
Tentu saja bukan, karena aku sendiri tidaklah lupa dengan semua hal yang berkaitan tentang keluargaku.
"Bukan, aku adalah anak dari istri ayah kakak yang baru ." Jawabnya,
"Oh aku baru tahu, " Sungguh aku sudah menyadarinya,
Aku sendiri hanya melihat si gadis kecil yang tersenyum saat melihat ke arahku, dia tertawa dan mendekatkan dirinya untuk memeluk.
"Ia kakak, namaku Tita, dan ini Rin ." Perkenalkan dirinya dan juga si adik kecil yang sangat imut itu,
"Ya, aku Yoan, panggil saja An, " Balas aku memperkenalkan diri,
Dia lebih sopan dari pada Nagisa, tapi tetap saja aku masih sedikit kaku jika berhadapan dengan orang yang dekat secara tiba tiba, ini seperti mengatakan 'aku ini saudaramu. titik.', sebuah pemaksaan yang saat kita tidak bisa menolak apa pun, walau hanya sekedar menawar.
"Ya kakak An, ayah sering membicarakan kakak, " Kata si adik baru secara tiba tiba,
"Ah, jangan bicarakan ayahku dulu, aku lebih memikirkan Nagisa saat ini ." Balas aku mengatakan hal yang mungkin di anggapnya aneh, Kami berdua terdiam sesaat, aku sendiri hanya bermain dengan si gadis kecil yang duduk tenang di atas pangkuanku, sedangkan gadis yang bernama Tita hanya berdiri di depanku, tanpa berkata apa pun, hingga satu menit kemudian, aku memulai kembali percakapan kami berdua,
"Jadi, apa Nagisa sudah keluar dari kamarnya, " Tanya aku,
Tita yang mencari tempat untuk duduk, sedikit memikirkan apa yang menjadi pertanyaanku, dia memindahkan kursi yang biasa aku gunakan untuk belajar ke arah depan dan menghadap kepadaku, sedangkan si kecil Rin masih dengan tenang duduk di pangkuanku,
"Sekitar jam 5 Subuh, aku mendengar dia berjalan dan berhenti di pintu kamar kakak, jadi..." Kata Tita,
"Ya, biarkan dia memikirkan semuanya terlebih dahulu, jadi apa kau tidak kembali ke tokyo ." Tanya aku kepada Tita,
Dia sudah terbiasa untuk menatap mataku dan tidak malu untuk menjawab semua yang aku tanyakan, sedangkan aku sendiri masih canggung menghadapinya,
"Aku sudah meminta izin ke sekolah untuk datang ke tempat ini dan mereka mengizinkannya, jadi untuk beberapa hari saja kami masih di perbolehkan untuk tinggal ." Jawabnya dengan tersenyum,
"Ah begitu, " Balas aku tidak terlalu memikirkannya,
Sejauh ini aku sudah bisa mengerti siapa dia wanita datang ke rumahku dan kenapa dia ingin menjemput Nagisa, ya ini sudah sangat jelas ayahku masih memberikan perhatiannya untuk adikku,
"Syukurlah, dia tidak menutup mata kepada Nagisa." Kata aku sedikit bergumam,
Itu gumamku yang tidak terdengar oleh Tita yang sedang duduk di depanku,
"Kakak, Rin lapar."
Si gadis kecil Rin bicara, dengan suara imut mengatakan lapar dan tangan yang memegang perut, memang anak kecil itu sangat imut aku yakin itu,
"Rin Ingin makan apa ?."Tita bertanya kepada Rin dan dengan polosnya rin menjawab,
"Apa aja, tapi sama kakak An ." Jawab di kecil Rin,
Dia bahkan lebih memilihku dari pada mbaknya sendiri sungguh aku bahagia, tapi mengingat hal ini, aku sedikit mengkhawatirkan Nagisa, mungkin saat melihat aku dengan Rin, Nagisa pasti akan merasa tersaingi,
"Kakak, Kenapa kakak tidak ke rumah di tokyo saja ." Tita bertanya,
Dia masih duduk memperhatikan Rin yang tidak melepaskan tangannya kepadaku, aku berdiri menggendongnya dan menjawab apa yang di tanyakan,
__ADS_1
"Ya, mungkin karena aku masih belum bisa meninggalkan semua kenangan di dalam rumah ini, walau saat semuanya telah berakhir di tempat ini, aku masih tidak ingin mengakuinya, aku ingin memperbaiki semua ini ."
"Bukankah itu terlalu rumit dan kakak mensiasiakan semua kesempatan untuk mendapatkan jenjang yang lebih tinggi ." Kata Tita tanpa memikirkan jawabanku,
Aku mengerti dengan apa yang dia pikirkan, tentunya jika bisa aku menebak dia masih berpikir kalau kebahagiaan akan di dapatkan saat dia berada di peringkat pertama,
"Untuk apa aku mendapatkan peringkat tertinggi kalau itu tidak bisa membuatku bahagia, " Jawabanku dengan wajah serius,
"....."
Dia tidak menjawab apa yang aku katakan, bahkan tita hanya terdiam menanggapi apa maksud perkataan sederhanaku,
Terlalu rumitkah sebuah kehidupan untuk mencapai kebahagiaan, sedangkan di dalam pandanganku sendiri sebuah kebahagiaan setidaknya sederhana untuk aku mengerti, seperti menikmati apa yang aku inginkan, ya itulah kebahagiaan, sedangkan apa yang kita sebagai manusia cari di dalam kebahagiaan yang nyata, hanya para manusia itu sendiri yang bisa menjawab seperti apa kebahagiaan untuk mereka,
Hingga saat aku melihat kalender di ruang tengah, ya sebuah tanggal yang bertuju ke dalam ingatan,
"Ya aku lupa, hari ini aku harus mengajarkan Rina, biarlah ." Kata aku secara tiba tiba,
Tita yang melihat wajah bingung dan langsung bertanya,
"kenapa kau terlihat bingung kak."
