
Manusia memiliki alasan di dalam menjalani kehidupannya, berbagai macam alasan untuk terus bisa bertahan melawan jutaan manusia lainnya.
Jadi apa yang wanita itu lakukan untuk menikmati setiap hal dalam hidup, tentang apa yang dia anggap sebagai saingan berat, sosok penghalang mencapai tujuannya.
Aku bisa melihat, dia masih duduk di bangku dengan semua buku yang tertumpuk rapi di atas meja. Apa yang dia harapkan, membaca dan terus membaca, walau aku tidak peduli apa yang dia lakukan, tapi aku akui tekad wanita satu ini sangat keras.
tidak bisa dibayangkan jika kerja keras itu dia lakukan untuk mengganggu kehidupan sehari-hari yang aku jalani.
"Jika memang kau ingin mendapatkan beasiswa itu, aku bisa membantumu, tapi jika untuk menjadi rangking satu, aku tidak bisa memberikannya." Kata aku yang berjalan ke arah mejanya.
Mengatakan hal itu dengan santai dan kemudian berdiri di sampingnya, dia melihatku, matanya bertanya tanya, apa yang dia pikirkan saat mendengar perkataan barusan.
"Maaf jadi apa yang akan kau lakukan ." Kata Rina dengan mata yang tertutup oleh poni.
"Baiklah, aku akan mengajarkanmu untuk mendapatkan nilai setingkat denganku dan kau bisa mendapatkan beasiswa untukmu ."
Aku dan dia melihat dengan wajah semangat dan berseri seri, tersenyum penuh kepolosan dan memegang tanganku cukup erat.
"Benarkah ? ." Berkata dia dengan semangat bahkan hingga melupakan kata maaf yang menjadi awal setiap dia berbicara .
"Ya aku bisa membantumu ." Aku ulangi, dan dia semakin mendekatkan wajahnya, aku mendorongnya kembali.
Memaksa mendekat dan aku berkata ...."Tolong jangan terlalu dekat, aku tidak terbiasa."
"Maafkan aku, jadi kapan kita mulai." Aku bisa melihat dia sangat bersemangat.
Sedikit berpikir untuk banyak urusan, karena aku sendiri harus memperhatikan Nagisa yang baru saja masuk ke sekolah di tempat ini, jadi ....
"Mungkin besok, hari ini aku sedikit sibuk ." Jawab aku, melihatnya berdiri dengan tegap dan hormat, ucapnya secara tegas .
"Baik guru, " Dia melupakan kata maafnya lagi .
Dengan melakukan ini, aku tidak perlu mengalah atau mungkin dengan sengaja memberikan peringkat pertama karena aku kasihan, bahkan jika bisa aku katakan, aku tidak begitu peduli dengan sebuah beasiswa.
Jalan pikiranku memang sedikit berbeda dengan orang lain, mengerti tentang seperti apa pandangan yang diperlihatkan oleh setiap orang.
__ADS_1
Mereka semua seperti ingin di perhatikan dan terus berlanjut mereka ingin mendapatkan semuanya, karena sebuah kerakusan mampu merusak moral manusia, dan aku lebih baik menghindari itu.
Di hari ini pun berlanjut tanpa aku pedulikan akan seperti apa nantinya. aku berjalan di teras gedung SMP yang terpisah bersebelahan dengan gedung SMA.
Walau masih satu sekolah tapi sangat jarang ada yang datang ke tempat gedung SMP tanpa alasan yang jelas, kecuali dua hal, menjalankan tugas dan mencari pasangan.
Entah kenapa hanya dua itu yang terus di jadikan alasan setiap siswa SMA untuk melewati gedung ini, padahal jarak yang di tempuh seperti memutari lapangan dan berjalan lebih lama untuk pulang .
Melihat kerumunan siswa SMP yang menghalangi jalanku, bahkan mereka terlalu berisik, tapi mungkin aku tahu, kenapa mereka ada di tengah jalan.
Di depan kelas saat jam pulang sekolah seperti sekarang ini, sudah terlihat jelas gadis berkuncir itu terjebak di tengah kerumunan setiap siswa yang mengitarinya.
