Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
Zig zag


__ADS_3

Untuk hari ini atau pun hari lain semua terjadi seperti biasa, masih tetap sama, seperti tidak ada yang berubah di dalam kelas ini. Hanya sekumpulan para siswa yang sibuk dengan kertas dan buku pelajaran mereka sendiri, aku tidak peduli dengan apa yang mereka semua lakukan. tapi satu hal ketika aku memperhatikan satu meja kosong di depan kelas,


"Dia masih belum berangkat ."Aku bergumam kepada diriku sendiri,


Memperhatikan jam memanglah masih ada satu jam lagi sebelum dimulainya ujian hari pertama.


"Noe, apa Rina belum datang ." Tanya aku melihat Noe yang sibuk sendiri,


Noe melihatku dengan mulut penuh, bahkan makanan itu belum sempat terkunyah langsung dia telan, kemudian dia akan menjawab,


"Jika kau sendiri sampai bertanya kepadaku, aku tidak tahu harus menjawab apa ."


"Aku merasa percuma bertanya kepadamu ." Aku lemas mendengar Noe.


"Itu kau tahu ." Katanya dengan santai.


Dia melanjutkan kembali memakan roti sarapan pagi, aku tidak bisa berpikir dengan tenang, jika belum memastikan Rina ada di sini,


"Noe, aku pinjam motormu."


Dia memasukkan tangan ke dalam tas, dan melemparkan kunci motor kepadaku, bergegas tanpa memedulikan siapa pun yang menghalangi jalanku, aku berlari layaknya super hero yang akan menyelamatkan seseorang.


walau nyatanya aku hanya orang gagal di dalam kehidupan, berlari zig zag melewati setiap penghalang yang sibuk membaca buku pelajaran di tengah jalan, tidak peduli itu siapa, aku melewatinya dengan anggun, setiap mata yang melihat aku berlagak seperti pelari profesional untuk memenangkan pertandingan, ya ini adalah pertandingan yang menentukan harapan Rina, sesampainya di parkirkan aku mencari motor Noe yang biasa terparkir di ujung lorong, sebuah motor antik CB 100 yang sudah di motif,


"Setidaknya motor ini masih bisa berjalan ." Gumam aku melihat motornya.


Aku langsung tancap gas dengan motor antik ini, menurut perkiraanku untuk bolak dan balik dari sekolah ke rumahnya Rina memerlukan waktu setengah jam dan lima belas menit tentu untuk menariknya keluar rumah dan itu sudah termasuk waktu tambahan jika harus mendengarkan segala alasan ketika Rina berbicara, tidak lupa pula permintaan maaf yang biasa dia ucapkan. sisa waktu sepuluh menit adalah penentu bila ada masalah dadakan,


Melewati jalan raya dengan motor ini dan juga setiap pandangan orang yang melihatku, termasuk salah satu siswa sekolah lain dengan motornya yang berboncengan dengan seorang wanita seperti mengejek, dia berkendara di sampingku tepat, tentunya aku sudah tidak bisa menambah kecepatan, karena putaran gas hanya sampai sembilan puluh derajat saja. seperti mengejek, dia memainkan motornya dengan zig zag, aku sedikit kesal tapi apa boleh buat, ini juga bukan motor miliku.


"Ya ampun ."Aku menggumam kepada diriku sendiri,

__ADS_1


Tapi setelah tikungan di depanku, aku melihat motor orang sebelumnya berhenti dengan ban yang bocor. aku melewati secara perlahan dan menggoyangkan motor zig zag kemudian standing.


Entah kenapa aku tertawa puas di sela kesibukanku sendiri, setidaknya aku menjadi lebih tenang sekarang, aku memacu motor antik ini dengan sekuat tenaga, walau kecepatan maksimal hanya 80KM/jam.


