Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
penangkaran manusia bermasalah


__ADS_3

Aku terbangun dengan wanita yang terus mengguncang tubuhku.


Aku tidak bisa berpikir dengan benar, hanya saja, aku kenal wanita itu, dia adalah Sina. Dimana setiap hari minggu pagi dia pasti akan datang dan membangunkanku. Bahkan jika harus menggunakan cara yang tidak wajar.


Contohnya seperti mengikat jari kaki dengan sebuah batu dan yang aku rasakan setelah itu adalah rasa keram, kesemutan dan pegal-pegal, seakan kaki ini telah lepas dari tubuh, kejam bukan.


"Apa yang kau lakukan di rumahku Sina ?."  Aku berkata dengan mata seperti tidak ingin terbuka.


"Ah kau sudah bangun An." Kata Sina yang menyembunyikan sesuatu dibalik tangannya.


Sedangkan wajah Sina itu, tampak polos, seperti tidak tahu apa pun dengan apa yang akan dilakukannya kepadaku.


"Apa itu sina yang kau pegang ."


"Bukan apa apa, hanya sebuah korek dan kembang api."Jawabnya dengan santai.


Sedangkan aku tidak habis pikir dengan yang dia rencanakan.


"Apa maksudmu dengan semua itu Sina, jangan bilang kau akan membangunkan aku dengan kembang api itu."


"Ah tidak kok ." Dia mengelak saat menjawabnya.


"Aku tak percaya, kemarin kau membakar kakiku dan itu masih berbekas. " Kesal memikirkan kejadian Minggu lalu.


"Hehehehe". Dia tertawa seakan tidak ada yang salah dengannya.


Aku bisa mengatakan jika kami memanglah dekat, sekitar masa sekolah SMP, Sina pindah ke dekat rumahku, dia adalah wanita tomboy, sikap yang seenaknya sendiri , berbicara tanpa sensor, kasar, keras kepala dan tidak tahu malu.


Akan tetapi Sina adalah wanita masih mau menemaniku, dalam menghadapi kesedihan hancurnya keluarga yang aku miliki, dia menjadi sahabat setia dan hebat.


"Jadi apa maumu ?." Aku bertanya tentang alasan kenapa dia datang ke rumahku ini.


"Aku ingin kau membantuku lagi , semua karyawan dan para pelanggan banyak yang bertanya tentangmu ." Kata Sina, tapi itu tidak membuatku senang sama sekali.


Menerima apa yang Sina inginkan memang sedikit sulit, apa lagi harus berpakaian pelayan seperti itu, tapi satu alasan yang aku punya untuk menerima tawaran Sina.


"Baiklah." Dengan sedikit semangat aku menerima tawaran Sina.


"Wah jarang sekali kau menerima permintaanku An." Sina terlihat bahagia mendengar jawaban dariku.


"Ya mungkin kebetulan aku sedang bosan." Jawabku dengan mencari alasan agar Sina tidak berpikir hal yang bisa aneh.

__ADS_1


Tapi dari apa yang aku jawab, dia melihat ku dengan rumit, apa ada yang salah dari ucapanku, tentu tidak ada, tapi sikap Sina lah yang salah.


"Tidak, tidak, mungkin kau sedang sakit, tidur kembali, akan aku buatkan sarapan dan aku belikan obat." Kata Sina dengan melihatku aneh, seakan ada sesuatu yang salah di dalam otakku.


"Aku tidak sakit ". Kesal aku mendengar perkataan Sina.


Tapi tetap saja dia melihatku rumit, Sina merasa kalau aku tidak seperti biasa, mungkin memang begitu, karena ini pertama kalinya aku merasa bersemangat.


"Begini, aku memiliki alasan kenapa aku menerima permintaanmu, karena mungkin aku ingin bertemu dengan gadis itu." Kataku dengan memberikan alasan yang jelas.


"Siapa maksudmu ?."


Tanya Sina dan melihat curiga kepadaku.


Aku ingin mengatakan keterbatasan fisik gadis itu, tapi tentu saja, akan sama halnya dengan menghina dan untungnya aku ingat nama yang dia ucapkan.


"Aurora ."


"Ahh nona Rea, kenapa kau ingin bertemu dengannya An." Sina masih menatapku curiga, aku sedikit bingung harus menjawab apa.


Aku masih belum bisa menceritakan apa yang ada didalam perasaanku.


"Entahlah." .Jawab aku dengan memalingkan wajah.