Hanya berdiri melihat apa yang akan terjadi, tapi itu tidak berlangsung lama, hanya beberapa menit setalah aku datang Nagisa itu menyadarinya.
Wajah marah dan memerah, berjalan mendekat bahkan setengah berlari, melemparkan tasnya sekuat tenaga dan itu keras sekali.
"Mau sampai berapa lama kau akan membuatku menunggu ."
Jelas dia bicara dengan marahnya. Tapi tersenyum aku menjawab semua kemarahan itu tersenyum lebar.... "Ah tidak, hanya saja kakak merasa akan terjadi hal menarik jika terus seperti itu ."
Memang benar itu pasti akan terjadi dan setiap siswa mulai melihatku dengan wajah gugup, tersenyum ketakutan dan menunduk. Salah satu dari mereka datang dan mendekat, wajahnya sangat bingung bahkan tidak berani bicara langsung.
"Selamat siang, senpai."
"Ya... Maaf jika adik perempuan ku kurang sopan."
"Tidak apa-apa, senpai, kami tidak mempermasalahkannya."
"Baguslah, jadi jangan sungkan berteman dengan Nagisa."
Saat kami pergi aku melihat Nagisa yang masih cemberut dengan wajah merah merona. Berada di rumah, Nagisa dengan malas melemparkan tas ke sofa.
Merebahkan diri untuk melepas semua kelelahan di hari ini, aku bahkan seperti melihat seekor kucing yang terlalu banyak makan kemudian sulit bergerak.
"Jangan seperti orang tua, Nagisa, cepat bangun dan ganti bajumu ." Nagisa dengan cemberut dan kesal berjalan pergi meninggalkan tas masih di sofa .
__ADS_1
"Hey, jangan meninggalkan tasmu di sini ." Teriak aku melihat nagisa masuk kamar.
Dia tetap tidak menghiraukan apa yang aku katakan, pergi ke kamarnya dan menutup pintu keras.
Aku melihat ke arah bingkai foto keluarga di ruangan ini, seorang gadis kecil yang berumur delapan tahun mendekap boneka beruangnya tepat di sampingku.
Hingga saat ini yang terlihat adalah gadis cantik dengan keegoisan yang tidak berubah, walau itu sudah bertahun tahun yang lalu
.
"Dia menjadi lebih besar, tapi sifatnya tidak berubah, sungguh dia masih menjadi adik kecilku ." Gumam aku dan menghela nafas.
Dalam gumaman yang terhenti oleh dering nada pesan, melihat ponsel yang aku masukkan ke dalam saku, membuka pesan itu dan membacanya .
"An, bisakah kau datang ke pantai ." Noe yang mengirim.
Entah apa yang terjadi, tapi sangat jarang dia meminta untuk sesuatu yang tidak penting sama sekali. Tanpa perlu untuk membalas pesan, aku segera pergi untuk menemui Noe.
"Nagisa, kakak akan pergi ke pantai sebentar, kau tetaplah di rumah." Ucapku di depan pintu kamar Nagisa dan dia tidak menjawabnya,
Hanya saja sebuah suara pintu terbuka terdengar dan dia sudah muncul dengan baju santai.
"Aku ikut ." Jawab Nagisa.
"Ya baiklah ." Sungguh, dia adik yang sedikit merepotkan .
Jauh dari bibir pantai aku bisa melihat seberapa ramainya di tempat ini. Harusnya aku tahu, ini adalah waktu sebuah kompetisi surfing yang di adakan setiap tiga bulan sekali.
Tapi untuk apa aku datang ke sini, aku sudah cukup lama meninggalkan dunia surfing dan bahkan tidak menyentuhnya sama sekali.
Hingga aku sadar, alasan dimana Noe, temanku itu meminta untuk datang ke sebuah tempat yang tidak ingin aku lihat.
Tapi dari kejauhan aku bisa melihat wajah bahagia Noe dengan melambaikan tangan seperti orang bodoh.
"Tolong An, gantikan aku bermain, kakiku terkilir, aku tidak bisa melakukannya sekarang ." Kata Noe dengan wajah tersenyum polos.
__ADS_1