
Ya itu sama sepertiku. Aku yang menganggap ini semua adalah dosa, karma, atau sebuah penebusan dari kesalahan. Dan yang membuat semua tidak tampak menyenangkan. Aku melihat diriku di mata tidak berkedip dan kosong.
"Jika memang ini adalah hukuman, apa nona tidak ingin memperbaikinya." Kembali aku bertanya walau sesungguhnya aku tidak pantas mengatakan hal itu.
Jika aku melihat cermin, aku sendiri tidak pernah berusaha memperbaiki keadaan keluargaku yang sudah kacau balau.
Aku lari dari kenyataan, terikat dalam masa lalu, dan membuat penjaraku sendiri agar aku tidak kehilangan apa pun lagi di kehidupan.
Kehilangan menjadi rasa pedih dalam hati yang benar-benar membekas, terlebih jika itu adalah sebuah alasan penting dalam hidup, saat kita kehilangan, seakan dunia berakhir pun tidak masalah.
"Biarkanlah, karena aku tidak ingin melihat hal yang membuatku seperti sekarang." Jawaban itu sangat membuatku mengerti, kalau dia tidak ingin mengulangi sesuatu yang membuatnya takut.
"Apa itu ?, Apa nona hanya mau terkurung kegelapan selamanya."
"Tentu saja tidak. Tapi untuk sekarang, aku takut, benar-benar takut, jika kesalahan yang aku perbuat hanya akan diulangi, lagi dan lagi." Jawabnya.
Aku tidak berharap jika perkataan ku ini hanya membuatnya semakin sedih..."Maaf, aku harusnya tidak bicara seperti menghakimi orang lain, padahal aku sendiri pun takut untuk memperbaiki masalah dalam hidupku."
"Kita sama-sama manusia, kita sama-sama memiliki masalah, jadi mungkin pertemuan kita adalah takdir."
"Takdir pertemuan orang-orang bermasalah, itu seperti sebuah perkumpulan kelompok penjahat untukku."
"Ya tapi aku percaya, tuhan mempertemukan kita karena suatu alasan, dan aku pikir ini sangatlah indah."
Ya kau benar, ini sangatlah indah....
Langkahnya terhenti di depan gerbang rumah yang megah, dengan luas taman seperti lapangan sepak bola dan rumah indah bergaya Eropa klasik.
"Apa ini rumahmu."
Dia menjawab... "Ya, ini bau dari rumahku, sungguh sangat usang dan sepi kan ?."
__ADS_1
Aku melihatnya pun demikian, sebuah rumah megah dengan berbagai lampu mewarnainya. Hanya saja aku sendiri bisa merasakan, kalau tidak ada sedikit kehangatan untuk di katakan sebuah keluarga.
Sama sepertiku, hanya saja saat ini mungkin Nagisa sudah menyiapkan makan malam untuk kami berdua, ruang hangat sebagai keluarga pada umumnya.
"Ah, nona apa yang kau katakan tadi, kalau Sisui tidak di rumah, jadi apa kau sendirian, bagaimana dengan makan malammu." Tanya aku dengan sedikit alasan.
"Tidak apa, mungkin dia sudah menyiapkannya ." Jawaban yang mungkin membuatku kecewa.
Aku sedikit cemas untuk melihat bagaimana dia menjalani kehidupan sempit di rumah sedemikian luas untuk seorang diri, apa itu baik-baik saja ?, Aku tidak mengerti tentang sikap tenang dari gadis ini.
"Bagaimana kalau kau makan malam di rumahku saja, tenang di sana ada adikku tentu, agar tidak ada salah paham" Aku mengusulkan tawaran.
"Hmmm" Dia berpikir, apa mungkin aku orang yang mencurigakan.
Dia sedang berpikir cukup rumit, tentu aku berkata demikian pun karena melihat hal yang sama seperti diriku dulu, memakan makanan dingin sisa sarapan pagi. Sendirian di meja makan dan terasa hambar tanpa ada rasa untuk dinikmati.
"Baiklah, hanya saja anggap aku berhutang budi padamu ." Kata Nona itu setelah lama berpikir.
