Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Bab 10 Pulang Ke Rumah


__ADS_3

"Ga ada lima menit, bangun sekarang" Perintah bang Ali.


Ruzen pun langsung membuka matanya dan duduk sambil mengumpulkan nyawanya. Setelah tersadar, Ruzen pun kesal karena sudah di bangunkan oleh bang Ali.


"Ganggu orang tidur aja lu bang" ucap Ruzen yang kesal.


"Msh mending gw bangunin, klo enggak mungkin mati luu tidur mulu" ucap Bang ali.


"Buruan siap siap," perintah bang ali.


"Siap siap kemane bang?" ucap Ruzen yang sedikit bingung dengan ajakan Bang Ali.


"Ke makam, ya balik ke rumah lu. Lu harus pulang biar orang tua lu ga khawatir sama lu" ucap Bang Ali sedikit menasehati Ruzen.


" bngst lu bg, lu lupa klo orang tua gw ga peduli sma gw" ucap Ruzen yang langsung kembali merebahkan badannya kembali.


"Gak ada orang tua yg gak peduli sama darah dagingnya sndri" ucap bang Ali.


"Udh pokoknya lu siap siap sekarang, lu pulang ke rumah. Biar gw yang anterin lu" perintah bang Ali.


"Gak usah di anterin bang, gw bisa sendiri" ucap Ruzen.


"Dengan kondisi lu skrng ini? Kondisi lu patah tangan Zen gimana lu mau naik mtor?" tanya Bang Ali sambil menunjuk tangan Ruzen .


" lah iya gw lupa anjing" jawab Ruzen yang membuat bang ali geleng geleng kepala.


"Udh cepet ah udh siang nih" ucap bang ali.


"Iye ,, galak bener" ucap Ruzen yang segera bergegas untuk cuci muka.


Setelah selesai cuci muka, Ruzen pun begergas menghamipiri bang Ali untuk pulang.


"Bang, ayok anter gw" ucap Ruzen yg saat itu membawa tas yg berisi baju kotornya.


"Ayok gas lah" ucap bang ali ya g mulai meninggalkan markas.


Mereka pun langsung menuju rumah Ruzen menggunakan motor RX King milik bg Ali. Karena motor yang biasa di gunakan Ruzen saat ini sedang rusak parah dan berada di kantor polisi.


Sesampainya di rumah Ruzen, mereka berdua langsung mengetuk pintu Rumah.


"Assalamualaikum.. " ucap Bang ali sambil mengetuk pintu rumah Ruzen.

__ADS_1


"Bang, udh ga usah sopan sopan. Ntar juga pasti mereka marah marah ama gw" ucap Ruzen yang sudah bisa menebak ekspresi orang tuanya.


"Udah gak papa, sebagai tamu harus selalu sopan" ucap Bg Ali.


"Walaikumsalam.. " ucap seorang perempuan dari balik pintu.


" ngapain pulang? Mending gak usah pulang sekalian" ucap Lusi .


Bang Ali yang mendengar ucapan bu Lusi pun hanya geleng geleng kepala sambil mengelus dadanya.


"Ibu,, maaf. Ruzen sekarang lagi habis kecelakaan dan kondisinya belum pulih, izinkan dia beristirahat di rumah. Karena kalo di markas, suasananya selalu berisik jadi saya menyuruh Ruzen untuk beristirahat di rumah agar suasananya tenang" ucap bg Ali.


"Halah, giliran kek gini aja inget Rumah" ucap Lusi sedikit nyinyir.


"Kan udah gw bilang bang pasti ujungnya gini" ucap Ruzen yang berbisik kepada bang Ali.


"Udh pokoknya Lu istirahat di rumah sampe lu bener bener sembuh" ucap bang ali kepada Ruzen.


Lusi yang menganggap hal ini tidak terlalu pnting pun meninggalkan mereka berdua di depan pintu rumahnya.


"Yaudah gw pamit dlu," ucap bang Ali yang saat itu meninggalkan Ruzen.


