
Jika ada yang mempertanyakan kenapa aku absen sebelumnya, itu jelas sangat aneh, bahkan ketika aku muncul, hampir tidak ada ekspresi terkejut, senang, apa lagi sedih, mereka menatapku tanpa ekspresi dan berkata.... "Oh kau sudah berangkat Yoan, aku hampir menelpon polisi."
"Untuk apa kau menghubungi polisi, apa aku melakukan kejahatan."
"Tidak juga hanya untuk seru-seruan saja."
Teman-teman dari kelas ku, hampir tidak perduli apa aku akan datang atau tidak, mereka berpikir bahwa bukan hal penting untuk aku berangkat ke sekolah, karena sudah terlalu pintar.
Guru pelajaran produktif memasuki ruangan, tanpa pernah aku sadari, jika hari ini ada diskusi persentasi, itu terjadi ketika aku tidak masuk sekolah di hari kemarin.
Jika di dalam sebuah diskusi aku lebih memilih untuk diam, itu berarti aku sudah memikirkan cara yang terbaik dalam menyelesaikan masalah, mempertimbangkan setiap konsep dan opini yang sudah matang untuk mencari solusi.
tapi seakan aku tidak di perdulikan, mereka saling berargumen dengan bahan yang sudah di siapkan.
Melihat perdebatan antara masing-masing dari mereka aku cukup menikmati waktu, terlebih Sina terbilang sangat ngotot untuk membalas semua ucapan dari wanita itu.
"Di dalam laporan ku ini, aku sudah mempertimbangkan tentang semua jumlah pasca produksi saat kita memulai pelaksanaan dari bahan baku, untung dan rugi kita hitung dengan serinci mungkin agar perbandingan yang kita dapat jauh lebih efektif." Kata seorang wanita dengan nada bicara keras,
Itu yang di sampaikan oleh salah satu temanku yang kita sebut saja dengan teman Yu, karena dia bernama Yuzuki, karena dia tidak ingin di panggil dengan nama panjang itu, maka kami satu kelas sepakat dengan nama panggilan terbaik menurut inisial saja. Entah apa alasan di balik nama yang di miliki olehnya, hanya saja dia sangat marah saat seseorang memanggilnya dengan panggilan itu, mungkin karena namanya terdengar feminim, padahal kedua orang tuanya berasal dari pedesaan, sungguh arus globalisasi sudah mengubah nama seseorang,
"Apa kau sudah memperhatikan kalau perumusan jumlah masuk dan saat produksi, pastinya ada yang terbuang, sedangkan apa kau tahu bahan yang kau pilih itu memiliki beberapa kekurangan, banyak yang terbuang dan kita membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengolahnya." Sina menjawabnya dengan tegang dan suara keras,
Aku sendiri sedikit terkejut mendengar mereka saling berdebat, kedua perempuan ini sungguh menakutkan, sedangkan untuk ketua diskusi atau moderatornya ini hanya bisa meminta maaf,
"Maaf, maaf, tolong ....maaaf , anu ..maaf, bisa lebih tenang, karena kita hanya melakukan simulasi produktif saja." Meminta maaf Rina berulang kali,
"sudahlah Rina, kau coba mengehentikan pertengkaran mereka itu akan percuma, karena keduanya tidak seperti berdebat karena pelajaran, melainkan masalah pribadi."
__ADS_1
Aku melihatnya tampak ingin tertawa, ya semua wanita di tempat ini memiliki berbagai macam karakteristik unik dan aneh, aneh di sini adalah kepribadian mereka, ya sungguh menakutkan, sedangkan inilah saatnya aku bertindak,
Tapi suasana benar-benar menjadi panas, entah Yu yang tidak mau kalah, atau Sina yang sejak awal memang keras kepala, keduanya seperti dua batu saling berbenturan.
"aku keberatan ." Teriak aku mengangkat tangan,
Semua murid melihat, bahkan ibu guru yang sudah terbiasa denganku pun sangat serius melihat.
"Ia, silakan saudara Yoan." Kata ibu guru dengan formal.
"Maaf ibu, saya tidak pernah tahu kalau kita itu saudara ." Jawab aku setelah Ibu guru mempersilakan aku berbicara,
Saat aku menjawabnya, dia malah melemparkan buku yang ada di atas mejanya,
"Cepat katakan pendapatmu ." Teriak Ibu guru mengubah suasana,
"Aku tidak ingin mengutarakan pendapatku Bu, hanya saja tolong jangan memberikan semua lembar proposal dari ke enam kelompok ini ke meja ku, pikiran ku terlalu berat untuk mengurus semuanya."Kata aku dengan wajah lemas.
"Aku tak merasa kalau kau itu harus di kasihani ." Jawabnya dengan wajah penuh dengan emosi,
"Pastinya begitu." Pasrah aku menerima.
Saat aku menggumam semua orang terlihat tampak menjadi lebih santai dan tersenyum, hingga pada akhirnya suara bel berkumandang dari sepiker sekolah, semua yang dari tadi menahan nafas dan di penuhi ketegangan mulai bisa mengeluarkan tekanan itu,
lepas semua kegiatan dari diskusi kelompok yang jelas memiliki masalah pribadi, satu lelaki datang mendekat.
"Hey, An apa kau hari ini ada waktu ."Noe menyapa dengan pertanyaan to the pointm
__ADS_1
"Maaf aku sudah ada janji dengan Sina, setelah pulang. " Aku menjawab ajakan noe dengan penolakan halus, sedangkan noe masih bersikeras meminta.
"Ayolah, Sina mah urusan gampang ." Kata Noe dengan berani.
Saat dia mengatakan hal itu, sosok seram dengan aura mengerikan muncul dari balik badan.
"Apa kau ingin bermasalah dengan Sina." balas aku yang merasa takut sendiri.
"Ah tentu saja tidak, tapi kalau kau yang mengatakan tidak bisa ke Sina dia pasti akan mengerti ." Jawabnya dengan sombong,
Aku mencoba memberitahu dengan mengacungkan telunjuk ke arah belakang, tapi dia tetap menghiraukan kode itu."
"Kenapa dengan tanganmu, dan juga wajah seperti orang salah makan." Bertanya Noe,
Aku tidak bisa menjawab.
"Ayolah." Kata Noe yang masih tidak mengerti,
Noe masih tidak sadar dengan apa yang ada di balik badannya, aku sendiri tidak ingin melihat kejadian di mana sina marah, karena aku mengingkari janji.
"kau...." ucapan Noe terhenti ketika akan mengatakan sesuatu,
Pada akhirnya Sina memukul telah Noe hingga terjauh dan tidak berdaya, pukulan k.o itu memang efektif untuk menjatuhkan musuh .
"Kau tidak boleh ingkar janji." Kata Sina dengan nada mengancam,
Sina menunjukku, sejumlah aura kegelapan muncul di sekitar tubuhnya, ini bagiku pertanda buruk jika aku melawan,
__ADS_1
"Ya ." Aku lemas dan tidak berdaya.
seakan Sina masih terbawa emosi karena pertengkaran sebelumnya, perihal simulasi produktif saja bisa menjadi bahan perdebatan panjang, apa lagi dia harus di dunia kerja yang nyata. bisa selesai direktur kena marah olehnya.