
Di dalam setiap perjalanan hidup selalu memiliki berbagai macam cerita, tentang kesedihan atau pun kebahagiaan, tentang perjuangan atau pun penyesalan, tentang pencapaian atau pun juga pengorbanan.
Semua itu memiliki alur cerita yang tergambar dengan air mata di setiap persimpangan, tidak terkecuali di jalan yang aku pilih.
Aku hidup, terus berjalan, kemudian berantakan dan kini menjadi memuakkan. Seperti wajahku di pagi ini, bahkan rambutku tampak seperti tanduk, terbelah dua dan menghadap ke atas.
Seakan cermin menunjukkan sisi liarku, dan aku merasa lebih liar dari pada singa yang terbangun dan melihat kalau rambut kebanggaannya telah rontok .
Aku sadar jika semua pakaian dan buku berserakan, merasa jika ini bukan sebuah kamar, lebih mirip seperti gudang dan aku penghuni yang mendiami tempat ini.
Berjalan dan membuka pintu kamar, apa yang aku lakukan selanjutnya adalah mandi, dan berangkat ke sekolah.
Sama seperti biasanya dan semua selalu seperti ini, hingga di depan pintu kamar mandi aku bisa mendengar suara air mengalir dari dalam .
"Oi, Nagisa mau sampai kapan kau akan mandi, kakak bisa telat jika harus menunggumu selama ini ." Kata aku yang berdiri di depan pintu kamar mandi .
Semakin aku meneriakinya semakin dia memperpanjang durasi mandinya, sedangkan jarum jam sudah berada di garis akhir jadwal mandiku .
"Baiklah, kakak akan mandi di rumahnya sina, jadi jangan lupa kunci pintu kalau kau akan keluar ." Kata aku yang bersiap pergi.
Tapi secara tiba-tiba saja, dengan wajah cemberut Nagisa membuka pintu, bahkan dengan sekuat tenaga, tenaga dalam mungkin juga.
"Apa kau sudah selesai ?" Tanya aku melihat ekspresi adikku.
"Aku sudah selesai bahkan sejak dua tahun yang lalu ". Kata Nagisa dengan kesal, dia berjalan melewatiku.
Dengan wajah Nagisa yang semakin marah, apa mungkin aura panas dari Tokyo itu menghanguskan sisi feminimnya dan menjadikan Nagisa temperamental .
Selama aku membasuh tubuh, dari belakang pintu Nagisa menanyakan sesuatu .
"Kak apa siang kau ada waktu ?". Kata Nagisa.
"Memang ada perlu apa kau bertanya seperti itu ".Tanya aku kembali .
Sedikit lama Nagisa menjawab pertanyaanku lagi .
"Tidak, nanti antarkan Nagisa berbelanja, karena semua baju dan perlengkapan Nagisa tertinggal di sana ."
__ADS_1
"Ya baiklah, nanti siang kakak langsung pulang ".Kata aku sambil membersihkan badanku.
Itu hanya sedikit waktu yang aku pikirkan hanya sekedar mengantarkannya ke pusat perbelanjaan.
Singkat cerita.... Barang bawaan yang harus aku pegang lebih dari apa yang terbayangkan .
"Hey, apa perlunya sebuah rice cooker ini dan juga semua ini tidakkah terlalu berlebihan ". Kata aku yang sudah kelebihan muatan.
"Memangnya kenapa, mulai kemarin aku sudah memutuskan untuk tinggal di sini ." Kata Nagisa dengan jelas .
Sungguh sulit membayangkan apa yang akan terjadi jika Nagisa satu rumah denganku, setidaknya hal merepotkan akan datang.
Ketika Nagisa memasuki sebuah toko, di dalam keadaan yang tidak bisa membuatku bergerak bebas, aku melihat salah satu dari temanku datang menghampiri .
"Woh, sepertinya kau kerepotan An." Kata Noe dengan wajah bodoh yang tersenyum mengejek.
"Jangan bertanya jika hanya untuk melihat hal yang membuatku sengsara ." Kata aku sedikit kesal .
Noe tampak bahagia melihat keadaanku saat ini, sedangkan Nagisa masih belum menampakkan diri dari ruang khusus wanita. Semua hal yang berbau tabu untuk aku bayangkan, sebuah toko celana dalam dan semua spesiesnya.
