Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Bab 23 Ketabahan Anak Yang Tak Di Anggap


__ADS_3

Ucapan itu membuat dada Tia serasa berhenti berdetak. Sedangkan Sigit hanya geleng geleng kepala melihat perlakuan Arman kepada anak nya.


"Ayo bang, Tia.." Ruzen mempersilahkan lebih dulu agar


Sigit dan Tia masuk.


Setelah itu Lusi langsung berjalan menaiki tangga kamarnya tanpa berbicara apapun. Ruzen menghembuskan nafas pelan lalu mengajak bg Sigit, dan juga Tia untuk duduk di sofa Ruang tamu depan TV.


"Maafin sikap mama ya Tia,." Ucap Ruzen  yang merasa tidak enak pada Bg Sigit dan Tia.


"Kalau nggak inget itu orang tua kamu, mungkin saya udah emosi Sam." Ucap Sigit kesal sambil mengepalkan tangan nya karena emosi.


"Abanggg ." Tegur Tia pelan.


"tia jadi nggak yakin kalau mau lanjut ada di sini, baru gitu aja abang udah kepancing emosi." Sambung Tia.


"Astaghfirullah.." Sigit mengelus dada nya menahan emosi nya yang kembali bergejolak.


Tapi ia harus ingat tujuan awal mereka kesini untuk apa, jadi sebisa mungkin ia harus tetap menahan emosi nya.


"Eh aden sudah datang, bibi buatkan minum dulu ya. Maaf bibi habis nyuci baju." Ucap bi iyah pembantu Arman yang baru saja keluar dari kamarnya yang ada di dekat dapur.


"Iya bi, terima kasih ya bi." Ucap Ruzen.


bi Marini mengangguk dan langsung berjalan cepat ke arah dapur.


" Ada perlu apa kalian kesini ?"


Semua orang menoleh ke arah sumber suara, terlihat Arman yang baru saja datang dari arah kamar nya menuruni tangga dan berjalan ke arah mereka yang sedang berkumpul di ruang tamu dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana.


"Paahhh!" Tegur Ruzen sedikit emosi dengan sambutan sang papa yang sangat jauh dari harapan nya.


"Oh ada anak kurang ajar ini juga ternyata, ada apa Zen? Uang jajan kamu dari kakek mu habis atau kurang?" Tanya William dengan nada meremehkan.


Sungguh tangan Sigit terkepal kuat mendengar ucapan Arman yang terdengar sangat menyebalkan di telinga nya, tidak hanya Sigit bahkan Tia juga sama, ia ikut sakit


hati saat mendengarkan ucapan ayah nya Ruzen.


Ruzen menghembuskan nafas pelan lalu tersenyum, "enggak kok pa, Zwn nggak kesini karna minta uang.


Sam mau bicara sesuatu saja sama papa." Ucap Ruzen masih berusaha menahan amarah nya. ia terus mengingat tujuan awal ia kesini.


Sigit mengangguk lalu sejalan lebih mendekat dan berdiri di belakang sofa dengan tangan yang


berpegangan pada punggung sofa.


"silahkan Zen, mau bicara apa?" Ucap Arman


"Boleh papa duduk sebentar?" Ujar Ruzen.


"Nggak bisa, saya nggak akan duduk bersama dengan kalian ." Ucap Arman tersenyum miring membuat kepalan tangan Sigit semakin kuat, bahkan sampai

__ADS_1


kukunya memutih saking kuatnya tangannya terkepal.


"Papah! jangan keterlaluan ya! Kami datang baik baik "


Tegur Sam.


"Sudahlah, tidak perlu basa-basi busuk, mau apa kalian datang kemari" ucap Arman ketus.


Ruzen menarik nafas panjang lalu berucap dalam satu kali tarikan nafas,


"Ruzen, minta ijin sama mama sama papa buat menikah, dan acara nya akan di laksanakan Minggu depan." ucap Ruzen.


Lusi dan Arman sedikit terkejut, tapi mereka segera


menormalkan kembali ekspresi wajah mereka.


"Dengan gadis Lumpuh ini?" Tanya William menunjuk Tia membuat Tia semakin menunduk dalam. Sigit yg mendengat itu pun tak terima. Namun Tia menenangkan emosi sigit.


"Apa itu adikmu? Terlihat seperti *******." Ucap Arman kepada Sigit dan di ikuti tawa dari mulut arman.


"Paah jangan keterlaluan!" Tunjuk Ruzen seraya berdiri menatap sang ayah dengan tatapan tajam.


Arnan tertawa, lalu berjalan memutari sofa dan duduk di ikuti oleh Cintya.


"siapa namamu?" Tanya Arman menatap remeh pada Tia.


