Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
Gadis pesimis


__ADS_3

Jika kita memikirkan sebuah akibat maka kita harus mencari sebabnya, mungkin perumpamaan tidak akan ada asap kalau tidak ada api.


Bisa menjadi acuan, tentang sebuah hasil dari apa yang kita dapatkan atau lebih tepatnya sebuah karma.


Didalam kehidupanku semuanya adalah karma, aku selalu takut, aku selalu terbayang jika aku tidak bisa mendapatkan nilai sempurna maka bayangan ibu selalu muncul.


Mendekapku dari belakang, sosok wanita yang aku panggil ibu, menangis di dalam jiwaku, kesedihan ibu akan membuatku hancur dan gagal didalam hidup yang aku jalani ini.


Aku mengingat jika Noe pernah berkata, sesuatu hal yang tidak pernah aku pikirkan selama ini.


"An, apa yang kau cita citakan nanti ?." Itu yang Noe katakan ketika di dalam kelas dan sedang di adakan pelajaran matematika.


Tentunya itu juga bukan pertanyaan dari salah satu soal mata pelajaran terutama aljabar atau pun alogaritma.


Mendengar apa yang Noe tanyakan, aku hanya diam, meletakan buku dan pensilku, aku berpikir lebih keras.


Karena sampai saat ini, aku masih belum terpikir tentang masa depan, sedangkan untukku, masa depan adalah tanah antah berantah, tempat jauh tidak terjamah, perlu waktu yang begitu lama dan proses yang panjang, hanya untuk menetapkan tujuan hidup.


Sedikit hati mungkin aku sedikit iri dengan setiap cita-cita yang semua temanku inginkan, mereka semua berani untuk mengambil keputusan.


Walau pun demikian mereka sedikit mengerti untuk apa kehidupan yang di jalani, selama ini demi sebuah cita-cita, kesempatan keberhasilan yang akan di dapatkan adalah kurang dari sepuluh persen.


Tapi sebaliknya denganku, aku yang berusaha mendapatkan nilai sempurna sekali pun tidak bisa melihat apa yang terlihat dimasa depanku nanti.


Keinginan, mimpi dan cita cita, semuanya samar, bahkan gelap, sejak ibu menutup mata, aku sadar seberapa jauh aku sudah berjalan dan kini aku tersesat, hanya untuk kembali pun aku tidak tahu ke mana,


Sungguh di balik semua yang aku miliki, hanya ada kekosongan dan itu membuatku takut untuk berpikir bahwa dengan berubah maka semua akan menjadi lebih baik.


Dan ketika jam sekolah telah lama berakhir, aku masih berdiri menunggu seseorang di tempat gedung lama, dimana sekarang sudah digunakan sebagai ruang ekstrakurikuler.

__ADS_1


Terlihat begitu sepi ketika jam pulang sekolah sudah lewat, melihat seorang wanita datang dengan menundukkan kepala.


"Sepertinya aku mengenalnya ."


Begitu kata yang aku gumamkan disaat melihat wanita itu mendekat, semakin dekat, bayanganku tentang seseorang semakin jelas.


Ya, aku pernah melihat cara dia berjalan itu dan mengingatkan aku kepada Rina si pekerja paruh waktu yang selalu meminta maaf.


"Maaf membuatmu menunggu."  kata pertama yang dia ucapkan dengan malu, sudah bisa aku menebaknya, walau begitu aku tetap kaget melihat bagaimana mungkin dia adalah orangnya.


"Ternyata memang kau bersekolah denganku, aku terkejut ". Kata aku seperti tidak percaya .


"Maaf, jadi sungguh kau baru menyadarinya saat ini ." Wajahnya pun ikut tidak percaya dengan apa yang aku katakan.


"Ya, sungguh mengagetkan ." Jawab aku sedikit lebih tenang.


Awan hitam mulai menyelimuti kepala Rina, mode sikap pesimisnya pun keluar.


"Oi sadar, kembali ke kenyataan ." Guncang aku dipundak Rina.


Jadi dia yang selalu mengikutiku beberapa waktu ini dan orang yang aku janjikan untuk bertemu pun ternyata Rina.


