Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Eps 64 Syair Merdu


__ADS_3

BRAKK


Tia sampai terjingkat kaget saat Ruzen membanting pintu kamar mereka dengan sangat kuat, bahkan barang barang yang berada di sekitar pintu itu sampai bergetar karena saking kuatnya Ruzen menutup pintu itu.


Ruzen langsung berjalan ke arah nakas, setelah ia meletakkan kedua piring makanan itu di atas nakas, ia langsung berjalan menaiki ranjang dan duduk di atas ranjang di ikuti oleh Tia yang terkekeh lalu ikut naik ke atas ranjang.


Dada Ruzen naik turun beriringan dengan nafasnya yang memburu, Tia menggeser duduknya lebih dekat dengan Ruzsn lalu mengelus punggung Ruzen.


"Istighfar dulu kak..." Ucap Tia.


Ruzen menarik nafasnya dalam dalam lalu


menghembuskannya pelan.


" Astaghfirullah.." Ucap Ruzen dengan mata terpejam.


"Maaf ya.." Ucap Ruzen dengan nada sendu, sebenarnya ia merasa bersalah pada Tia saat ia harus memperlihatkan hubungannya yang tidak baik dengan keluarganya.


Tapi Ruzen sudah berusaha untuk menahan emosinya Tapi tetap saja ia masih terpancing emosi.


"Nggak papa, kalau gitu kita lanjut makan dulu ya." Ucap Tia sambil beranjak dari ranjangnya dan memutari ranjang untuk mengambil dua piring makanan yang diletakkan di atas nakas oleh Ruzen.


"Nih kak." Ucap Tia seraya meletakkan dua piring makanan itu di atas ranjang lalu ia kembali memutarinya ranjang, sebelumnya ia menyempatkan untuk mengunci pintu


kamar terlebih dahulu.


"Udah ih...." Ucap Tia karena saat ia sudah naik ke atas ranjang Ruzen masih saja berwajah masam.


"Keluarga kaya gitu di lelang bisa nggak sih ?" Tanya Ruzen seraya mendongak menatap Tia yanh membuat Tia langsung menepuk jidatnya.


Sedangkan Ruzen dibuat tertawa terbahak bahak saat melihat raut wajah Tia yang terlihat sangat menggemaskan seperti itu.


"Udah ah, ayo makan dulu. Laper kan habis marah marah?" ujar Tia.


"Iya." Jawab Ruzen seraya meraih piringnya dan melahap makanannya begitu juga dengan Tia yang jugablangsung melahap makanannya.


Hanya butuh waktu 10 menit mereka sudah berhasil menghabiskan makanannya.


"Yah, tadi nggak bawa minum sekalian ya." Ucap Ruzen mengerucutkan bibirnya.


"Gimana kalau Tia aja yang ambil minum sekalian mau cuci piringnya?" Tawar Tia.


"Jangan, nanti malah ketemu sama mama papa lagi." Ucap Ruzen dengan bibir yang kembali mengerucut.


"Oh iya, di tas Tia ada minuman kok." Ucap Tia seraya beranjak dari tempat tidurnya lalu mendekat ke arah sofa untuk mengambil tas ranselnya.


"Alhamdulillah masih penuh." Ucap Tia terkekeh, ia kembali mendekat ke arah Ruzen lalu menyerahkan botol minum itu pada Ruzen.


"Kamu minum dulu habis itu baru kakak." Ucap Ruzen.

__ADS_1


"Kakak dulu aja, Tia nggak bisa kalau minum botol minumnya nggak nyentuh bibir,nanti tumpah semua." Ucap Tia seraya


kembali mendorong botol minum itu ke arah Ruzen.


"Nggak papa, Tia minum dulu." Ujar Ruzen.


"Kak Zen dulu aja." Ucap Tia.


"Minum dulu syang...."


Tia menghembuskan nafas pelan lalu menuruti perintah Ruzen, ia langsung meneguk air itu. Seperti yang dibilang oleh Tia sebelumnya, jika ia minum tidak bisa ngelonggo, bibirnya harus menyentuh bibir botol.


Saat Tia hendak membersihkan bekas bibirnya, Ruzen langsung merebut botol itu dan langsung minum tepat di bekas bibir Tia.


"Enak, rasa strawberry." Ucap Ruzen setelah ia selesai nya.


"Pake liptin tadi." Ucap Tia.


Ruzen mengangguk.


"besok pake lagi ya, kakak suka." Ucap Ruzen.


