Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
Kesempatan


__ADS_3

Langkahku semakin berat untuk memasuki rumah sederhana yang tampak kosong dari luar, aura sebuah kehampaan sungguh kental, belum sempat aku mengetuk pintu rumah ini, seorang anak laki laki berusia 14 tahun keluar dengan wajah murung dan sisa air mata yang membekas di pipinya,


"Nomor dua, kenapa denganmu ." Bertanya aku kepadanya tanpa tahu nama dari adiknya Rina ini,


"Ah, kak An, namaku Riza kak, " Jawabnya,


Ya memang aku tidak mengenal siapa namanya tapi dia adalah adik dari Rina yang pertama,


"Memang kenapa dengan semua ini ." Bertanya kembali aku saat melihat ruangan rumah tampak sangat sepi,


Melihat wajahnya itu, Riza seperti tidak ingin mengatakannya, perasaan yang begitu berat untuk di ucapkan lewat kata,


"Ibu sudah meninggal kak ." Jawabnya dengan berat,


aku tidak tahu harus berkata apa hanya menepuk pundaknya dan berkata ...."Aku menyesal."


"Ah tidak apa apa, " Dia mengatakan itu dengan menggeleng,


Sekarang semuanya telah terjawab, apa yang terjadi dengan semua ini sungguh berpengaruh untuk Rina sendiri,


"Jadi di mana sekarang Rina ." Bertanya aku melihat Riza.


"Mbak masih di pemakaman ."


Riza yang menunjukkan tempatnya dan di sana aku masih bisa melihat gadis pemalu itu berdiri di samping pusara baru dengan tanah merah yang basah pula, perasaan ketakutan, gelisah dan putus asa, sungguh di tunjukan oleh Rina dan aku bisa melihatnya dari gerbang pemakaman ini, aku berjalan perlahan, semakin dekat dan ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tapi di jarak satu meter tepat dari tempatnya berdiri dia langsung berkata,


"Terkadang setiap manusia memiliki perasaan kehilangan, bahkan semangat hidup yang di perjuangkan selama ini dan itu sangatlah menakutkan ."


"Ya aku tahu itu, " Jawab aku dari balik punggungnya,


Semua ini pernah aku rasakan dan itu memanglah menakutkan, aku sendiri masih bisa mengingat itu dengan jelas,

__ADS_1


"Sejauh ini tidak ada satu pun yang terlepas dari rencana tuhan, entah seperti apa yang kita rasakan, semua itu akan baik jika kita bisa menerimanya, " Aku mengatakannya seakan aku memiliki keyakinan untuk dirinya,


Hanya saja, untuk saat ini aku sudah bisa mengikhlaskan apa yang pernah hilang dari kehidupanku sendiri, dan itu adalah sesuatu yang begitu berat,


"Ya, menurutmu itu benar, aku sendiri tidak mengerti, kenapa semua ini tidaklah adil ." Kata Rina dengan menghapus air matanya,


Aku menerima itu,


"Apa menurutmu semua ini adalah hal yang sudah di takdir kan."


Ya, itu adalah yang harus kau lakukan


Dan di depanmu aku melihatmu menangis, aku tidak bisa menghapuskan air mata itu dengan apa pun, kecuali dengan tanganmu sendiri,


"Menangislah, menangis yang keras, untuk saat ini tak perlu memikirkan hal lain, kau hanya perlu menangis hingga dunia tahu seberapa sedih dirimu ." Teriak aku dari belakang tubuhnya,


"Aku tidak tahu, apa ini benar, bahkan untuk diriku sendiri, ...."


"Tapi, setelah kau menangis, maka ingat masa depan masih menunggumu di sini, tepat di hadapanmu, kuatkanlah jiwamu, tunjukan semangatmu, semua ini belum berakhir ." Kata aku dengan keras,


Aku melihat semua air mata itu, semuanya mengalir dengan kesedihannya, tentang kehilangan dan juga penderitaan, tapi setelah ini semua yang ada di hadapanmu adalah satu hal pasti untuk membuat dirinya lebih kuat,


Tidak perlu berpikir terlalu panjang saat jawaban sudah di dapatkan di kepalan tangan, langkahku kuat saat menariknya, setidaknya aku percaya dia tidak mungkin menyerah, karena ini belum berakhir, waktu masih berjalan, entah berapa lama aku yakin sebuah kesempatan akan datang saat kita sendiri yang membuatnya dan untuk kedua kalinya aku menarik tangan halus ini, membawanya pergi untuk bertemu dengan masa depan, walau wajah itu masih terlihat bingung tapi biarlah karena semua ini belum berakhir, bergerak cepat, tidak peduli apa pun, motor usang yang menjadi saksi bisu perjalanan dua orang manusia yang mempertaruhkan harapannya, dia akan mampu dan aku yakin itu,


"Ayo, cepat ." Teriak aku menunggu gadis ini naik untuk aku bawa,


"Kenapa ?, "Wajahnya terlihat bingung,


Tentu saja, di sekolah ini dia memutuskan untuk berhenti dan aku tidak menerima itu, aku membawanya ke ruang kepala sekolah,


"Maaf permisi pak ." Melihat sang kepala sekolah degan tenang seperti tidak terkejut melihatku,

__ADS_1


"Ah, kau An, bapak sudah menunggu kalian berdua ." Jawabnya dengan wajah tenangnya,


Aku bertanya kepada diriku sendiri, untuk apa dia menunggu kami, aku sendiri tidak memutuskan untuk bertemu dengannya,


"Tidak perlu kalian bertanya, bapak sudah mendengar ceritanya dari Noe, kalau Rina terkena musibah yang harus membuatnya tidak masuk untuk ujian ." Kata pak kepala sekolah dengan tatapan serius,


Rina bingung, karena mungkin dia memutuskan untuk keluar dari sekolah, tapi..


"Maaf, bukannya aku sudah memberikan surat pengunduran diri." Kata Rina dengan wajah yang masih bingung,


"Surat apa nak, bapak tidak menerima surat apa pun sejak tadi ." Kata pak kepala sekolah dengan tenangnya,


"Tapi ...."


"Ah mungkin surat itu terbawa ke tempat sampah dan sudah terbakar, jadi tidak usah kau pikirkan ." Potong perkataan kepala sekolah dengan tenangnya,


Wajah Rina tersenyum dengan tangisan yang tidak terbendung dari matanya,


"Jadi apa bisa kita mulai ujiannya ." Pak kepala mengangkat lembaran kertas,


Dengan penuh keyakinan Rina menjawabnya,


"Ya, tentu, maaf aku terlambat ." Kata Rina dengan senyuman dan air mata,


Selama melihat kejadian yang di sebut dengan keajaiban ini, aku ingin memberikan sedikit kebahagiaan untuknya,


"Dan Rina ini, ada surat untukmu ." Kata Pak kepala sekolah memberikan surat itu,


Membuka dan membacanya, air mata itu menetes dengan derasnya, itu air mata kebahagiaan yang dia tumpahkan karena merasa hidupnya baru saja di mulai kembali,


Semua ini adalah tentang kesempatan, entah itu takdir atau pun sebuah nasib, ketika sebuah usaha dan kerja keras di pertaruhkan, sang pencipta tidaklah tidur untuk mendengarkan doa para hambanya yang berusaha dan Rina sudah mendapatkan jawabannya, aku yakin takdir selalu adil kepada semua manusia. termasuk untuk seorang sahabat yang mungkin sekarang sedang berjalan pulang dengan membawa helmnya itu,

__ADS_1


__ADS_2