Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
sebuah roket menuju bulan


__ADS_3

Malam ini aku tidak bisa tidur, seakan mataku menolak untuk terpejam, terjaga sendirian disaat semua orang sudah bermimpi indah. aku melihat jam pukul sepuluh malam dan setiap ruangan tampak begitu sepi, tidak ada suara sedikit pun, aku merasa kegiatan tadi siang sudah membuatku lelah.


Hanya saja, aku masih tetap tidak bisa memejamkan mata. segera mengambil jaket dan ponsel, berjalan keluar untuk menyejukkan pikiran.


Disekitar kompleks ini, ketika waktu tidur datang, sangat jarang ada orang keluar malam, aku sendirian, apa yang aku pikirkan hanya untuk bersantai dan menikmati suasana malam hari,


"Sepinya ." Gumamku,


Membuka ponsel dan memutarkan musik, sebuah lagu yang berjudul 'I wanna miss a think', sungguh menambah sejuk suasana malam, perlahan melihat sebuah supermarket tujuh sebelas.


"Aa mungkin sedikit camilan lebih enak ."


Secara perlahan melihat sekeliling toko semua tampak sedikit sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang masih duduk di meja luar, saat aku masuk dari depan kasir menyambutku dengan senyuman dan kata,


"Ssee ...Sseell....Sseellammmat mahallahmm." Suara yang terdengar begitu gugup.


Entah kenapa aku seperti pernah mendengar suara itu dan kata selanjutnya lebih memperjelas siapa pemilik suara yang dengan ragu-ragu untuk berbicara,


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku ."


"Jangan bicara dengan gugup, kau itu sudah dua bulan kerja masih saja terlihat kebingungan." kasir sebelah angkat bicara.


Dari jarak sekitar dua meter, aku tahu siapa penjaga kasir bertuliskan karyawan magang itu, dia adalah Rina dan mengatakan seperti biasa.


"Maafkan aku, maafkan aku ."


Mendekat ke arah kasir, Rina sudah jelas terlihat gugup ketika aku berjalan untuk mendekat dan menyodorkan makanan kecil yang sudah aku pilih,


"Jangan cuma meminta maaf, tolong struk nya ." Kata aku.


Rina melihatku, dia mengangguk dan masih terlihat sifat yang pemalu seperti biasa, walau pun begitu dia hanya akan malu kalau berada di lingkungan luar dari rumah.


Ketika dia sedang melakukan tugasnya aku sedikit bertanya..."Apa sebegitu perlunya untuk kau kerja seperti ini, di hari biasa kau kerja larut di supermarket dan di akhir pekan bekerja di kafe itu ." Bertanya aku saat melihatnya bekerja. Rina memberikan struk pembayaran dari apa yang aku beli, dengan menunduk dia menjawab apa yang aku tanyakan.... "Maaf tapi aku hanya tidak ingin menjadi beban lebih untuk ayah, dan ibu yang sekarang sedang sakit, mustahil aku hanya diam dan melihat saja ." Jawabnya dengan menunduk.


Aku mengerti seperti apa kehidupan sengsara Rina, sejauh ini memang dia tidak pernah menyerah untuk memilih sesuatu, walau terkadang keraguan muncul karena sebuah keterbatasan, tapi dia pasti berusaha untuk menutupinya.

__ADS_1


"Jangan terlalu keras untuk bekerja, setidaknya jaga kesehatanmu sebentar lagi ujian kenaikan kelas dan ini langkah terakhir jika kau ingin mendapatkan beasiswa."


Aku sedikit menyemangati, apa yang aku lihat dia hanya mengangguk, menutupi wajah dengan poni panjang itu, tempat ini terlihat tidaklah ramai, hanya tinggal beberapa orang masih duduk di meja depan toko,


"Rina jam berapa kau pulang ." Bertanya aku yang masih berdiri di depan kasir, saat dia mengangkat wajah, melihatku dan menjawab,


"Maaf sekitar jam 11 ini ." Jawabnya segera menundukkan wajah kembali.


"Aku akan mengantarmu."


Aku hanya merasa sedikit khawatir jika melihat seorang gadis pulang selarut ini, dan juga rumahnya sedikit jauh untuk berjalan kaki sendirian,


"Tidak perlu, "


"Tak apa, aku sendiri sedang tidak melakukan apa pun ."


Sebenarnya kalau Rina sedikit berani untuk percaya diri dan tidak menutup dirinya dari lingkungan di sekitar, dia adalah gadis yang cukup untuk pantas diperhitungkan untuk menjadi pacar oleh setiap lelaki.


