Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
meminta maaf


__ADS_3

Melihatnya seperti tidak berubah untuk ke sekian kalinya. Wajah yang selalu tertunduk di keramaian kelas, mengumpat di antara tumpukan buku perpustakaan atau pun di belakang poni tebal yang menutupi matanya saat menunduk.


melihat Rina yang terdiam di bangkunya dengan buku di tangan, berjalan perlahan menghampirinya..."Hey, mau sampai kapan kau akan duduk, aku merasa iri dengan bangku itu."


"Apa maksudmu..."


"Tidak lupakan saja, aku hanya bercanda."


"bagaimana bisa aku melupakannya, kenapa kau merasa iri dengan bangku ini." itu jelas pertanyaan yang aneh.


"tolong maaf, jangan bahas tentang bangku."


"baiklah."


Aku bermaksud untuk mengajaknya ke perpustakaan untuk melanjutkan apa yang aku ajarkan kemarin. Tapi sejak awal pelajaran, aku melihat dia terdiam dan hanya duduk menutupi wajah itu dengan buku pelajaran kimia.


"Maafkan aku, maafkan aku, aku tidak berani melihatmu saat di dalam kelas ." Rina dengan terus mengatakan maaf.


Memang dia menganggap aku ini apa, bahkan wajahku tidak begitu menyeramkan. Jika dia menganggap aku sebagai sesosok makhluk astral maka dia hanya harus melambaikan tangan ke arah kamera.


Sungguh wanita yang aneh, sejak kemarin yang hanya saat berada di rumahnya saja dia bisa berbicara secara lancar...."Cepatlah, sebelum jam pelajaran ke lima di mulai " aku yang berdiri di samping meja Rina untuk membawanya keluar.


"Memang apa yang akan kau lakukan."


"ikut saja...."


Aku berjalan di depan dan dia mengikutiku dari belakang, setidaknya aku melihat caranya berjalan, dengan menunduk seperti menghitung lantai, aku sedikit sebal melihat hal ini.


entah apa yang terjadi dalam hidupnya, atau dia terkena kutukan meminta maaf sepanjang hidup ?, aku tidak terpikir hal lain tentang satu gadis ini, karena dia cukup berbeda.


"Apa perasaanku saja, kenapa saat di sekolah kau terlihat begitu canggung ."Tanya aku saat melihatnya yang menunduk.

__ADS_1


"Maafkan aku...." Kata Rina tanpa melupakan kata maaf seperti biasanya.


Sekali lagi dia meminta maaf, apa sekarang kata maaf sedang jadi tren topik untuk hari ini.."Kenapa kau meminta maaf ."


Tanya aku yang melihat Rina berjalan dengan menunduk.


"Maafkan aku ." Itu jawaban darinya.


"Sudah lah lupakan ." Kata aku memikirkan hal yang tidak penting.


Aku melihatnya memang Rina bukan wanita penuh optimis seperti sina atau pun rea. Hanya saja dia memiliki tujuan pasti untuk apa dia melakukan hal ini, hanya saja aku tidak ingin mengasihani.


Aku ingin melihat seperti apa perjuangan yang dia lakukan, berjalan tidak begitu jauh untuk ke perpustakaan, dalam langkah yang dia mengatakan sesuatu dan aku memperhatikan.


"Maaf An, kenapa kau ingin membantuku ." Kata dia yang tiba tiba berhenti, dan itu yang dia tanyakan.


Walau bertanya demikian wajahnya tidak berani untuk menatap langsung ke mataku.


"Ya, bisa di katakan aku ingin melihat seseorang berjuang dan itu menurutku begitu menakjubkan ." Jawab aku yang ikut berhenti dan berdiri saling menatap.


"Jadi apa kau sudah ingin menyerah, bahkan sebelum terisi jawabannya."


Aku yang sedikit tersenyum memandangi mata di balik poni tebalnya dan dia melihatku yang berdiri saat aku memandang wajah tertutup rambut.


"Tidak, aku ingin melihat seperti apa hasil yang aku dapatkan nanti. " jawab Rina dengan semangat dan tanpa meminta maaf, sungguh jarang sekali.