"Ah tidak aku lupa di hari ini aku ada urusan ." Jawab aku dengan sedikit tersenyum,
"Jangan dulu, nanti luka kakak terbuka lagi ." Balas kata Tita dengan berteriak,
Aku menanggapi apa yang di katakan oleh tita dan juga aku berpikir untuk mengajarkan Rina di rumahku saja,
Melihat kamar Nagisa yang tampak begitu sepi, aku mulai merasa sedikit resah, mulai mendekat dan mengetuk pintu kamarnya,
"Hei Nagisa, apa kau di dalam ?."
Beberapa detik aku tidak mendengar jawaban dari dalam, aku mengetuk pintunya lagi, aku sendiri mengerti dia tidak akan menjawab panggilanku, mungkin karena dia masih memikirkan kesalahannya, masih tidak menjawab, sekali lagi aku mengetuk dan tidak ada jawaban lagi,
"Tita, panggil polisi Nagisa tidak ada di dalam ." Teriak aku dengan tiba tiba,
Ya aku berpura pura, untuk membuatnya terkejut dan itu berhasil, Nagisa langsung membuka pintunya dan berkata,
"Aku masih ada di dalam ."
"Ya, syukurlah kalau begitu, " kata aku mengusap rambutnya,
Melihat matanya yang memerah dan sisa air mata di pipinya, aku menghapusnya dengan telapak tanganku,
"Kau itu, tidak berubah Nagisa ."
Sedangkan si gadis Rin pun mengusap pipinya Nagisa dan berkata,
"Mbak, jangan menangis ." Katanya dengan imut,
Sungguh Rin yang begitu menggemaskannya, Nagisa pun sedikit tersenyum dan menunduk yang kemudian di sertai perkataan maafnya,
__ADS_1
"Maafkan Nagisa kak ."
"Ya, tidak apa apa." Balasku dengan tersenyum,
Nagisa melihat perban yang melingkar di kepalaku, dan mulai membuatnya menangis kembali,
"Sudahlah, sekarang kau juga harus meminta maaf kepada Tita."
Dia mengangguk, walau sebenarnya dia mungkin masih belum bisa menerimanya, tapi aku yang memintanya untuk meminta maaf kepada Tita, berjalan mencari di mana Tita itu, melihat ke sekeliling tidak ada di ruang makan atau pun dapur, hingga sebuah suara datang dari ruang tamu depan,
"Halo, pak polisi, halo, halo " Suara kencang dengan gugup,
Aku berlari untuk menghentikan apa yang sedang di lakukan gadis itu, merebut teleponnya dan langsung berkata,
"Maafkan aku pak, kami tidak terjadi apa pun, maafkan kami pak ."
Saat aku menutup teleponnya, dia sedang menunduk aku melihatnya dengan menggeleng,
"Entah kenapa kau itu tidak bisa di ajak bercanda, " Kata aku sedikit bingung,
"Habisnya kakak menyuruhku untuk menelepon polisi dengan serius ." Jawabnya dengan cemberut dan memang beberapa persen aku memang yang salah tapi tetap saja,
"Ya sudahlah, " Kata aku dengan menghembuskan nafas berat,
Aku menepuk kepalaku, berpikir untuk beberapa saat di rumah ini akan terasa lebih ramai ketimbang saat aku dan Nagisa saja, Nagisa berjalan mendekat ke arah kami berdua, wajahnya malu memerah dan berkata,
"Mbak maafkan Nagisa, Nagisa terlalu egois ." Kata Adikku ini dengan malu malu,
"Ya, tidak apa, mbak juga sudah mengerti kenapa nagisa lebih memilih tinggal di rumah ini ." Jawab Tita yang tersenyum,
Saling melihat dan meminta maaf, memang seperti inilah sebuah keluarga, saling melihat kesalahan dan saling menutupi apa yang salah itu, kemudian bersama memperbaikinya, sedangkan dari ruang tengah Rin yang berjalan ke tempat kami bertiga dengan tangan di perutnya,
"Kakak An, Rin lapar ."
Ya sungguh keimutannya adalah hal yang menakjubkan di saat ini, aku berlari untuk menggendongnya,
"Ya, Rin kakak akan menyuapimu ."
Sedangkan nagisa langsung terlihat cemberut dan berkata,
"Kakak curang lebih perhatian dengan Rin ." Kata Nagisa dengan berteriak,
"Ya itu benar, kami berdua tidak pernah di perhatikan, " Kata Tita mengikuti perkataan Nagisa,
Aku berbalik dan berkata dengan mengangkat tubuh kecil rin,
"Jika kalian ingin di manja, maka jadilah kecil seperti Rin ."
Dengan gembiranya Rin berteriak,
"Ya, Rin yang menang." Katanya dengan wajah polosnya,
__ADS_1
sedikit hal yang bisa aku mengerti saat ini, jika kita berbicara tentang seperti apa kebahagiaan itu maka aku bisa melihatnya di dalam ruang makan dengan semua keluarga yang aku miliki saat ini , dengan berbagi canda dan tawa di atas meja makan bersama, sebuah keindahan yang memang begitu membuatku bahagia,