"Aku tidak ingin melihat hal yang sama sepertiku terjadi kepadamu ." Ya sedikit alasan tentunya dan dia tersenyum.
"Karena apa ?." Tanya dia.
"Ah, tidak lupakan saja ."
Tidakkah malam ini begitu indah, apa yang bisa aku rasakan, saat aku bayangkan, berjalan lebih lama dan lebih jauh.
Saling beriringan dalam kecepatan yang sama, tujuan yang sama dan diwaktu yang sama pula. Lembut tangan yang terus memegang jari-jari ku, mengikuti langkah yang seirama, kehangatan yang terbagi, aku merasa bahagia, untuk ke sekian kalinya, aku merasa begitu dekat dengan kebahagiaan yang aku cari.
"Adikmu itu seperti apa ?."
"Ah, bisa di bilang, dia keras kepala, sangat manja dan sering membuatku kesal ." Aku mengatakannya dengan sedikit membayangkan wajah Nagisa.
__ADS_1
Bahkan aku masih ingat saat dia tidur di antara semua tumpukan foto kenangan sang ibu yang kami berdua rindukan.
"Sungguh, menyenangkan jika memiliki saudara, bisa saling berbagi kebersamaan, saling menutupi kekurangan dan selalu bersama tidak terpisahkan ." Kata si nona dengan senyuman lembutnya.
Bagi sebagian orang mungkin memang begitu dan sedikit terpikirkan pun aku termasuk dari sebagian orang itu. Hanya saja aku tidak pernah menanyakan secara langsung, kenapa dia datang kembali ke kota ini. Yang jelas, ada sedikit masalah yang membuatnya harus pulang, aku tahu itu.
"Ya mungkin sebagian orang akan mengatakan hal yang sama, karena mereka tidak pernah merasakan posisi memiliki saudara. Tapi entah kalau aku yang mengatakannya, mungkin semua orang akan terkejut ."
Aku tidak terpikir jika orang-orang yang mendengar akan tertawa sampai menangis puas.
"Karena kau itu tidak akan mengatakan apa pun secara jujur dari mulutmu, yang kau lakukan adalah dengan tindakanmu, semua bisa terlihat dengan jelas." Sungguh dia sangat mengerti tentang diriku.
Ini mungkin salah satu alasanku, dia mengerti sesuatu yang tidak dapat aku katakan. Dia bukan wanita yang tidak bisa melihat hati seseorang.
Bahkan jika dari balik mata tidak bercahaya itu bisa melihat, dia tidak perlu mengerti, karena hatinya sudah akan mengetahui semua perasaan yang setiap orang.
"Aku pernah bertanya kepada diriku sendiri, apa yang ingin aku lihat, jika nanti bisa melihat. " Katanya dengan wajah yang begitu serius dengan perbincangan ini.
Mengikuti setiap perkataan yang dia ceritakan, aku bertanya kepadanya... "Jadi apa jawabanmu ."
"Ketakutan. " Jawabnya dengan wajah serius, tidak ada yang di tutupi, tidak ada yang perlu di bohongi, sebab dia tidak memiliki alasan untuk menyembunyikan kebenaran.
Aku tidak mengerti maksud dari jawaban itu, kenapa 'Ketakutan' ?. Mencoba memahami seperti apa arti di balik senyum serius dan perkataannya.
Apa itu adalah sebuah emosi yang membuatnya menghindar dari kenyataan, atau mungkin hanya alasan untuk membalik kenyataan, itu sulit, hingga nanti aku sendiri yang mengerti apa maksudnya.
"Hidup kita memang tidak baik-baik saja untuk sekarang, kita bahkan membawa dosa yang harus kita terima, tapi... Ya, jika suatu hari nanti aku bisa melihat, aku harap kau ada di sampingku agar aku tetap berani." Ucapnya tersenyum cerah.
Aku terpesona, ya benar-benar terpesona akan kecantikan wanita ini, jika rembulan yang bersinar terang adalah keajaiban dunia tanpa bisa aku sentuh.
Tapi senyumannya itu, membuatku tahu bahwa aku berada sedekat mungkin dengan keajaiban, bahkan untuk sekarang aku sedang menyentuh tangan keajaiban.
__ADS_1