Tentu aku sedikit tersenyum mendengar semangat dari suara lembut namun tegas, mengingat perkataannya saat dia mengatakan kalau ini percuma jika hanya menjadi harapan.


Tapi untukku, orang yang masih memiliki harapan di dalam dirinya itu lebih hebat dari pada seseorang dimana sudah mendapatkan sesuatu untuk menjadi keinginan mereka.


Saat harapan itu masih mengalir maka di dalam hati, dia akan terus berjuang dan melangkah saat berjuang itulah yang membuatnya terlihat begitu hebat.

__ADS_1


"Oh ya, kenapa kau bekerja paruh waktu di Cafe itu ." Tanya aku setelah ingat kalau dia bekerja di Cafe waktu itu.


Masih mengikuti alur pembicaraan kami, dengan langkah kaki yang melewati berbagai kelas dia menjawab...."Aku ingin membantu ayahku, setidaknya untuk sekedar memberikan keringanan di pundaknya itu ."


Tanpa meminta maaf, tapi perkataannya mengundang sebuah rasa sedih untuk di dengarkan.


Ya sudah jelas, tanpa harus aku bertanya demikian. Melihat wajah yang masih tertunduk malu dengan aura sedikit pesimis. Angin menghembus kencang, ya ini angin pergantian musim dingin ke musim semi.


Tidak aku sadari kalau aku memasuki bulan Maret yang berarti juga ujian akhir semester akan di mulai beberapa minggu lagi, rambut lurus itu terurai membuka poni yang menutupi kecantikan wajah si gadis pemalu.


"Kau harusnya lebih terbuka jangan terus menutup diri di dalam sangkar duniamu sendiri ." Kata aku dengan sedikit tersenyum.


Matanya melihat, wajahnya memerah, aku sendiri bahkan mengatakan sesuatu hal yang tidak terpikirkan olehku, bisa di katakan 'aku tidak melihat cermin ' saat mengatakan kata bijak untuknya.


"Maaf aku tidak menyangka, kau bisa mengatakan hal bijak seperti itu ." kata Rina dengan tersenyum, walau aku memang mengatakan hal tidak perlu.


"Memangnya kau pikir aku manusia seperti apa ." aku yang merasa seperti di hina oleh gadis ini.


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, aku memang menganggap kau itu bukan manusia." Semakin jelas dia bicara.


Saat Rina mengatakan hal itu aku seperti memang menganggap diriku yang ini adalah makhluk bertulang punggung di belakang. Berjalan dengan kedua kaki karena telah bisa melewati dan bertahan dari seleksi alam, enganggap seperti teori Darwin, jadi apa benar kita adalah keturunan seekor kera.


Jika aku percaya demikian maka kita tidak meyakini kalau ayah dari umat manusia adalah Nabi Adam, sungguh seperti sedang memandangi konspirasi dari perwujudan pendapat 'siapa sebenarnya manusia itu '.


Hanya saja aku sendiri sudah mempercayainya sejak dulu, kalau manusia di dunia ini bukan berasal dari evolusi kera, tapi para manusia adalah keturunan dari Nabi Adam, ya itu benar.


"Caramu bercanda sedikit menyakitkan ." Aku dengan tersenyum penuh kesakitan, dan dia menunduk dan mengatakan hal yang sama seperti biasa.


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku ." Terus meminta maaf.


Aku sudah mendengarkan kata maafnya itu sejak tadi, dan ini baru terlintas dalam benakku kalau aku merasa bosan mendengarkan orang meminta maaf, tolong maafkanlah hamba mu ini.

__ADS_1


"Kau itu meminta maaf bukan karena sesuatu hal yang membuatmu bersalah, tapi kau menyalahkan dirimu sendiri ."


Sama seperti ku, aku tidak ingin melihat itu, karena aku sendiri muak kepada diriku, setidaknya orang lain tidak menjadi seperti Aku ini, sedangkan untukku kepada siapa aku akan meminta maaf sungguh ironi kehidupan.


__ADS_2