Aku bahkan tidak ingat dia satu kelas denganku, sungguh aura kehadiran yang dia miliki sanggatlah tipis, hingga aku sendiri tidak menyadari jika Rina duduk dalam jelas yang sama.


"Jadi apa yang ingin kau tahu ?."Aku yang bertanya tanpa basa basi aku langsung bertuju ke inti dari pertemuan dengan Rina.


Tapi entah kenapa sikap pemalu Rina muncul, ketika dia akan menjawab pertanyaanku.


"Maaf, tapi memang selama beberapa minggu ini aku terus memperhatikanmu, apa yang kamu makan, kapan kau berangkat, berapa lama kau melamun dan apa yang terus kau lakukan, tapi aku tetap tidak mengerti kenapa kau bisa mendapatkan nilai sempurna ." Jawab Rina dengan menunduk.

__ADS_1


Aku tidak mengerti tentang jalan pikiran gadis ini, hanya saja, apa yang dia lakukan lebih seperti seorang penguntit menurutku.


Bahkan jika Rina melakukan hal itu bertahun tahun, dia tidak akan bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu .


"Oi... apa yang aku makan, tidak menentukan aku bisa mendapatkan nilai sempurna kau tahu." Kata aku dengan sedikit kesal.


"Maaf, jadi apa yang salah, kenapa kau yang hanya bermalas malasan bisa menjadi peringkat pertama, sedangkan aku sudah berusaha keras tidak bisa mengejarmu." Bertanya Rina yang menurutku sedikit menghinaku.


Berharap menjadi sesuatu, tapi dia tidak bisa mendapatkan itu, tentu aku hanya memiliki satu jawaban dari pertanyaan Rina.


"Kau mengerti, bagiku ini seperti sebuah karma." Jawab aku.


"Maaf apa maksudmu." Rina bertanya dengan malu.


"Sejak dulu aku tidak pernah mengenal hal lain selain buku pelajaran, seperti aku lebih menyukai soal matematika, dari pada sepak bola dan itu hanya untuk membuat seseorang yang aku cintai tersenyum, ya... dia selalu tersenyum, ketika aku menunjukkan nilai sempurna ."


Tentunya dia bingung mendengar cerita panjang yang aku ucapkan, semakin terlihat wajah Rina memang tidak tahu apa pun.


"Hingga saat ini aku masih di hantui perasaan itu, aku masih memikirkan, jika aku tidak bisa mendapatkan nilai sempurna perasaan bersalah dan bayangan dirinya menangis selalu datang, maka dari itu aku selalu berpikir untuk mendapatkannya, sedangkan untukku, nilai hanya sebatas ukuran dari standar manusia, tidak lebih dari itu." Lanjut aku mengatakan semua itu kepada Rina.


"Maafkan aku, tapi kenapa kau yang tidak terlihat belajar bisa terus di peringkat pertama ?.".Bertanya dia dengan wajah tertunduk .


"Jadi apa menurutmu itu hanya kebetulan ?, tentunya tidak, sejak kecil apa yang aku pelajari sudah lebih dari materi universitas tingkat sarjana, jadi aku masih bisa mengingat setiap rumus di pelajaran SMA dengan mudah. " Perjelas aku mengatakannya .


Rina terdiam, mendengar jawabanku, seakan itu menjawab apa yang ingin dia ketahui, tapi menurutku ini tidak lebih dari omong kosong, aku membiarkan Rina menerima kenyataan dalam kehidupan ini.


"Tapi bagiku, hanya dengan ini aku bisa membuat ibuku yang telah tiada tersenyum abadi dalam tidur panjangnya ."


Saat aku mengatakan hal itu, seperti aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Apa Rina akan menyerah untuk merebut peringkat pertama atau masih berjuang untuk bisa mengalahkan aku.

__ADS_1


Itu adalah pilihannya dan aku tidak akan menjadikan semua ini sebagai penebusan dosa, karena hanya dengan mendapatkan nilai inilah, aku merasa ibuku tersenyum di dalam keabadian.


__ADS_2