"Saya dwi septiana putri biasa di panggil Tia om." Jawab Tia masih dengan kepala tertunduk tak berani menatap Arman.


"apa kamu adik nya ini?" Tanya Arman sambil menunjuk sigit.


Tia diam tidak menjawab.


"Kamu mau menikah dengan nya Zen?" Tanya Arman kembali menatap pada Ruzen yang sudah kembali duduk di tempat nya.


"Iya pahh." Jawab Sanm dengan wajah datar, moodnya sudah tidak baik karna mendengar hinaan Arman pada Tia barusan.


"Terserah kamu saja Zen, yang jelas kalau kamu ada apa apa nanti minta tolong saja sama abang ipar mu itu ." Ucap Arman melirik sigit.


"Saya nggak keberatan!" Ucap Sigit.


"Saya nggak keberatan untuk selalu ada buat Ruzen." Ucap Arman dengan yakin.


"Ya sudah, lalu untuk apa kalian datang kesini? Apa mau meminta Duit?"


"Pah ! Papa jangan keterlaluan bisa nggak sih! Ruzen datang kesini bukan untuk ngemis pa! Ruzen hanya ingat kalau masih memiliki orang tua makanya Ruzen menghormati papa sama mama!"


"Menghormati yang seperti apa Zen? Menikah dengan anak lumpuh seperti dia?" Tanya Cintya ikut bicara.


"Lalu kenapa kalau dia lumpuh?" Ucap Ruzen membentak.


Bi Marini di belakang sana sampai kebingungan yang hendak mengantarkan minuman karna sedang ada perdebatan panas. Sigit menggeleng sungguh begitu terkejut dengan apa yang ia lihat dari Arman dan juga Lusi  yang bisa bersikap seperti itu pada Ruzen, karna sebelumnya ia hanya mendengar cerita Ruzen saja.

__ADS_1


"Sudah? Apa ada lagi yang perlu di bicarakan?" Tanya Arman mengangkat kedua alisnya.


Kedua tangan Ruzen kembali terkepal kuat dan ingin sekali menonjolk wajah sang ayah ini dan melemparkan nya ke laut lepas.


"Sudah , ayo kita pergi." Ajak Sigit yang sudah tahan lagi, ia takut kelepasan dan justru akan membuat Ruzen dan Tiasemakin sedih.


Ruzen menghembuskan nafas pelan lalu berdiri.


"kalau begitu Sam pamit dulu ya pahh, mahh.... Papa sama mama jangan lupa jaga kesehatan.''


Ucap Sam.


"Kamu juga jangan lupa jaga kesehatan Sam, kalau kamu sudah kehabisan uang kamu bisa datang kesini lagi dan minta sama mama." Ucap Lusi menyindir.


Tia mengelus lengan Sigit agar tak terpancing emosi.


"Assalamualaikum.. Maaf sudah mengganggu waktu mama sama papa "Ucap Sam sedikit lemah.


"Ayo bang..." Ajak Ruzen, akhirnya mereka memutuskan untuk keluar dari rumah itu tak sabar lagi dengan


hinaaan Arman yang terdengar sangat keterlaluan.


"Haduh, mau di apakan ini minuman sebanyak ini." Gumam bi Iyah garuk-garuk kepala.


°°°°°


"Abangg. tia juga, maafin mama sama papa yang udah bicara hal-hal yang menyakitkan di hati kalian." Ucap Ruzen saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Sungguh Ruzen merasa tidak enak sekali pada bg Sigit dan juga Tia, kalau saja tidak ada Tia, bisa di pastikan akan ada adu jotos antara Ruzen dengan ayah nya.


"Nggak papa Zen, abang kan sudah di peringatkan sbelumnya sama kamu. jadi abang tidak terlalu terkejut.


Hanya sedikit jengkel saja saat mereka juga seperti itu pada kamu dan Tia." Ucap bg Sigit .


"Iya nggak papa, abang ini punya hati sekokoh baja." "Tia juga nggak papa kok,." Ucap Rum berusaha mencairkan suasana hati Ruzen.


Sam tertawa mengingat pertemuan pertama mereka.


"Dulu Ruzen benci bgt sama Tia bang. Tp skrng udh cinta sama Tia ucap Ruzen


"Benci jadi cinta nih ceritanya." Ucap bg Sigit.


Ruzen menoleh pada Tia sehingga membuat Tia


salah tingkah.


"Eh, ngapain sih kak ngelihatin Tia kaya gitu?" Ucap Tia menutup matanya dengan menggunakan telapak tangan membuat tawa sigit pecah.


"Salting nih." Goda Ruzen.


Ah sungguh Tia ingin sekali melempar Ruzen ke neraka, bisa-bisanya dia menggoda Tia di depan abang nya.

__ADS_1


__ADS_2