Dan setelah aku mengatakan alasan yang tidak jelas, tatapan Sina semakin aneh melihatku.


"Jujur, sejak kau membantuku minggu kemarin, dia seperti mencarimu, dia berkata ingin dilayani oleh pelayan laki laki yang suaranya seperti orang bermasalah." Kata Sina, tapi itu tidak membuat aku senang, karena nona itu seperti mengangap jika aku adalah manusia bermasalah.


"Kenapa dia ingin bertemu denganku ."Aku bertanya dengan sedikit bersemangat.


Sedangkan Sina menggeleng dan berkata, "Entahlah, hanya saja aku tahu, kalau itu kau An, karena memang tidak ada pelayan laki laki di Cafe, tapi tetap saja, seorang laki laki yang memiliki berbagai macam masalah, hanya ada satu di kota ini , yaitu kau." Tegas sina dan semakin membuatku terhina.


"Kenapa kau berkata seperti itu, memangnya aku manusia langka yang hanya ada satu di dunia ini."


Sina tersenyum dan kemudian menahan tawanya.


"Tentu saja, lihat matamu, kau itu seperti ikan mati yang berjalan An." Kata Sina dan sangat jelas jika itu adalah penghinaan.


"hehehe ." Aku tertawa, karena tidak mungkin aku memukul seorang wanita, tentunya tertawa pahit yang menertawakan diriku sendiri.


"Sudah lah, mungkin jika aku melaporkan kepada pemerintah bahwa kau adalah tipe manusia yang akan punah, pemerintah akan memasukkanmu ke penangkaran para manusia bermasalah."Semakin bersemangat Sina menghinaku.

__ADS_1


"Terima kasih atas perhatiannya nona Sina .". Aku kalah dan menghentikan hinaannya itu.


Aedangkan Sina semakin tertawa lepas ketika melihat wajahku yang sekarat menahan rasa sakit dari setiap ucapannya itu.


Lekas aku berganti pakaian dan Sina menunggu di luar kamar, aku sedikit berpikir tentang apa yang dia ucapkan.


Melihat ke arah cermin didalam kamar, memasang wajah seperti biasanya dan memang mata ini seperti tidak memiliki keinginan untuk hidup.


"Ya mungkin aku sudah seperti orang mati dengan tubuh ini ." Gumamku yang sedikit keras.


Dari balik pintu Sina mendengar apa yang aku gumamkan. "Tidak, kau sama sekali tidak seperti ikan mati, tapi kau sudah menjadi ikan yang kehabisan masa hidupnya, tenang saja, aku lebih senang melihatmu seperti sekarang." Kata Sina dari balik pintu.


"Maksudmu aku memang ikan mati."


Dia diam dan menggumam, "Hmmm , mungkin ...Hehehehe."


"Berhentilah bercanda seperti itu Sina ".


Dalam setiap masalahku, aku merasa lebih baik jika Sina berada didekatku.


"Bagiku sekarang, kau itu lebih menikmati hidupmu, walau terkadang mudah sekali bosan, itu lebih baik dari pada saat dulu." Sina bicaranya sangat tenang.


"Ya tentunya itu sedikit menyulitkanku, terkadang aku berpikir kalau aku tidak pernah serius menikmati sesuatu." Balas aku dengan nada tenang pula.


"Ingatkah kau saat pertama kali kau melakukan surfing , aku bisa lihat dari senyummu kalau hidupmu mulai yang bangkit dan bersinar, seakan alam tidak membiarkan dirimu bersedih, aku menyukai hal itu." Kata Sina dan itu sedikit membuatku senang.


Sungguh Sina adalah wanita tidak pernah bisa ditebak jalan pikirannya, aku berjalan dan membuka pintu, aku mengagetkan Sina dan berkata.


"Terima kasih Sina."


Dengan wajah tersenyumku, tapi Sina melihatku terkejut, tatapan dan wajah Sina menjadi merah merona, sikap Sina membuatku bingung, dan...


plllaaakkk


Sebuah tamparan datang di pipiku, aku tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan.


"Bodoh, cepat pakai celanamu." Kata Sina dengan menutup mata.


Aku melihat ke bawah, ternyata aku sadar dari atas aku memang sudah menggunakan baju, tapi aku melupakan celana.


"Maaf ."

__ADS_1


"Bodoh, bodoh."


Dia sahabatku, aku merasa beruntung, ternyata masih ada yang terus memperhatikanku disaat jiwaku hancur dalam kehidupan busuk ini.


__ADS_2