Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
Awake


__ADS_3

Di dalam rumah ini aku merasa begitu bosan, bahkan untuk melihat ponsel yang tidak tersentuh, hanya aku gunakan untuk mendengarkan musik dengan media player, suara yang nyaring di dengar lewat handset ini mengumandangkan lagu dengan judul "Secondhand saranade, Awake ."di dalam setiap baitnya ada selarik syair yang aku sukai, saat Jhon Vasely menyanyikan lirik 'Say my name, i just want to hear tou, say my name, so i know it's ture ' dengan suara yang keras dan sendu, itu berarti 'katakan namaku, aku ingin mendengarmu, katakan namaku, hingga aku tahu ini nyata .'


Ya, sebuah makna untuk meyakinkan hati, bahwa apa yang ingin dia dengarkan adalah kenyataan tentang perasaan seseorang, mungkin sedikit perasaanku sangat mengikuti syair itu, karena tidak ada yang memanggil namaku dengan sepenuh hati, sungguh aku menikmati rumahku yang seperti ini, di kamar 3 x 4 meter, kesejukan bukan karena cuaca atau pun kipas angin yang berputar di atasku, karena aku memang menikmati keadaanku seperti ini, sedikit memikirkan seseorang, yang aku tuju adalah Aurora atau yang biasa aku panggil dengan Rea, mengingat sebuah rasa dari pegangan tangan saat itu, itu bukan pegangan karena terkejut, tapi itu karena mengingat sesuatu, melihat kipas yang berputar itu membuatmu menjadi pusing, membicarakan diriku sendiri dan menyalahkan kipas di atasku,


"Apa kau tahu, kau itu membuatku pusing ." Kataku memaki kipas yang berputar di atas kepalaku,


Tidak ada jawaban, melihatnya terus berputar, aku semakin mual untuk mengikuti arah putaran itu,


"Jangan berputar, berhenti kau, apa kau tidak ada pekerjaan lain ."


Memang bodohnya aku mengikuti putaran kipas angin dan mengajaknya berbicara,


"Sedang apa kau kakak ." Suara adikku yang berdiri di pintu kamarku,


Aku mendengarkan suara Nagisa memanggilku, dia berdiri melihat aneh ke arahku, mungkin dia menganggap aku sudah tidak waras karena mengajak bicara sebuah benda hidup yang hanya bisa berputar,


"Apa kau melihatnya ." Tanya aku melihat Nagisa dengan tatapan malu,


"Apa maksudmu kak." Jawaban yang membuatku sedikit lega, dan dia masih memandang aneh ke arahku, dengan tangan yang tidak lepas dari pegangan pintu seperti syok dan lupa untuk melepaskannya,


"Ah, bukan apa apa, ada apa memang adikku ." Tanya aku untuk mengubah topik pembicaraan,


"Ada yang ingin bertemu denganmu ." Jawab Nagisa,


Ya bagiku memang sangat jarang seseorang ingin berkunjung ke sini, bahkan untuk sekedar mengantarkan surat undangan dari sekolah, sedangkan saat ini adikku mengatakan ada yang datang ke sini,


"Aaa jangan bercanda kau adikku, " Kata aku sedikit tidak percaya,


"Jika tidak percaya silakan Anda lihat sendiri di depan pintu rumah," Jawabnya dengan marah,

__ADS_1


Nagisa pergi dengan membiarkan pintu tetap terbuka, dengan perasaan sangat malas untuk berdiri dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan waktu pukul setengah dua siang, ya memang ini adalah titik di mana kemalasan datang untuk membuat tubuh bergerak bebas karena terlalu panas di luar ruangan ini, sedangkan seseorang menunggu di depan pintu untuk bertemu denganku, mungkin suatu hari aku akan menuliskan 'Di mohon untuk membuat janji terlebih dahulu .' ya mungkin bisa untuk di rencanakan ke depannya, sedangkan untuk saat ini mau tidak mau, aku harus bergegas melihat siapa yang berdiri di luar hanya untuk bertemu denganku,


