Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
Tidak seperti biasanya


__ADS_3

Aku mengeluarkan sebuah kertas dengan gambar dua wanita, itu adalah foto yang ditemukan oleh Noe saat membuka album lama di dalam rak kamar. Om Nuo mengambil, wajahnya sedikit terkejut dan beberapa saat kemudian tertawa lepas.


"Di mana kau menemukan foto ini ."Bertanya Om Nuo dengan wajah tersenyum.


"Ah, itu di dalam kamarku, aku sendiri pun tidak tahu kalau aku memiliki foto itu, " Kata aku menjawab apa yang di tanyakan Om ini.


Melihat Sina masih berbincang ke sana kemari dengan bapak satpam setengah tua yang sama sama saling meminta maaf, sedangkan aku menunggu setiap kata yang akan di ucapkan oleh om ku ini,


"Aku yang memotret foto ini, saat itu ...." Kata Om Nuo yang terus melihat foto itu,


Aku memotong perkataan si Om, "Tunggu sebentar, jika apa yang Om katakan itu cuma prolog dan itu tidak penting tolong langsung saja jawab apa yang akan aku tanyakan ."


"Kau itu.... paling tidak kau harus mendengarkan ceritaku sebentar saja ." Jawabnya dengan lemas,


Om ku ini sifatnya memang sedikit kasar, termasuk saat ini dia memukul dengan buku yang ada tepat di sebelah, entah berapa dia menceritakan hal tidak penting bahkan aku sampai merasa mual, jika terus mendengar masalah pribadi yang bisa dibilang sebuah curhat,


"Jadi kau tahu An, ibumu itu selalu...."


"Sudah cukup, jika aku mendengarkan cerita ini lagi aku akan pulang malam ." Kata aku yang sudah merasa bosan mendengarnya,


Sudah hampir dua jam aku mendengarkan curhatan itu, bahkan sina sudah kembali dari kegiatannya di mall dan kembali untuk bertemu, melihat wajahku yang sudah tidak tahan dan bahkan sudah memuntahkan sebagian makan siang sebelumnya


"Ah, maaf maaf, jadi apa yang ingin kau tanyakan ." Kata Om Nuo setelah melihat jam,


Aku menunjuk wanita yang ada dalam foto, dan berdiri disebelah ibuku ini, karena aku sendiri tidak tahu siapa, jika memang bisa aku bertemu dengannya maka aku ingin mendengarkan cerita tentang ibuku. Mengetahui apa yang dia lihat di balik mata saat memandang langit.


"Ah, dia ya kalau tidak salah namanya adalah ....Tina Rose, " Kata Omku setelah lama berpikir,


"Aku memang tidak pernah mendengarnya, tapi sepertinya wajah ini sangat tidak asing untukku ." Sedikit aku ikut berpikir


Dan tanpa membawa informasi tentang sosoknya, menanyakan alamat dan hal lain sebagai pun tidak menemukan jawaban. Sehingga dalam waktu tiga jam lebih, aku hanya menghabiskan waktu untuk mendengar semua keluh kesah dan curhatan hati om Nuo. memperhatikan seluk beluk wajah yang memang tidak asing, tapi entah seperti ada yang mengganjal di dalam pikiran, aku tidak bisa mengingat apa pun tentang wajah gadis di samping ibuku ini.


"Hey An, kenapa kau begitu ingin tahu siapa dia ." Kata Sina melihat foto di tangan, Sina bertanya seperti itu dengan santai.


Berjalan berdampingan bersama, langkah demi langkah ini terasa aneh untukku, seperti berjalan dengan orang lain.


"Ah, kalau dia adalah sahabat dari ibuku, aku ingin tahu, seperti apa ibu di masa mudanya, apa yang terlintas di pandangan mata dari Ibu, karena untuk aku sendiri mata yang memandang langit, begitu jauh bahkan aku tidak bisa melihat tujuannya ." jawabku dengan sedikit lemas,

__ADS_1


"Oohhh." Hanya tanggapan itu yang di keluarkan sina.


sedikit sadar aku seakan sedang berjalan dengan orang lain, merasakan langkah kaki yang begitu berbeda dan tidak seperti biasa, aku tidak mengerti kenapa aku beranggapan seperti ini,


"Hey Sina, bagaimana dengan pacarmu ." Kata aku tanpa pikir panjang,


"Pacar, aku tidak sedang pacaran ." Jawaban yang sangat biasa,


Aku tidak ingin melihat sina, aku sendiri pun sedang menikmati langkah kaki dengan menghitung berapa banyak rumput yang aku injak .


"Bukannya kemarin ada yang menyatakan perasaannya kepadamu ."Kata aku melihat wajah Sina,


"Ah itu, aku menolaknya, " Ekspresi yang datar dari wajahnya ketika menjawab,


"Kenapa ?."