Itu sudah paling maksimal, ya seperti yang aku perkirakan saat aku sampai di rumah rina jam dari ponselku baru menunjukkan 07.45, ini masih cukup karena ujian berlangsung adalah pukul 08.30 beruntung, aku tidak nekat untuk berlari dari sekolah karena itu adalah hal pertama yang aku pikirkan,


Berdiri di depan pintu mengetuknya secara perlahan,


"Rina apa kau ada di dalam."


tidak perlu banyak waktu untuk berdiri lama di depan pintu seperti ini, aku melihat Rina yang sudah berseragam dan aku tarik dia keluar, tapi langkahku dihentikan olehnya,


"maaf, tapi Aku tidak bisa meninggalkan ibuku ." Katanya dengan wajah bingung,


Aku benci melakukan hal ini, tapi aku sedikit emosi jika harus berdebat dengannya sekarang.


"Jadi untuk apa kau berseragam, jika kau tidak ingin mengikuti ujian, ayo cepat ." Kata aku sedikit keras,


"Rina, kemarilah." Panggil sang ibu dengan nada yang begitu lemas.


Rina berlari dengan cepat ke kamar ibunya dan aku pun mengikuti, suasana yang masih tidak berubah, pengap dan sangat gelap, aku masih merinding jika harus berlama lama di tempat ini, tapi aku masih ingin mendengarkan tentang apa yang di harapkan oleh ibunya.


Dengan perlahan nafas yang begitu berat dan perkataan lemah itu, sang ibu berbicara,


"Rina, kamu tidak perlu memikirkan ibumu atau pun ayahmu, percaya pada kami, karena kami ingin kamu menjalani hidup yang lebih bahagia kelak." Perkataannya membuat Rina terdiam.


Termasuk juga aku yang tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyetujui, tapi dari belakang pintu suara tua yang sangat kuat mengatakan,


"Itu benar, Rina, tidak usah kamu pikirkan kami, asalkan kamu bahagia kami akan terus berjuang ." Kata suara Ayah Rina yang begitu berat,


Rina mengangguk, dengan setiap tetesan air mata mengalir membasahi pipi, aku langsung bergegas menarik tangan Rina, melihat ponselku jam sudah menunjukkan 08.10 sedikit diluar perkiraan tapi biarlah, aku bergumam,

__ADS_1


"Masih ada waktu, ayo cepat ." Teriak aku dengan bergegas,


Menyalakan motor Noe, Rina duduk di belakang dan aku langsung tancap gas, Dengan berat semakin bertambah, aku khawatir ini tidak akan sempat jadi aku memutuskan untuk lewat gang tembusan ke arah sekolah, yah seperti di film film, meliuk liuk dan terus menarik gas, melewati setiap lorong sempit dari gang ini,


"Hati hati An." Kata Rina sedikit ketakutan,


"Tenang saja, tenang ." Jawab aku mencoba menenangkan Rina.


Rina dengan gelisah satu tangan memelukku dengan erat, bahkan satu tangannya lagi tanpa sadar mencekik leher ku.


"Tanganmu Rina, lepaskan ." Teriak aku kesakitan,


Dia tidak mau mendengarkan, tangannya semakin keras seperti memang berniat untuk membunuhku, hingga aku berhenti dengan mendadak,


"An, jangan kencang kencang aku bisa jatuh ." Kata Rina yang masih mencekik.,


"Rina, kita sudah berhenti dan tolong, aku tidak bisa bernafas ."


Sekian detik Rina tanpa sadar masih mencekik dan di saat dia sadar aku sudah kehabisan nafas,


"Kau gila apa Rina, kau ingin membunuhku ." Teriak aku sedikit marah,


"Maafkan aku, maafkan aku ."


Walau dia meminta maaf, tapi tetap dia tidak melepaskan cekikannya,


"Sebelum kau meminta maaf lepaskan tanganmu ."


Dia akhirnya sadar dan melepaskan tangan, saat aku merasa nyawaku sudah di ambang batas,


"Baiklah, aku akan pelan tapi jangan mencekikku lagi, " Kata aku membuatnya lebih tenang,

__ADS_1


"Maafkan aku, aku tidak sadar ." Jawabnya dengan gugup


__ADS_2