Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
lupa untuk pulang


__ADS_3

Beberapa hari ini, aku merasa bahwa ada seseorang yang mengikutiku, aku sendiri tidak habis pikir memangnya apa yang dia inginkan dariku, tapi selagi tidak ada yang dirugikan, aku tidak ambil pusing .


Di hadapanku Noe memang menyadarinya, seseorang melihatku dan dengan matanya Noe melihat ke meja ujung dari kantin ini .


"An, sejak tadi wanita itu memperhatikanku terus, apa yang dia pikirkan ?, "


Kata Noe dengan anggapannya sendiri, dia berpikir seperti itu karena tidak sadar jika situasi ini bukan seperti yang dia harapkan, tapi aku tidak ingin mengatakan lebih jelas dari kenyataan pahit untuk dirinya .


"Mungkin dia menyukaimu."


"Menurutmu begitu, hehehe , ya memang pantas untukku, lelaki paling fenomenal di sekolah ini. "


Begitu kata Noe dengan rasa percaya diri yang tinggi dan membuatku ingin tertawa, jika dia mengetahui kebenarannya.


"Coba saja kau bertanya kepadanya , "


Usul aku dengan menahan tawa.


Noe tersenyum lepas dan beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri gadis itu, melihat Noe penuh keberanian di etiap langkah, aku tidak ingin melihat apa yang akan terjadi, aku hanya berdoa .


"Lindungilah temanku itu, Amin ."


Selang beberapa menit, Noe kembali dengan tanda tangan merah di pipi, duduk dengan perasaan yang hancur, lemas dan matanya ingin menangis.


"Sungguh wanita itu menakutkan."


Kata Noe dengan tangan yang mengusap sedikit air matanya, aku setuju tentang hal itu.


Aku tidak tega menjahili dirinya, sungguh dia menangis tersedu-sedu dan membenamkan wajah di meja, aku usap pundaknya .


"Sudahlah, sudahlah, dunia memang kejam."


Saat aku melihat kebelakang, wanita itu tidak ada di sana dan memang benar wanita itu menakutkan, seperti siluman yang datang dan pergi secara tiba-tiba.


Jika orang menganggapku seseorang yang pemalas, memang benar adanya dan aku pun malas hanya untuk memperhatikan tingkah mereka ketika melihatku.


Tapi Noe hanya melihatku seperti apa adanya, dia tidak pernah melihat seperti apa aku yang dulu.

__ADS_1


Sejak awal aku mengenal Noe adalah saat dibangku sekolah dasar, memang sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu.


Noe memang sangat merepotkan, disetiap waktu bahkan lebih dari kenalan yang telah lama dan dikatakan sebagai sahabat .


"Apa yang kau pikirkan ?." Aku bertanya.


"Tidak, hanya saja sejak dulu kita selalu seperti ini ya."


Jawab Noe dengan nada yang begitu lemas seperti berpikir terlalu keras , menahan dagu dan menghembuskan nafas yang panjang .


"Dulu kah, tidak, kau sudah berbeda An. "


"Berbeda maksudmu ?."


Tanya aku tentang pertanyaannya itu, dia tidak tersenyum, hanya melihat kedepan dan melanjutkan cerita.


"Apa kau ingat sejak dulu kau itu pendiam, selalu fokus ke lembar soal dan buku pelajaran ."


"Ah iya, aku tahu itu, aku sungguh tidak mengerti dengan keadaanku dulu ."


"Setiap aku mengajakmu bermain An, kau selalu menjawabnya, 'jika aku ikut denganmu bermain maka waktu untukku menghafal semua rumus ini akan terbuang.' itu membosankan sekali ."


Sungguh menyedihkan, bahkan saat lulus sekolah dasar pun pelajaran yang aku miliki sudah ke tingkat SMA dan terus naik hingga aku bosan untuk melakukannya lagi .


"Tapi sejak kapan kau berubah menjadi mudah bosan seperti ini An, yang lebih buat aku bingung, otakmu itu tidak pernah berubah selalu berada di tingkat yang berbeda denganku."


"Entahlah aku pun tidak mengingatnya."


Saat semua siswa pergi untuk kembali ke rumah, aku hanya berjalan sendiri di pinggiran pantai, dengan ombak yang terus menggulung karena angin malam mulai menghembus kuat .


"Harusnya dia sudah berdiri di atas karang itu."


Gumamku dengan melihat karang di ujung pantai sana, tapi aku tidak melihat wanita itu.


Jam sudah menunjukkan waktu setengah enam sore, langit senja pun sudah mulai beranjak gelap, kamera yang aku pegang seakan tidak berguna.


Ini pertama kalinya aku tidak melihat gadis itu datang, kamera yang aku arahkan ketempat biasa dia berdiri menjadi membosankan.

__ADS_1


Angin menghembuskan aroma dingin dari arah matahari terbenam dibalik gunung Fuji, suara camar yang bersuara keras, saling beradu dengan hantaman ombak ke arah karang dan itu sungguh membosankan .


Berjalan dan terus berjalan, hingga tanpa aku sadari aku sudah ada di depan rumah, tampak sepi seakan tidak ada kehidupan di dalam sana.


Aku masih sadar seseorang yang terus mengikutiku, berada di lima puluh meter dari tempatku berdiri .


Sampai kapan dia akan mengikutiku, menyusahkan sekali.


"Hei, apa yang kau inginkan dariku, sejak dua minggu yang lalu kau terus mengikutiku."


Melihat ke arah tiang listrik, dia masih bersembunyi di sana , melihatnya malu dan bersembunyi kembali, saat aku coba untuk berjalan mendekat, dia mencoba untuk lari dan aku berkata .


"Sudahlah, percuma, jika kau hanya ingin mengetahui siapa aku sebenarnya, itu hanya akan membuatmu pusing."


Dia berhenti, tanpa membalikkan badannya dan berkata .


"Aku hanya ingin tahu, kenapa kau begitu pinta , kenapa aku selalu menjadi nomor dua, padahal aku selalu berusaha keras dan kau dengan mudah mendapatkan nilai sempurna."


Teriaknya tanpa memperlihatkan wajah, entah kenapa, aku mengerti apa yang dirasakannya .


"Hari Senin temui aku di gedung lama, maka aku akan menjelaskan semua yang ingin kau tahu."


Melihat gadis itu berjalan pergi dengan santai, aku melihat punggungnya, rambut yang dikepang bergoyang ketika melangkah, aku masih menghela nafas dan hembuskan dengan berat .


Sampai di depan pintu, aku masuk, rasa dari aroma kesedihan sangat kental dari setiap ruangan, gumam suaraku saat berjalan.


"Ibu aku pulang ."


Tidak ada suara yang membalas salamku, di hadapanku hanya bingkai wajah wanita cantik dengan umur sekitar 26 tahun.


Itu adalah foto mendiang sang ibu yang telah lama meninggal, hanya saja, ini menjadi satu-satunya benda berharga yang mengingatkan aku kepadanya.


Di dalam bingkai foto hanya ada kesepian, ibuku masih terlihat cantik di dalam senyum keabadiannya.


Keluarga yang dia jaga, seakan lupa untuk pulang, adik dan ayahku, mereka sudah tidak peduli.


Hanya kesepian yang datang dan menyapaku, langkah kaki adik perempuan yang mengajakku bermain pun sudah tidak bisa aku dengar, aku sudah merasa mati dua tahun yang lalu, saat sebuah keluarga hancur oleh kematian.

__ADS_1


Dan aku masuk ke dalam kamar untuk melepaskan semua lelah di hari ini .


__ADS_2