"Makasih bang lu udah banyak bantu gw. " ucap Ruzen yang di balas jempol oleh bg Ali.


Setelah tidur cukup lama di dalam kamar nya, sore hari Ruzen terbangun karena merasa lapar.


Dia langsung menuju Dapur untuk makan walau hanya makan mie instan.


°°°°°°°°°°°


Ke esokan paginya, Ruzen bangun sekitar jam setengah 7. Dia berniat untuk masuk sekolah karena ia sudah tidak sekolah selama hampir seminggu.


Setelah selesai mandi, ia langsung memakai seragam sekolahnya walaupun sedikit kesusahan karena ia masih menggunakan pelindung di tangannya.


Setelah semua selesai, ia pun bergegas untuk berangkat bersekolah. Kali ini dia berangkat agak pagi karena ia tidak mau di hukum oleh alun ataupun pak herman.


Sesampainya di Sekolah, ia langsung menuju ke kantin untuk sarapan. Karena ia tidak makan dirumah sebelumnya.


Saat sedang jalan ke arah kantin. Ia bertemu dengan Tia yang pasa saat juga akan menuju ke arah kantin di dorong oleh sahabat nya ,hilma.


"Pagi Tiaa, " ucap Ruzen yang membuat Tia dan Hilma kaget.

__ADS_1


"Loh kak Ruzen udh sekolah" ucap Tia yang menunjukkan ekspresi kaget.


"Udah dong, kan gw sekolah pengen ketemu elu" ucap Ruzen yang sukses membuat Tia Salting dan tersenyum di balik cadarnya.


"Eheemmmm, gw dluan aja kali yaaa, takut ngeganggu " ucap Hilma.


"Ehh bareng ajaa" ucap ruzen yang tak ingin Hilma duluan.


" iyaa bareng aja, ga enk sama orang klo cuma berdua" ucap Tia.


"Gw jadi obat nyamuk kalian dong" ucap Hilma yang iri kepada Tia.


"Astaghfirullah,, tia kan cuma temenan sma kak Ruzen" ucap Tia yang senyum di balik cadarnya.


"Jd cuma di anggep temen nihh," ucap Ruzen yang menghoda Tia.


" ehh engga gt kak, Tia kan emg gaboleh pacaran" ucap tia yang sedikit salah tingkah di depan Ruzen.


"Emang kamu kamu sama cwok berandalan seperti gw?" tanya Ruzen yang lagi lagi membuat jantung Tia serasa copot.


"Mau kak, tapi nanti setelah menikah" ucap Tia.


"Yaudh nanti kita bahas lagi sama ibu kamu" ucap Ruzen .


Sesampainya di kantin, Tia dan Hilma hanya memesan minuman. Sedangkan Ruzen memesan makanan karena memang sedari tadi ia merasa sangat lapar hingga perut nya ber bunyi.


"Bude, nasi goreng satu sama esteh tiga" ucap Ruzen yang berteriak agak kencang kepada bude ida.


"Siap bos Ruzen " ucap bude ida dari kejauhan.


Setelah mereka selesai sarapan di kantin, mereka pun ber gegas menuju kelas mereka masing masing karena sebentar lagi jam pelajaran akan segera di mulai.


Sepanjang jam pelajaran berlangsung, Ruzen terus memikir kan Tia. Hingga Rion dan Yoga Sedikit bingung dengan bos nya.


''Bos, lu kenapa diem mulu" ucap Rion.


"Lagi mikirin utang negara gw" ucap Ruzen sedikit bercanda.


"Widihhh siape lu? Presiden? Sampe mikir utang negara" ucap Rion sambil sedikit tertawa hingga terdengar oleh pak herman yang sedang mengajar.


"Kalian bertiga kalau mau ribut diluar" ucap pak Herman yang sukses membuat tiga sejoli terdiam.

__ADS_1


"Iya maaf pak" ucap Yoga kepada pak herman.


Jam pelajaran pun selesai, sekitar pukul dua siang, para siswa bergegas untuk pulang.


__ADS_2