
Nona itu seperti melihat apa yang terjadi di dalam hidupku. Aku memang pernah mengatakan kalau aku menjalani hidup yang sama seperti dirinya, tapi dia bisa mengatakan tentang kehidupan seperti melihat semuanya.
"Kenapa kau bisa yakin nona ." Tanya aku untuk memperjelas apa yang dia katakan.
"Langkah kakimu tegas, namun berat untuk berjalan , tanganmu kasar namun lembut saat memegang, suaramu merdu tapi di kemerduan itu seperti tertekan, itu yang aku rasakan kenapa aku yakin kau pasti bisa mengerti diriku ."Jawab nona itu dengan senyuman di bibir indah dan cantik itu.
Sungguh dia memang mengetahui lebih dari apa yang tidak di lihatnya, hanya mendengarkan nada suara, rasa dari tangan dan langkah kaki, seperti membaca psikologi seseorang. Fia bisa menemukan hal yang tidak bisa di lihatnya, sungguh wanita hebat yang takut untuk melihat kenyataan.
"Ya, mungkin kau benar nona, aku pun sama denganmu, aku pun takut, kalau aku melihat kenyataan tidak bisa mengubah apa pun di dalam kehidupanku."
"Kau pasti bisa, lihatlah, betapa hangat rumah ini, aku bisa merasakannya, kau berusaha menjaganya, karena kau sendiri berharap, agar keluargamu kembali dan merasakan kehangatan ini ."
Aku tersenyum dan bahkan hampir ingin menangis, melihat Nagisa yang repot sendiri menyiapkan semua makanan untuk di hidangkan kepada nona cantik yang terus menggenggam tanganku.
"Ya, aku tidak berharap lebih tentang hal ini ." Kata aku dengan sedikit tersenyum.
"Aku pun sama."
Tersenyum melangkah masuk, aku sadar mungkin satu minggu, tidak, satu tahun yang lalu aku sendirian di rumah ini. Bahkan aku sendiri masih memakan nasi sisa tadi pagi karena terlalu malas untuk memasak yang baru.
__ADS_1
Tapi saat ini di hadapanku, dia adikku dan seseorang yang mengerti tentangku ada di barisan kursi untuk makan bersama, seberapa indah saat aku merasakan hal ini, jika bisa berharap lebih, aku ingin terus seperti ini.
Aku mengambil kamera dari dalam tasku, melihat kedua gadis muda yang tertawa dengan semua makanan di atas meja, aku membidik sedikit keindahan tanpa efek, kesempurnaan, kebahagiaan, tawa, canda, kehangatan dan harapan.
Mungkin ini yang aku dan dirinya cari, kelengkapan dari sesuatu yang kurang dalam hidup kami berdua.
"Aku, sedikit mengantuk ." Aku dengan menguap untuk menutupi air mataku.
"Kakak jangan tidur di meja makan ." jawab adikku dengan tersenyum.
Ya ini hanya alasanku saja, untuk menutupi air mata yang menetes tanpa sengaja, aku tersenyum memandang wajah adik kecilku yang bahagia. Karena aku tahu kebahagiaan kecil ini adalah harapan yang ingin aku wujudkan, hingga malam dan membuat kami terlelap dalam hangatnya keluarga.
Apa yang aku temukan di samping tempatku tidur adalah sosok gundukan besar terselimut, saat ku mencoba menggerakkan tangan, sungguh terasa begitu berat, bahkan mati rasa. Mencoba melihat siapa di balik selimut ini.
saat membukanya, tentu dia adalah orang yang aku kenali, wajah yang cantik memandang ke arahku, menjadikan tangan sebagai bantalan, dia Aurora, entah kenapa kami bisa tertidur di lantai kamar ibuku dengan semua foto yang berserakan ini.
"Kenapa aku ada di sini ." Sedikit memikirkan tentang kejadian tadi malam dan itu sangat samar.
Ya aku bertanya kepada diriku sendiri, sedikit melupakan kejadian tadi malam, yang jelas aku sendirian tadi malam untuk melihat album foto dari ibuku.
__ADS_1
Tapi kejadian ini, sebuah kejadian yang tidak terduga, di mana seorang laki laki di pagi hari tidur berdua dengan seorang wanita cantik di sampingnya, sungguh aku tidak bisa membayangkannya.
Mencoba bergerak tapi tangan si nona menahannya, mencari cara untuk bergerak, kuatnya pelukan erat ini hingga tubuhku tidak bisa melepaskannya, berpikir di situasi yang rumit seperti ini menjadikan aku sulit untuk berpikir.
Melihat ke segala arah dan menemukan sebuah kaki yang berdiri di depan pintu kamar, ya melihat ke atas, dia adikku tapi sepertinya tidak ada rasa terkejut atau pun syok melihat kejadian seperti ini.
"Nagisa, kakak bisa jelaskan ." Kata aku dengan terkejut.
"Hmmp, Nagisa tahu kenapa mbak ini ada di sini, " Kata Nagisa dengan Nada sedikit cemberut.
Syukurlah, di pagi hari seperti ini Nagisa tidak mengatakan hal aneh. karena biasanya dia asal saja bicara tanpa pernah mau tahu alasannya.
"Memang kenapa dia ada di sini ." Tanya aku yang masih belum bisa menggerakkan tanganku.
Nagisa mendekat dan berjongkok di samping tempatku tidur, dengan wajah sedikit sendu melihat mataku, apa yang dia pikirkan di dalam kepalanya saat akan mengatakan hal ini.
"Tadi malam aku mengikutinya, dia belum tidur, berjalan seperti mencium bau sesuatu dari dalam kamar ini, membawa selimutnya dan mengetahui kalau kakak tertidur di lantai dengan semua foto yang berserakan ini, " Kata Nagisa yang hanya jongkok dan tidak membantuku.
Aku mendengarkan apa yang adikku katakan, memang kami sedikit mirip, aku sendiri bahkan tertidur di tumpukan album dan semua foto dengan bau khas ini, aku memang sadar dia tahu, dia melihat semuanya, seperti mengetahui 'kenapa' tentang aku, dia membaca alunan nafas kehidupan setiap orang, merasakannya dan melihatnya.
__ADS_1