Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
hidup kembali


__ADS_3

Pagi ini mata masih terasa begitu berat untuk terbuka secara sempurna, mengingat semalam aku yang pulang hingga pukul satu dini hari, terlalu menikmati suasana sepoi-sepoi di pantai dan inilah akibatnya,


"Kak apa yang kau lakukan tadi malam, " Pertanyaan dari adikku yang melihatku curiga,


"Ah..apa ?."


Aku tidak begitu jelas mendengar apa yang di katakan oleh Nagisa, sedangkan Rin masih tidak mau melepaskan pelukannya, ya hari ini Tita dan Rin harus pulang ke tokyo karena dia tidak bisa terlalu lama tinggal di sini.


"Apa yang kau lakukan tadi malam, saat aku melihat ke kamar, kakak tidak ada." Kata Nagisa yang masih melihatku aneh,


"Ah, aku pergi ke pantai ." Aku menjawabnya dengan nada tidak bersemangat, Tita yang melihatku masih mengantuk tersenyum dan berkata,


"Apa kakak tidak bertemu dengan wanita lain ." Kata Tita dengan tiba tiba.


"Dari mana kau tahu ." Aku terkejut


Nagisa dan Tita terdiam mendengar jawabanku dengan sorot mata seakan melihat seonggok sampah di depannya.


"Dengan siapa kau keluar ." Pertanyaannya membuatku merasa kalau Nagisa marah, sungguh menyakitkan rasa ketika dia terlihat cemberut, jika aku tidak menjelaskan apa yang aku lakukan tadi malam.


"Aku mengantar Rina pulang, tadi malam kakak tidak bisa tidur, akhirnya kakak keluar rumah, saat mampir ke supermarket, ternyata Rina kerja paruh waktu di sana, jadi kakak tidak enak melihatnya pulang sendirian, dan seterusnya, tidak terjadi apa pun." Perjelas aku untuk membuat masalah ini lurus.


"Sungguh ."


Semuanya memandangku tajam, bahkan termasuk Rin yang masih tidak melepaskan tangannya.


"Kenapa kalian terlihat begitu curiga, apa aku ini penjahat."


"Mungkin karena kami perhatian " Jawaban Tita


Mereka tersenyum saat mengatakannya,

__ADS_1


"Terima kasih atas perhatiannya ." Kata aku dengan lemas.


aku menganggap ini bukan lagi perhatian namanya, lebih ke curiga, aku menghela nafas dan menghembuskan dengan berat, sungguh mereka sangat menyusahkan, sebagai adikatau sebagai perempuan.


"Ayo, Rin kita pulang ." Kata Tita yang menarik Rin dari pelukannya,


Rin masih memeluk dan memegangi bajuku, menggeleng menolak ajakan dari Tita untuk pulang, tapi dia berkata,"Rin gak mau pulang, Rin mau main sama kakak An ."


Aku sebenarnya tidak tega melihat Rin yang menggeleng dan memaksa untuk tetap di sini, tapi jika memang Rin tidak pulang, itu membuatku bingung saat tidak ada seorang pun yang menemani mereka ketika kami bersekolah,


"Rin, mbak Tita mau pulang Rin ikut yah, nanti kakak juga pulang ke tokyo sama mbak nagisa ." Kata aku membuat semua orang terkejut,


Semuanya melihatku, walau aku berniat untuk pulang ke sana tapi itu pun karena ada alasan tertentu,


"Benarkah " Kata Tita.


"Benarkah. “Kata Nagisa dengan bersamaan,


"Ada apa dengan kalian, apa salah kakak ingin bertemu dengan ayah," Jawab aku melihat mereka berdua begitu senang,


"Aaahh tidak, hanya saja ." Tita tidak melanjutkan perkataannya dan tersenyum,


Jika mereka katakan hal aneh, ya itu adalah perasaan mereka yang memang benar dan sedikit aneh karena sudah bertahun tahun aku tidak ingin bertemu dengan ayahku, sedangkan saat ini aku berniat menemuinya,


"Ya, kakak bertemu dengan ayah karena ada yang ingin kakak bicarakan." Perjelas aku kepada mereka berdua,


Semuanya terdiam, dan rin pun akhirnya mau di bujuk, melihat wajah mereka yang termenung karena merasa begitu berat untuk pergi, ya walau hanya sebentar aku sendiri mengerti seperti apa rasanya terpisah,


"Ah, ayo kita berfoto, " Usul Tita,


"Ah itu ide bagus, "Jawab Nagisa,

__ADS_1


Nagisa dengan cepat masuk ke dalam rumah dan mengambil kamera yang aku simpan dalam kamarku, apa yang aku lihat dari lensa kamera adalah pemandangan yang di sebut keluarga, tidak perlu pengaturan efek atau pun yang lainnya, semua tampak natural dengan keindahan senyum mereka bertiga, walau sebatas adik dari ibu yang berbeda aku bisa merasakannya, inilah keluargaku, hal yang berharga, sesuatu dalam kehidupanku untuk aku jaga selamanya,


Setidaknya aku mengerti sesuatu hal saat melihat ketiga adikku ini tertawa, tidak memedulikan siapa kami berdua sebenarnya, kami tidak memiliki ikatan darah layaknya saudara kandung, tapi kami telah di ikat oleh Allah dengan tali keluarga, sungguh sebuah kesempurnaan,


"Aku akan membuat bingkai untuk foto ini, " Gumamku saat memandangi foto ini,


"Nagisa, sekarang foto aku dengan kakak." Kata Tita memberikan Kamera ke Nagisa,


Permintaan Tita saat menarik tanganku, dengan ponselnya tanpa sadar saat nagisa menekan kamera, dua buah ciuman dari rin dan tita hinggap di ke dua pipiku, wajah nagisa memerah, sedikit perasaan marah dan dia berteriak,


"Jangan cium kakakku ." Teriak Nagisa berlari ke arah kami,


Dengan tertawa Tita membalas. "Dia juga kakakku ." Teriak balasan dari Tita,


Sedikit bumbu pertengkaran kakak beradik layaknya aku dengan nagisa, ya melihat kedua adikku pergi Nagisa sedikit bergumam,


"Apa seperti ini akan baik baik saja ." Gumaman yang membuatku tersenyum,


Saat nagisa mengatakan hal itu, aku mengerti seperti apa perasaannya, dia bertanya karena dia sendiri tahu seberapa rumit permasalahan Aku dan ayah.


"Ya, kakak yakin semua akan baik baik saja dan juga kakak akan melakukan apa pun agar semua tidak terulang lagi ." Kata aku melihat Nagisa dengan tatapan serius dan senyuman,


Nagisa melihat, matanya memerah seperti ingin meneteskan air mata, dengan rasa yang campur aduk di dalam hatinya dia tersenyum, melompat dan mencium pipiku, sungguh aku bahagia dengan keluargaku yang perlahan hidup kembali,


Ingatan tentang bayang-bayang masa lalu membuatku terkurung dalam rasa bersalah, aku menolak menerima kenyataan, aku menanggung dosaku sendiri, membiarkannya terombang-ambing akan ketidak pastian.


langkah kakiku membawa ke ruang galeri, mengambil sebingkai foto ibu yang ada di atas meja. duduk di kursi tempatnya menghabiskan waktu, memandangi langit yang sejurus ke laut.


aku tidak mengerti apa pun tentang diriku sendiri, hanya hidup akan rasa bersalah dan ketakutan menerima kenyataan.


tapi aku tidak bisa lagi menolaknya bahwa ibuku sudah tiada, jika aku terus menerus menghindar maka aku hanya akan berakhir pada penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2