"Memangnya ada pesta apa, kau membawa semua barang ini An ." Bertanya Noe kembali yang masih tersenyum .
Dan akhirnya adikku keluar dengan sebuah kantong berisi tanda tanya, melihat Noe tidak berkedip memandangi sosok wanita yang berjalan menghampiriku.
Harusnya noe sudah tahu tentang Nagisa, hanya saja tatapan itu terasa beda dari apa yang aku pikirkan, dan beberapa saat kemudian air matanya keluar, menepuk pundakku.
"Kau sudah memutuskan untuk belajar menjadi lebih dewasa, aku bangga denganmu An ." Kata Noe dengan wajahnya tersenyum sedih.
"Apa-apaan pandangan matamu itu ." Teriak aku membantah perkataan Noe, sedangkan Nagisa menghampiri, tersenyum dan menepuk pundakku.
"Ayo, " Katanya dengan sedikit menggoda, sedangkan Noe melihatku dengan berlinang air mata,
Melambaikan tangannya mengantar kepergianku tanpa menjelaskan apa pun dengan keadaan ini .
"Nah kak, bukankah tadi itu Noe, kenapa dia melihatku seperti itu ." Kata Nagisa yang pura pura tidak tahu .
"Entahlah, mungkin dia mengira kau itu bukanlah adikku dan menyangka hal yang lain ." Perjelas aku dengan sedikit sedih.
__ADS_1
Selang beberapa lama untuk mengitari setiap bagian toko dengan membawa barang seberat ini, seakan menyiksa, adikku tidak membiarkan kakaknya untuk beristirahat.
Meninggalkanku kembali untuk mencari barang yang dia cari, saat ini dihadapanku sina melihat dengan rasa kebetulan yang sangat kebetulan ini.
Seorang wanita yang tentunya aku kenali, mulai berjalan mendekat saat ketidaksengajaan itu membuatku sedikit takut.
Sina memperhatikan setiap inci dari semua barang yang tergelantung di seluruh tubuhku, sedikit tersenyum dan kemudian berkata .
"Wah tidak aku sangka bertemu denganmu di sini An, " Kata Sina yang tersenyum puas melihatku .
Entah kenapa hari ini seperti telah diatur oleh sutradara, aku sungguh tidak mengerti, ada acara apa hingga semua kenalanku secara kebetulan muncul.
"Ya sebenarnya ini sangat membuatku lebih buruk ."Kata aku sedikit lemas mengatakannya .
Dia melihatku dan semakin menertawaiku, aku sadar ini bukanlah hal yang lucu, bahkan ini lebih seperti sebuah keadaan memprihatinkan.
Bahkan sebelum aku menjawab yang mungkin di pikirkan gadis temperamental ini, tapi tidak perlu waktu yang banyak hanya untuk menanggapi wanita satu ini, sebuah isyarat dari Nagisa melambai dan memanggilku .
"Ayo cepat, " Nagisa yang melambai ke arahku .
"Maaf sina, aku harus pergi, dah ." Kata aku yang langsung pergi menghampiri Nagisa.
Ketika aku pergi, sina melihatku bingung dan marah, sungguh aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika aku bertemu dengannya nanti .
"Hey ....." Kata Sina dengan nada kesal .
"Maaf sina ." Aku potong perkataannya .
Aku pergi dan meninggalkan Sina, setelah semua kegiatan yang Nagisa ingin lakukan, setiap hal yang berlangsung di hari ini sangat membuatku lelah.
Bahkan aku merasa semua persendian di seluruh tulangku bergeser dan itu membuatku tidak bisa bergerak dari sofa tercinta yang aku rindukan ini.
Melihat jarum jam dinding di pukul lima sore, membuatku merasa tersiksa dalam empat jam penuh ujian hidup dan ketahanan tubuh.
"Apa kau yakin untuk tinggal di tempat ini ". Tanya aku kepada Nagisa yang ikut terduduk lemas di atas sofa .
"Ya tentu, aku pun sudah mengajukan surat pindah ke sekolah dekat sini kok ". Kata adikku dengan wajahnya yang tenang .
__ADS_1
"Heh !??."