Tia hanya tersenyum mendengar ucapan Ruzen.


"Tia suka pas kak Zen minum di bekas bibir Tia tadi." Ucap Tia secara tiba tiba.


"Bukan gitu ih kak!" Ucap Tia seraya memukul lengan lengan Ruzen membuat Ruzen kembali tertawa terbahak bahak.


"Becanda sayang, emangnya kenapa?" tanya Ruzen.


"Kaya bunda Aisyah sama Baginda Rasulullah." Ucap Tia dengan senyuman.


"Oh ya?"Tanya Ruzen yang di jawab anggukan oleh Tia.


"Tia punya syair tentang bunda Aisyah sama Baginda Rasulullah, kak Zen mau dengar?" Tanya Tia.


"Mau dong." Ucap Ruzen, ia meraih kedua piring bekas mereka makan lalu meletakkannya di atas nakas.


Setelah itu ia menggeser tubuhnya duduk lebih dekat dengan Tia.


"Tapi kalau suaranya jelek jangan di ketawain ya." Ucap Tia.


"Iyaah."


Tia tersenyum, ia menarik nafas dalam dalam agar suaranya bisa maksimal.


"Mulia, indah, cantik, berseri, kulit putih, bersih, merah di pipimu. Dia Aisyah Putri abu bakar istri Rasulullah."


Ruzen tersenyum mendengar suara merdu sang istri. Tangannya terulur menggenggam tangan Tia.

__ADS_1


"Sungguh sweet nabi


mencintamu, hingga nabi minum di


bekas bilbirmu bila marah nabi kan


bermanja mencubit hidungnya."


Ruzen semakin terlarut ke dalam lagu yang di nyanyikan oleh Tia. tangannya kembali tergerak menggeser tubuh Tia agar menatap ke arah Ruzen sepenuhnya.


"Aisyah, romantisnya cintamu dengan nabi. dengan Baginda kau pernah main lari-lari, selalu bersama hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah."


"Aisyah sungguh manis usira kasih cintamu, bukan persis novel mula benci jadi rindu. Kau istri tercinta, ya Aisyah ya Humaira.... Rasul sayang, kasih, rasul cintamu..."


Tia menghentikan suaranya sejenak demi menatap wajah Ruzen yang juga menatapnya.


"Mulya, indah, cantik, berseri, kulit putih, bersih, merah di pipimu dia Aisyalh Putri abu bakar istri Rasulullah."


"Sungguh sweet nabi mencintaimu bila lelah nabi baring di jilbabmu seketika kau pula bermanja mengikat rambutnya."


Ruzen tersenyum lalu menjatuhkan kepalanya di atas paha Tia, Tia juga tersenyum lalu membelai rambut Ruzen danbmenyugarnya ke belakang.


"Aisyah romantisnya cintamu dengan nabi, dengan Baginda kau pernah main lari-lari selalu bersama hingga ujung nyawa kau disamping Rasulullah."


"Aisyah sungguh manis usira kasih cintamu, bukan persis novel mula benci jadi rindu. kau istri tercinta ya Aisyah Humaira. Rasul sayang, kasih Rasul cintamu, "


Ruzen menangkap tangan Tia yang ada di kepalanya lalu meletakkan di atas pipinya dan Ruzen memejamkan matanya menikmati alunan lagu yang di alunkan oleh Rum.


"Rasul sayang rasul cintamu."


Tia menggerakkan jari jempolnya mengelus pipi Ruzen.


"Bagus banget suaranya." Puji Ruzen membuat kedua sudut bibir Tia terangkat ke atas.


"Makasih kak." Ucap Tia dengan senyuman.


"Ada satu lirik yang kakak pengenin." Ucap Ruzen.


"Maksudnya?" tanya Tia.


"Yang gini. Selalu bersama hingga ujung nyawa kau di samping Rasulullah." Ucap Ruzen menirukan Tia tadi membuat Tia


terbahak bahak dan langsung menenggelamkan wajahnya di bawah dagu Ruzen.


Pasalnya Ruzen menyanyikan lirik itu dengan nada datar dan sangat lurus sangat jauh dengan nada yang digunakan oleh Tia tadi.


"Ih di ketawain dong." Ucap Ruzen, ia mengunci leher belakang Tia agar terus menempel di dada bagian atasnya.


"Kak Zen.... Tia nggak bisa nafas.." Ucap Tia seraya memukul pelan perut Ruzen.

__ADS_1


__ADS_2