"Ya, aku sedang ingin mengikuti hidup damai seperti ini dan tidak ingin membiarkan orang lain merusaknya." Itu jawaban dari pertanyaan singkatku,


Aku bertanya demikian seperti ingin mendengar alasan di balik itu semua, sedikit alasan aku mengerti karakteristik dari Sina, dia seperti orang yang tidak akan menolak apa yang tepat didepan mata, tapi seperti dia memang sudah berubah.


"...?"Wajahnya menunjukkan tanda tanya .


sina tidak mengerti maksud dari perkataanku .


"Aku tidak pernah mendengar perkataan bagus dari Sina, jadi siapa kau sebenarnya, tunjukan dirimu setan, siluman, hantu, alien." Kata aku yang masih tidak percaya,


"Jangan menganggapku wanita yang tidak tahu diri, An ." Jawabannya dengan keras.


"Tapi tidak seperti biasanya, apa yang kau makan beberapa hari ini ." Tanyaku yang tentu masih tidak bisa mempercayainya,


Dia tersenyum dan berjalan lebih cepat dengan tangan yang saling menggenggam di belakang dan berkata... "Hidup itu tidak bisa di tebak seperti apa kita nanti, entah itu esok atau pun minggu depan, itu masih misteri dan aku masih ingin merasakan seperti apa sensasinya, tanpa berubah atau pun terobsesi dengan sesuatu yang membuat aku berubah, ya seperti ini pun sudah cukup."


Aku mengerti, dia hanya berharap tidak pernah kehilangan waktu yang berharga hanya karena pacaran atau pun melakukan sesuatu hal yang tidak penting,


"Ya mungkin kau benar ."


Aku membalas perkataannya, dan melompat melewatinya, semua secara sederhana berubah menjadi lebih baik di dalam hidupku, aku memang masih belum bisa memaafkan diriku sendiri karena menghancurkan harapan dari ayah dan ibuku dan aku sendiri tentunya,

__ADS_1


"Hey Sina, apa kau itu membenci adikku ." Tanya aku tanpa melihat wajah Sina,


Dia melihatku, walau bukan wajah marah atau menjengkelkan tapi dengan raut wajah bingung,


"Aku tidak membencinya, tapi apa kau ingat An dulu dia pernah mengatakan, aku tidak akan membiarkan kakakku di ambil olehmu, sungguh saat itu Nagisa begitu lucu ." Jawaban Sina dengan tersenyum,


"Tentu saja, karena kakaknya ini sangat tampan, "


Sina tersenyum dan mendorongku, untungnya aku tidak sampai terjauh.


saat aku melihat wajah merah yang dia palingkan karena tidak berani menatap dan dia tidak tahan di lihat terlalu lama,


"An, hari Sabtu jangan lupa dengan janjimu, " Kata sina tanpa melihatku,


"Ya, ya, dan juga itu masih tiga hari lagi ." Kata aku dengan santainya,


"Intinya, jika kau melupakannya, janji itu akan bertambah ." Tegas Sina.


Ini tentang taruhan yang mengatakan untuk saling memberikan satu permintaan mutlak, walau pun begitu dalam hal yang masih lazim di lakukan, saat itu seharusnya aku sadar kalau aku melawan lebih dari satu orang, karena dari awal rintangan aku tidak merasakan ada keanehan karena aku sudah terjebak di awal aku tidak bisa mengelak untuk jatuh disaat terakhir,


"Ya, ya, ya ." Dia akan selalu seperti ini.


Seorang wanita yang kuat dan keras kepala, wanita hebat penuh dengan semangat, apa yang membuatnya tidak ingin mengubah keadaan yang menyelimuti kehidupannya, entahlah tapi jika aku berada di dalam posisi seperti dirinya mungkin alasanku.


“Karena aku sudah merasa nyaman dengan keadaan yang aku miliki saat ini, aku tahu setiap waktu pasti semua orang akan berpikir untuk mengubahnya, tapi aku lebih ingin menikmati ini semua lebih lama lagi, aku tidak ingin mengubahnya hingga saat di mana waktu akan mengubahnya dan keadaan akan menunjukkan semuanya .” Itu adalah yang aku pikirkan,


Jika dia adalah aku, aku akan memikirkan hal itu, sedikit aku menggumam di saat langit semakin terik dan matahari sudah semiring 30 derajat ke arah barat,


"Tidak ingin kehilangan kah....." gumam ku,


sepertinya, Sina yang ada di depanku mengerti aku bergumam, dia menoleh ke belakang dan berkata,


"Apa yang kau katakan ." Tanya Sina yang melihatku,


Aku menggeleng, sedikit tersenyum, mengangkat tangan sedikit ke samping kanan untuk menahan silau cahaya senja dan aku berkata,


"Tidak, bukan apa apa ." Ya, itu adalah jawabanku,

__ADS_1


__ADS_2