah aku yang menolak untuk memuji lelaki norak itu.


Aku mencari kepingan batu lain, saat aku memegang kepingan batu yang lebih tipis, bersiap dalam lempara, memiringkan sudut badan ke tiga puluh derajat, lemparan sedatar mungkin ke permukaan air, menjadikan terpantul sebanyak tujuh kali.


Noe melihatnya terkejut, seperti merasa kalah oleh orang yang hanya memikirkan soal pelajaran dalam hidupnya.


Mulut Noe ternganga, "Bagaimana kau melakukannya An ."


"Sudah aku katakan, sudut kemiringan tubuh dan pelemparan sedatar mungkin akan bisa membuatnya terpantul lebih banyak ." Kata aku yang menjelaskan setiap teori itu.


Noe seperti ingin menangis saat memikirkan semua angka dan kalimat-kalimat asing dari tanah antah berantah, aku tidak tega melihat lelaki itu, aku mendekat dan menepuk pundaknya kemudian berkata


.


"Tenang saja, aku tidak pernah merasa bahwa aku hebat dalam bidang ini ." Kata aku dengan sedikit merendah.


"Jadi maksudmu aku lebih bodoh dari orang yang tidak bisa melakukannya, " kata Noe yang tampak marah .


"Ya sepertinya begitu ."


Itu pertama kalinya aku melakukan hal lain selain buku dan pelajaran, ditemani berbagai bentuk awan disetiap ketinggiannya, atau pun pantai yang sepu dengan ombak timbul tenggelam.


Aku sadar akan banyak hal yang tidak diketahui tentang dunia ini, mustahil aku mengatakan, kalau aku mengetahui setiap hal di dalam dunia yang begitu luas, dan angkasa di atas bumi masih memiliki banyak hal dipenuhi misteri.


Bercerita tentang semua yang aku lakukan kepada ibuku, melihatnya tersenyum aku sedikit bingung, apa yang membuatnya tersenyum dan ibu mengatakan.


"Lihat, masih banyak hal yang menyenangkan." Kata ibuku yang tersenyum lepas .


"Ya, ibu ."Aku pun ikut tersenyum.


Terus berulang, ibu selalu pergi ke rumah sakit, bahkan terkadang menginap disana, mungkin juga ruang perawatan sudah menjadi rumah kedua untuk ibu.

__ADS_1


__ADS_2