
Sesungguhnya aku tidak pernah berpikir dan bertanya, kenapa sekarang aku bisa merasakan sebuah kehidupan, apa yang aku maksudkan dari kehidupan itu adalah sebuah rasa dari keinginan, impian, semangat, ketakutan, bahagia, cinta, sakit, benci dan penderitaan.
Mengatakan seperti apa aku dimasa lalu, aku tidak bisa mengerti senyum yang tulus itu seperti apa, apa itu di jual di toko atau mungkin bisa di beli secara Online. Ya sejak dulu aku tidak bisa melihat diriku tersenyum atau bisa di katakan menikmati kebahagiaan, seperti yang aku rasakan saat ini.
Melihat sang adik yang terdiam memandangi kami berdua dari balik pintu saat dia membukanya, mungkin pertanyaan yang akan dia sampaikan untukku adalah..
“Siapa gadis itu, di mana kakak menculiknya, apa karena tidak laku sehingga kakak melakukan perbuatan tidak berperikemanusiaan ini dan juga apa kakak ini manusia ?.” Ini yang aku pikirkan.
Dan mungkin deretan pertanyaan itu yang akan di ajukan oleh Nagisa kepadaku, entah mungkin hanya sekedar menebak dan tidak tahu seperti apa jadinya.
"Sejak kapan kakak menjadi penjahat seperti ini ." Kata Nagisa dengan wajahnya melihat jijik.
Aku sedikit senang tebakanku tepat sasaran, hanya saja kesalahpahaman adikku ini begitu keterlaluan.
"Tidak, tidak, kakak tidak mungkin melakukan hal semacam itu ."Bantah aku menyangkal perkataannya.
Nagisa melihat wanita yang menggandeng tangan kiriku, di berdiri menghadap tanpa menyapa, ya mungkin Nagisa heran dengan sikapnya itu, tapi itu pun karena dia tidak tahu.
"Jadi siapa dia kak ." Tanya Nagisa yang masih melihatku seperti itu.
"Ah, ..."
Bahkan sebelum aku memperkenalkan siapa gadis cantik yang menggandeng tanganku ini, dia sudah memperkenalkan dirinya dengan menghadap ke arah yang salah.
"Perkenalkan, ...," Kata Si nona yang melihat ke arah kiri.
"Ke kanan sepuluh derajat nona ." Kata aku memberikan petunjuk arah kepada si nona.
Masih dalam memperkenalkan dirinya, langsung membenarkan posisi arah dari tatapannya.
"Ah, kau adik dari dia yah ." Kata Nona itu dengan tersenyum.
__ADS_1
"Dia ...?, kenapa kau memanggil kakakku dengan dia ."Tanya Nagisa yang memang jawabannya masih pertanyaan.
Nona itu tersenyum dengan wajah cantik itu dan berkata..."Karena dia tidak mau memperkenalkan namanya, " Sungguh jelas jawabannya.
Nagisa memandang aneh kepadaku, memang sebuah perilaku yang susah untuk di mengerti, biarkanlah. Tapi tetap sungguh sedikit aneh jika adikku memikirkan kalau kakaknya itu orang aneh yang mengajak seorang wanita asing ke rumah tanpa tahu siapa dirinya itu.
"Mbak, jangan terlalu percaya kepada laki laki seperti kakakku ini " Kata Nagisa dengan sedikit berbisik.
Aku sempat berpikir dia akan mengatakan hal yang aneh, ternyata memang benar.
"Adikku, jangan mengatakan kalau kakakmu ini seorang bajingan, " Teriak aku menangkal perkataan Nagisa.
"Memang kenyataannya begitu, " Jawab Nagisa tanpa melihat ke arahku.
"Minta maaflah kepada semua orang baik di dunia ini ." Kata aku dengan sedikit murung.
"Ya, ya, ya ."
"Jadi kenapa kakak membawa mbak ini ke rumah ?." Kata Nagisa dengan wajahnya menakutkan.
"Bagaimana ya ?," Aku berpikir mencari alasan.
Aku mencoba menjelaskan seminimal mungkin, agar tidak terjadi kesalahpahaman saat adik perempuanku ini mendengar dengan seksama.
"Cepatlah, jangan terlalu banyak berpikir ." Semakin menakutkan saja dia dengan tatapan mengancam.
"Ah, kalau begitu, karena dia sendirian di rumah, aku mengajaknya ke sini ." Itu Yang aku katakan.
"Oh, bukan seorang penculik ternyata , tapi sekarang kau menjadi penguntit yah kak ."
Sungguh menusuk perkataan adikku ini
__ADS_1
Sungguh dia memang sangat seenaknya sendiri.
Si nona mendekatkan telingaku ke bibirnya, dan berbisik...."Lucu sekali adikmu ."
"Menurutmu begitu, bagaimana kalau tukarkan saja dengan sepasang sandalmu ." Kata aku dengan berbisik ke telinga nona ini.
Melihat dia tertawa saat mendengar perkataanku dan merasakan aura kesal dari Nagisa yang ternyata mendengar suara lirih dari bibirku.
"Ah, Jika begitu, ...mbak kau bisa membawa kakakku ini sediakan saja kandang dan rumput pastinya dia akan menjadi tumbuh besar ." Nada bicara Nagisa dengan marah.
"Kau itu memang ...." Kata aku sedikit kesal.
"Hmmmmph ." Nagisa cemberut.
Melihatnya seperti itu aku tidak bisa apa apa hanya saja Rea tampak menikmati setiap perkataan yang dia dengarkan, tentunya itu adalah sarana untuk menyakiti hatiku.
"Nah, mau sampai kapan kau akan tertawa nona, ayo kita masuk ." Kata aku dengan menarik tangannya.
"Maafkan aku, "
Senyuman yang pasti tidak pernah dia keluarkan saat berada di rumah besar sepi itu, aku merasakan sebuah rasa dari tawa yang dia rindukan, bahkan saat memasuki rumah yang dia katakan...."Wah, hangat, aromanya seperti foto, "
Nona dengan tersenyum menikmatinya,Ya memang dekat dari pintu masuk adalah ruang galeri dari ibuku, aroma bingkai kayu dan foto lama. Tentunya terasa, tapi kehangatan yang dia katakan adalah sesuatu yang tidak pernah di rasakan di dalam rumahnya. Mungkin seperti dinginnya AC atau pun lemari es super besar membuat suasana hangat menjadi lenyap, berharap sejuk pun percuma saat tidak ada lainnya untuk merasakan kesejukan bersama.
"Apa kau tahu, jika bisa menukarkan setiap hal yang aku miliki untuk sekedar kehangatan seperti ini pun aku rela ." Kata si nona dengan wajahnya yang begitu sedih.
Kenapa dia menginginkan hal seperti ini, aku tidak bisa mengatakan kepadanya, ini sebuah kehangatan yang aku dapatkan beberapa minggu lalu. Sedangkan tiga tahun apa yang aku lalui, tidur di lantai dengan berselimut semua foto. Tentang cerita sang ibu yang menghangatkan lantai dingin tempatku tidur untuk mendengar semua ceritanya, lewat bingkai dan fotonya.
"Jangan pernah melihat sebuah hasil tanpa tahu seperti apa prosesnya nona ." Kata aku dengan sedikit sedih pula.
"Ya, aku tahu, kau sudah menjalani hidup yang berat ." jawabnya seakan paham apa yang sudah aku jalani sepanjang kehidupan ini.
__ADS_1
aku tersenyum, sedikit bahagia karena tahu bahwa ada orang lain yang bisa memahami rasa kesepian dalam hatiku.