"Yo, An ."Seseorang yang dengan gaya so cool berdiri melambai ke arahku,


Melihatnya tersilaukan oleh cahaya panas dari luar, sungguh seperti sebuah penampakan yang begitu hebat, sebuah efek panggung yang indah, dengan berpantulnya sinar itu menggunakan alat bola kristal sedikit hitam,


"Siapa kau ?" Tanya aku karena terlalu silau untuk melihat dengan jelas,


"Ini aku, Noe ." Jawabnya dengan marah,


"Kau, kenapa dengan rambutmu, " Tanya aku dengan terkejutnya,


Dia dengan model rambut terbaru yaitu plontos, memang ada apa dengan perubahan besar di kepalanya itu, sedangkan kemarin rambutnya masih tumbuh dengan lebat,


"Oh ini, jadi ..." Noe akan menerangkan ceritanya,


"Lumayan panjang ." Itu yang di katakan olehnya


"Sebaiknya kau masuk terlebih dulu, karena aku tidak ingin tersilaukan oleh kebotakanmu ." Kata aku yang membiarkan dia masuk ke rumahku,


Melangkah masuk, Noe sudah mempersiapkan penutup kepala yang biasa kita sebut dengan topi, dengan topinya berbentuk gaya koboi Meksiko,


"Di mana adikmu An ." Matanya melihat ke segala arah,


"Dia sedang di kamarnya ." Kata aku membuatnya tersenyum lebar,


"Ahhh, jadi...."


"Aku tidak akan membiarkan adikku dekat denganmu ."

__ADS_1


Noe yang sudah bisa tertebak isi pikirannya, menggerutu dengan wajah menggelembung layaknya ikan buntal,


"Apa perlu aku memanggilmu Kakak ipar ." Kata Noe membuatku mual mendengarnya,


"Aku tak sudi ." Teriak aku menolaknya,


Dengan Noe yang mendekati seperti memohon untuk memanggilkan Nagisa, aku pun tidak akan membiarkan adik kecilku di dekati oleh siapa pun dulu,


"Kalian jangan berisik, aku sedang istirahat " Kata Nagisa yang keluar kamarnya, sudah terlihat wajah mengantuk dengan rambut berantakan dan boneka yang dia pegang, berjalan untuk memarahi kami berdua,


"Ya, " Jawab aku yang menarik Noe ke kamarku,


Kami menjawab secara bersamaan dan melihat Nagisa berjalan kembali ke kamarnya, ya dia masih mengantuk, mengusap mata sendu setengah terpejam itu,


"Memang sungguh sangat manis adikmu itu ." Kata Noe yang tersenyum terpesona,


"Apa kau bilang, jangan harap aku akan mendekatkan denganmu, botak ."


"Ah, kakak ipar ini bagaimana ." Panggilan Noe itu membuatku menggigil,


"Aku tak sudi ." Teriak aku menjauhkan wajah menjijikkan Noe,


Menempelkan pipinya mengelus elus dan memelukku, sungguh menjijikkan, ya Noe memang sudah menjadi sahabatku sejak kecil, termasuk mengenal satu satunya adikku Nagisa, jika dia masih mengingat seperti apa Nagisa dulu, dia adalah adik yang selalu mengikuti ke mana kakaknya pergi, ya hingga sampai ke kelas 6 sekolah dasar, tapi setelah kelulusannya atau awal dia masuk ke bangku SMP, ibu kami berdua telah tiada, mungkin itu adalah pukulan telak untuk kami berdua, seperti yang kami berdua rasakan saat itu, sebuah kehilangan, kehancuran dan runtuhnya sebuah keluarga, saat harus di paksakan untuk berpisah, aku lebih memilih terus berada di sini, walau uang sebagai jaminan, terus ayahku kirimkan tapi itu seperti percuma, karena aku sendiri tidak merasakan apa pun, uang itu terus tertumpuk dan tidak membuatku merasa puas,


"Nah, An apa kau ingat, aku dulu sering ke rumahmu, saat ada ibumu ." Kata Noe saat melihat ke arah kamar ibuku,


"Ah, aku tak ingat, "


"Aku masih ingat, yang salah satunya adalah saat ibumu duduk di samping jendela kamar itu, dia memegang kamera, aku bisa mengingatnya ." Itu yang di katakan olehnya,

__ADS_1


__ADS_2