
Pernahkah kita sedikit berpikir, kalau hidup adalah kumpulan dari berbagai kisah, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, apa yang kita beri, apa yang kita terima dan apa yang kita lakukan, semua itu berkumpul dan terjalin di dalam suatu ikatan yang di namakan kehidupan, sedangkan apa itu mati, untuk diriku sendiri, mati itu bukan karena tertembak, meminum racun atau pula penyakit yang mustahil di sembuhkan, tapi mati itu adalah di mana kita di lupakan, di antara kedua hal yang saling berlawanan itu hanya terpisah setipis kertas,
Hanya saja, alasan kenapa kita hidup di dunia ini adalah untuk merangkai berbagai cerita, tentang ibadah kita, perbuatan kita dan apa yang kita berikan, setiap hal itu akan terus teringat dan di kenang oleh manusia yang mengingatnya dan itulah yang membuat kita hidup di dalam dunia ini, jadi selama ini pernahkah kita berpikir, apa yang telah kita rangkai di dalam kehidupan,
Dan di saat ini aku masih terus merangkai kisah dalam hidupku di lembaran baru setelah masa dimana aku terkurung oleh penyesalan atas kepergian ibu.
Tiga tahun yang begitu kelam, rasa keputusasaan karena tidak mampu untuk melangkah maju, aku yang telah salah mengambil pilihan dan hancur di dalam penyesalanku sendiri, hingga kini aku mengerti seberapa penting kita untuk menerima segala hal yang telah pergi, berpikir untuk terus maju dan memulainya kembali,
Masih tersisa satu tahun sebelum aku berangkat ke Amerika, kewajiban untuk aku melunasi janji dari ayahku, walau demikian aku tidak ingin menceritakan apa pun kepada semua teman dan sahabatku, bahkan saat ini aku masih berjalan seperti biasa, melewati trotoar yang sama untuk bersekolah di gedung yang sama pula,
"Hey An, apa kau sudah merasa sembuh ." Sapaan konyol dari temanku seperti biasa,
"Apa aku terlihat seperti orang sakit, " Jawaban yang hangat dariku seperti biasanya,
"Mungkin otakmu itu yang harus di periksakan ke dokter ." Kata Noe yang berjalan, tidak dengan motornya,
Dan semua kalimat candaan yang mungkin akan aku rindukan untuk sahabatku ini, berjalan bersama dan dengan kecepatan yang sama, aku ingin bisa merasakan kehangatan ini lebih lama, terlebih lagi saat wanita itu datang untuk mengantarkan sapaan kasarnya,
"Mau sampai kapan kau akan berjalan lamban seperti itu, sebentar lagi jam pelajaran di mulai, " Teriaknya yang berlari melewati kami berdua,
Dan kebodohan kami bertiga ini adalah waktu yang sangat berharga hingga mungkin nanti akan terus membawaku hidup di dunia baru dari mataku ini, semua sangat berharga, semuanya ingin terus aku miliki di segala waktuku, tentunya tidak aku lupakan, gadis pemalu yang selalu meminta maaf untuk setiap awal perkataannya, tentu aku akan menemuinya saat memasuki kelas ini,
__ADS_1
"Maafkan aku, tapi pelajaran akan di mulai jadi jangan datang terlambat ." Kata Rina dengan wajahnya yang gugup,
"Ya, maafkan aku juga, karena tadi aku tersesat di jalan, jalan yang bernama kehidupan ." Jawab aku melewati Rina dengan bergegas,
Ini semua adalah hartaku, bahkan waktu damai saat terduduk dan melamunkan semuanya di atas bangku,
Saat pelajaran di mulai seorang guru wanita itu tampak melihat aneh, entah di balik pandangannya itu apa yang dia lihat, sungguh aku tidak bisa mengerti,
"Apa kau sudah sehat An ." Bertanya Ibu guru dengan tatapan aneh,
"Jangan mengatakan kalau selama ini otakku terlihat sakit Bu guru ." Jawab aku sedikit kesal,
"Tapi memang sepertinya begitu ." Balas Ibu guru dengan tertawa,
"Ah jadi untuk apa aku membeli buku baru itu ." Sepertinya Ibu guru itu menyesal karena buku baru untuk mengatasi murid bermasalah versi lebih tebal sudah tidak berguna,
Mungkin yang terpikir olehnya adalah bagaimana caranya untuk mengisi waktunya saat aku sudah tidak seperti yang di harapkan atau mungkin dia akan mencari murid lain untuk menggunakan buku barunya itu, sungguh Ibu guru menghela nafas penyesalannya begitu panjang,
Semua orang di dalam kelas, termasuk untukku sendiri, semuanya pasti akan berubah mengikuti alur waktu yang akan memaksa kita beradaptasi dengan perubahan kehidupan, aku telah menikmati semua yang aku miliki, bersyukur atas semuanya, mungkin terlalu besar saat aku berharap untuk terus melihat semua pemandangan ini, walau kata mungkin itu ada tapi aku tidak terlalu banyak berharap saat semuanya bahagia atas kehidupan mereka di situlah aku tersenyum,
Dan satu hal lain yang ingin aku berikan, sebuah kebahagiaan kecil dengan tanganku untuk seseorang yang membuatku lebih hidup, sosoknya sudah terlihat di bangku dekat pantai, aku berjalan mendekat karena memang aku sudah berjanji untuk menemuinya, tampak wajah tersenyum itu seperti melihat langit dengan bahagianya, walau pun demikian aku tahu di balik pandangan mata indah itu, hanya ada cahaya terang tanpa bisa memberikan pandangan untuknya berjalan,
__ADS_1
Aku sedikit ingin mengejutkannya, dengan berjalan perlahan dari belakang punggungnya, tapi dengan tiba tiba dia berkata,
"An, kenapa kau ingin bertemu di sini ." Bertanya Rea yang sudah menebaknya,
Ah ternyata memang dia masih bisa tahu kalau itu adalah aku,
"Padahal aku ingin mengejutkanmu ." Kata aku dengan lemasnya,
Dia tersenyum, mengatakan sesuatu yang membuatku merasa kalau aku seperti orang bodoh yang melakukan sesuatu tanpa dia mengerti,
"Ah, maaf kalau begitu, lakukan sekali lagi ." Kata Rea dengan tenang sekali,
"Ini bukan acara lawak nona ." Teriak aku menolaknya,
Sekali lagi dia tersenyum dan di saat lengkungan senyum itu muncul seperti aku telah lupa apa yang ingin katakan,
"Kenapa kau diam saja An ." Rea bertanya saat aku melamunkan sesuatu,
Aku tidak habis pikir lebih dari satu menit aku terdiam seperti terhipnotis oleh apa yang aku lihat,
"Ah, maaf, aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat, jadi bisa kau membawa beberapa pakaian ganti ."
__ADS_1
"Ah ia, tapi ke mana ."
"Aku ingin memperlihatkan sesuatu, jadi ikut saja." tanpa perlu keraguan aku segera menggenggam tangan Rea.