Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
arti wajah


__ADS_3

Untuk beberapa minggu ini aku di sibukkan oleh buku, buku dan kata maaf yang selalu aku dengar, dengan bermodalkan sebuah buku aku memberikan rumus dan soal untuk dia kerjakan.


waktu berawal dari jam masuk sekolah yang lebih tepatnya pukul 06.30 dia sudah hadir dan menungguku dengan wajah menunduk di bangkunya. Entah kenapa dia selalu begitu, menyembunyikan wajah cantiknya di balik poni tebal rambut hitam itu, jika aku berada di dalam kelas lebih awal seperti biasa.


Mungkin hanya ada aku dan Rina saja, hingga awal pelajaran pun aku sampai tertidur kembali untuk menunggu soal yang aku berikan sore hari dan aku koreksi paginya.


Menunggu hal itu terjadi sekali pun bisa memakan waktu enam jam mata pelajaran dan di awali dengan kata maaf.


"Maaf, aku ragu tadi pagi untuk memberikan jawaban ini " Kata Rina dengan menunduk.


Ya, selalu berawal dengan maaf, sedangkan yang jadi masalah adalah sifat pemalu, ragu, gampang pesimis, itulah kenapa dia sangat sulit menempatkan dirinya untuk berada di garis pemegang beasiswa.


"Kau itu terlalu memikirkan akan seperti apa jawaban yang kau berikan, memang tidak salah untuk terus menghitung tapi jika kau selalu ragu dengan kemampuanmu sendiri, jangan harap untuk bisa mendapatkan peringkat pertama ." Kata aku memberikannya kata bijak untuk membuatnya bersemangat.


Ya aku mengeluarkan perkataan untuk membuatnya sadar apa yang harus dia lakukan, secara garis besar dia sangat terlatih untuk mengerjakan semua soal yang setara dengan tingkatan kelas di sekolah ini.


Bahkan tidak perlu melakukan latihan soal denganku saja dia masih bisa mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajarannya, dan itu mendapatkan persentase 70% dari pendapatku sendiri dan yang 30% adalah ke ragu raguan Rina.


Hingga nanti dia hanya mampu untuk berada di peringkat ke dua saja, setelah perkataan panjang itu, rina menjawabnya dengan kalimat penutup.


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku ." Dan terus meminta maaf.


Aku cuma berpikir, apa ini adalah hari meminta maaf, jika pun begitu banyak orang yang harus meminta maaf kepadaku.


pandangan mata beralih ke bangku sebelah kanan, melihat wajah Noe yang sangat serius memakan roti kantin dengan lahapnya, dia melihatku dan berkata..."Ada apa ?."

__ADS_1


Kata tanya yang di ucapkan oleh noe dengan pandangan mata seperti memiliki arti.


'Jangan harap aku akan membagi makan siangku .'


Ucapan yang terlintas saat melihat wajah Noe, sedangkan mulut itu sendiri sedang berjuang untuk menghabiskan sisa roti karena tanda jam pelajaran sudah berbunyi.


"Nah Noe, aku katakan jangan pernah mengunyah apa yang tidak bisa kita telan." Sedikit memberikan nasihat untuk Noe.


Maksudnya hanya jangan terlalu banyak memasukkan makanan untuk di kunyah tapi saat menelannya butuh tenaga ekstra hingga setengah mati dan pada akhirnya aku sudah bisa merasakan seseorang menepuk pundakku, semakin keras, semakin keras.


"Ada apa ?." Kata aku melihat Noe seperti ikan yang keluar dari kolam.


Noe tidak berkata apa pun, melihatnya jungkir balik, aku sudah bisa menebak apa yang harus di lakukan untuk saat ini, aku membaringkannya ke lantai dan menginjak injaknya.


"Oi, kau tidak apa apa Noe, wajahmu pucat ." Aku bertanya dengan Noe sudah tergeletak tidak berdaya.


Sesuatu keluar dari dalam mulutnya ya sebuah gumpalan roti dengan benda berujung melingkar dan berderet, bisa di bilang itu adalah Baut, aku bisa melihatnya dan berkata... "Apa kau sedang berlatih ilmu beladiri Noe, jangan jangan di dalam perutmu masih tertinggal obeng, tang dan kunci inggris ."


aku yang sedikit penasaran.


"Aku minta maaf ." Kata Noe dengan sisa tenaga.


Aku berpikir, sepertinya memang hari ini adalah hari meminta maaf, sungguh aku tidak ingat ada yang merayakannya dan seperti inilah kehidupanku terus berlanjut.


Ada waktunya aku menyibukkan diri hanya sekedar membuang kebosanan yang melekat di hari ini, mengingat apa yang terjadi untuk beberapa hari kemarin.

__ADS_1


Aku merasa sudah di sibukkan oleh berbagai macam aktivitas menguras tenaga dan batin, secara tenaga seperti aku harus bekerja lebih keras dalam melakukan pekerjaan rumah untuk sekedar membersihkan memasak atau pun mencuci.


Nagisa hanya sekedar membantu sedikit dan lebih banyak mengatur, sedangkan untuk batinku, di kehidupan yang aku jaga dari semua masalah, kini tercampur oleh berbagai macam masalah.


Bahkan jika ada yang memperjualbelikan masalah, aku sudah bisa menghitung seberapa keuntungan yang akan aku dapatkan, sayangnya setiap orang hanya tahu untuk menyimpan masalah tanpa menyelesaikannya.


Sedangkan apa yang aku lakukan di hari ini adalah melihat seseorang berlari dan melompat. sebuah olah raga halang rintang, seorang pelari dengan baju dan kaos serba putih berlari dengan kecepatan 40 kilometer per jam, lompatan dan caranya melewati setiap tongkat penghalang itu sangat indah.


Aku sendiri memiliki album khusus untuk hal lain selain foto langit dan laut, seperti memotret pelari yang melompat, peselancar yang sedang melaju di terowongan ombak atau mungkin foto paralayang yang saling berputar melewati awan putih di langit biru.


Setidaknya puluhan foto itu memiliki berbagai macam kisah yang tidak bisa aku buang begitu saja, hanya saja untuk saat ini, aku bisa melihat sang pelari putih itu mendekat, dengan rambut yang terikat dan kacamata hitam untuk menghalangi cahaya, dia mengangkat tangan untuk menyapa.


"An, sudah lama kau tidak ke sini, " Kata Sina dengan melambai.


"Aku sedang bosan dan aku sedang bingung untuk beberapa hari ini ." Kata aku dengan basa basi,


Lepaskan kacamatanya, aku dan dia sudah terlihat kenapa dia begitu akrab denganku, dia adalah teman sejak kecilku, Sina, si sadis yang selalu menghajarku untuk sekedar melampiaskan kemarahan.


"Apa kau tidak mencoba berlari saja ." Kata Sina


"Ah, aku sedang malas untuk melakukan hal ini lagi ." Jawab aku yang sedang bosan melakukannya.


"kau itu, selalu mengutamakan perasaanmu, jika kau sudah bosan pasti akan langsung kau tinggalkan. "


Dia memang tidak salah untuk berbicara seperti itu, aku tersenyum menghadapnya dan berkata..."Ya seperti itulah aku ."

__ADS_1


__ADS_2