"Aku akan menunggu di luar ." Kata aku yang berjalan pergi, dan dia mengangguk perlahan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab.


"masih ada setengah jam ." Gumamku berjalan pergi,


Dalam setiap langkahku aku bisa merasakan seberapa dingin angin darat yang menghembus ke arah laut lepas. syukurlah aku sudah mengenakan jaket ini, bahkan seperti sebuah kebetulan dari ponsel yang memutar musik terdengar sebuah lagu dari Band lokal, lirik sama seperti yang aku lakukan di tepian pantai, bibirku menggumamkan lagunya, suara lirih seperti terbawa pergi walau pun begitu, aku tidak tahu apa lagu ini akan sama seperti hatiku yang merasakan rindu kepada seseorang.


Menikmati semua keindahan yang terus berputar membuatku melupakan waktu, langit yang gelap, bulan putih terang dan semua bintang di atas kepala. Sungguh aku merasa begitu menikmati waktu ditempat ini.


Tanpa aku sadari Rina sudah berdiri di belakangku, sampai terkejut , karena aura kehadiran Rina hampir tidak terasa sama sekali,


"Sejak kapan kau berada di belakang ." Terkejut aku mengatakannya,


"Maaf, aku takut mengganggumu An, jadi aku tidak berani ." Jawabnya yang terkejut pula.


Aku sedikit bingung melihat Rina, dia terlalu memikirkan orang lain, dia terlalu baik dan sangat kuat dengan mimpinya. Jika aku bandingkan dengan Rina, aku sadar dengan diriku sendiri, aku orang yang masih terdiam di dalam kehidupan, tanpa berpikir akan seperti apa nanti di masa depan.


"Ayo, aku antar kau pulang ." Kata aku yang berdiri,

__ADS_1


Dia mengangguk dan berjalan di samping sebelah kiriku.


Dengan malu malu dia bertanya... "Mmm anu ...maaf aku ingin tahu apa yang kau dengarkan An ."


"Aahh ini, coba dengarkan ini, lagu Like we used to." Kata aku yang tentunya menikmati musik ini.


Aku menempelkan handset ke telinga sebelah kanannya, wajahnya memerah dan menunduk,


"Indah, siapa yang menyanyikannya ." Kata Rina tanpa meminta maaf seperti biasanya,


"Ah ini dari grup band A rocket to the moon ." Jawab aku,


"Namanya lucu, sebuah roket menuju bulan." Rina tertawa lepas


"Ya aku sendiri pun tidak menyangka dari namanya yang seperti itu, lagu ini sangat menyentuh sekali, "


Sungguh suasana malam yang sangat tidak biasa, bahkan dia sampai melupakan kebiasaannya untuk meminta maaf .


Jika ada seseorang yang melihat kami berjalan berdua seperti ini, pastinya akan menimbulkan sebuah kesalahpahaman, walau pun begitu setiap orang di sekitar, sudah tahu siapa aku dan mereka pula tidak akan menuduh sembarangan.


Melihat Rina begitu menikmati musik dari handphone ponsel, aku tidak begitu banyak bicara, hanya berjalan dan menemaninya saja, tanpa aku sadari dia bertanya kepadaku,


"An ...An.."


"Ah kenapa ?."


Wajahnya berubah merah saat wajahku aku dekatkan ke arahnya, secara tiba tiba berpaling dan seperti tidak ingin melihat.


"Ah tidak, terima kasih sudah mengantarku, tapi rumahku sudah terlewat ." Katanya dengan wajah memerah,


"Maaf kalau begitu ." Balas aku tersenyum,


Dengan senyuman dia pergi masuk ke dalam rumahnya, aku sedikit lama melihat rumahnya itu, cukup sederhana, bahkan aku bisa menyebutnya rumah 'S3' Santai Saja Susah, dengan semua adik adiknya aku bisa tahu dia wanita yang sangat hebat,


"Sudah terlalu malam, sebaiknya aku pulang ." Gumam aku melihat sekeliling,

__ADS_1


Di tempat ini sedikit terasa begitu menyejukkan, dengan semua pohon kelapa yang menyebar banyak di sekitarku, walau lumayan jauh dari bibir pantai aku masih bisa mendengar deruan ombaknya, sekitar tiga ratus meter, aku menyukai tempat tinggalku yang seperti ini, hingga saat ini aku tidak merasa bosan untuk menikmatinya,


__ADS_2