
Sementara itu Ruzen meminta Rion untuk menjemput nya di rumah Tia.
"Udah nikah tapi kok kayak orang gak kenal kalian ini " Ucap Rion.
"Lah kan kami nikah secara diem diem. Nanti kalau kami berangkat bareng yang ada satu sekolahan pada tau" Ucap Ruzen sambil menonyor kepala Rion.
Sesampai nya di depan gerbang sekolah Ruzen dan Rion langsung menemuiĀ Yoga yang sudah menunggu kedatangan mereka berdua.
"Widihhh Udah berubah jadi rajin Lo bos !" Ucap Yoga menyiku lengan Ruzen.
"Ya jelas berubah lah , Bininya alim." Sahut Rion.
"On! Lo tutup mulut lo atau gue lempar sendal sekarang juga mulut lo!" Ancam Ruzen dengan mata sedikit melotot.
"Tau nih si oon, sering banget rahasia bocor karna mulut yang gak pakai fikter itu." Ucap Yoga ikut kesal, Rion hanya memberengut lalu memilih diam dari pada salah
bicara lagi.
Hari itu, Tiga sejoli itu sama sekali tidak membuat pelanggaran di sekolah karena memang setiap Rion Dan Yoga mengajak untuk bolos atau pun merokok, Ruzen selalu menolak ajakan kedua sahabat nya itu. Hingga saat jam Sekolah selesai, para siswa bergegas menuju rumah nya masing masing tak terkecuali Ruzen dan Tia.
Ruzen dan Tia memutuskan untuk pulang bareng menggunakan taxi karena rencananya Ruzen dan Tia akan mampir ke rumah kakek Heri.
Tentu saja mereka menaiki taxi saat suasana Sekolah sudah mulai sepi. Itu bertujuan agar rahasia mereka tetap ter jaga
Saat taxi pesanannya sudah sampai, Ruzen pun membantu Tia menaiki Taxi tersebut. Dan setelah berhasil membantu Tia, Ruzen lalu duduk di sebelah istrinya.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah kakek nya.
Hanya membutuhkan waktu 20 menit saja untuk tiba di rumah kakek Heri.
Setibanya di rumah kakek, Ruzen langsung menuju pintu masuk dan kemudian mengetuk pintu besar rumah kakeknya.
TOK TOK TOK.....
"Assalamualaikummm" Ucap Ruzen sambil mengetuk pintu.
Tak lama bi momon menjawab salamnya dan membukakan pintu.
"Walaikumsalam, sebentar." Ucap bi momon sambil membuka pintu.
"Eh aden dan non Tiaa, Masuk den " sambung bi momon.
"Terima kasih bik" Ucap Tia sambil tersenyum melihat perlakuan bi momon.
"Kakek ada bik?" Tanya Ruzen sambil mendorong kursi roda Tia.
__ADS_1
"Ada denn, lagi di kamarnya. Aden mau minum apa biar bibi buatin" Tawar bi momon.
"Emm jus mangga aja deh bik, kalau tia mau apa?" Tanya Ruzen pada istrinya.
"Tia mau teh anget aja bik" ucap Tia lembut.
"Oh iya bik tolong panggilkan kakek yaa" Ucap Ruzen.
"Siap den. Sebentar yaa" ucap bi momon yang meninggalkan Ruzen dan Tia di ruang tamu.
Lima menit berselang, Terlihat lah Heri yang sedang menuruni tangga Rumah nya.
"Cucu ku yang kurang ajar" Ucap Heri menyapa Ruzen.
"Kakek ada Tia loh. Kok gitu bicara nya " Ucap Ruzen.
"Hehe iya maaf maaf" Ucap kakeknya sambil duduk di sofa empuk miliknya.
"Kalian kesini naik apa? " Tanya kakek nya.
"Naik taxi kek" Ucap Tia .
Heri yang mendengar itu pun terlihat berdiri dan pergi sejenak meninggalkan Ruzen dan Tia.
"Sebentar yaa" ucap heri.
"Nih " Ucap Heri sambil meletakkan kunci mobil di depan Tia setelah dia kembali.
"Apa ini kek ?" Tanya Tia kebingungan.
"Itu hadiah dari kakek atas pernikahan kalian" Ucap Heri sambil menyalakan rokok .
"Kakek tapi Tia tidak butuh ini, lagian Tia tidak bisa mengendarai mobil dengan kondisi Tia yang seperti ini." Ucap Tia seraya meletakkan kembali kunci mobil yang di berikan oleh Heri.
"Kan bener apa yang Ruzen tebak, Ruzen nggak salah kek. Memang Tia nggak mau mobil." Ucap Ruzen. "Sudahlah kek, memang ini mobil itu sudah menjadi rezeki Ruzen." Ucap Ruzen seraya mengulurkan
tangannya hendak meraih kunci mobil itu, tapi dengan cepat Heri langsung mengambilnya.
"Tidak ada! Ini kakek berikan pada Tia bukan padamu." Ucap Heri sinis.
" kenapa kakek semakin lama semakin tambah menyebalkan sih? Kan kalau Ruzen yang bawa mobilnya
otomatis Tia juga akan ikutan, pelit banget sih sama cucu sendiri." Ucap Ruzen nyinyir.
"Biarin aja pelit, jangan harap kakek akan kasih kamu rumah dan kendaraan dengan mudah . Kamu sudah berani mengambil keputusan besar dan kamu harus bisa berkorban lebih besar lagi." Ucap heri.
__ADS_1
"Udah Tua ,Pelit lagi" Ucap Ruzen perlahan namun terdengar oleh kakeknya.
"Heh bocah tengil! Kakek sayang sama kamu bukan berarti kakek harus memberikan semua yang kamu mau,
kakek menyayangi kamu dengan cara kakek sendiri." Ucap Heru ketus membuat Ruzen terkekeh.
"Ruzen jadi curiga deh, jangan-jangan sebenarnya kakek
udah bangkrut. Makanya kakek nggak bisa buat ngasih hadiah untuk Ruzen." Pancing Ruzen.
"Iya kakek memang sudah bangkrut!" Ucap Heri ikut
berdrama saat paham pancingan dari Ruzen.
"Cih kakek sih terlalu sering jadi sugar Daddy makanya cepet bangkrut kan. Sudah tua cepetan tobat kek."
Ucap Ruzen tanpa dosa yang langsung membuat mata Heri melotot.
"Dasar anak ingusan!" Heri langsung melemparkan bantal sofa kembali mendarat di wajah cucunta.
BUGH
"Sudah ambil ini." Ucap Gaston seraya melempar kunci mobil itu ke arah Ruzen yang langsung di tangkap oleh Ruzen.
"Nah gitu dong, mau ngasih ke cucu aja harus di omelin dulu, harus di ejek dulu. Kalau mau ngasih ya kasih aja." Ucap Ruzen sambil memasukkan kunci mobil itu ke dalam sakunya.
Heri memutar bola matanya lalu geleng-geleng kepala melihat tingkah Ruzen yang selalu saja 'morotin' sejak dulu. Tapi Heri senang karna Ruzen bisa bersikap seperti itu padanya, dulu awal-awal Ruzen sama sekali tak
mau di belikan makanan atau mainan, Ruzen juga tidak berani meminta semua itu pada Heri, tapi setelah mereka semakin akrab Ruzen jadi sudah bisa menerima Heri.
"Oh iya mulai besok kalian tinggal disini" Ucap Heri.
Ruzen dan Tia yang mendengar itupun saling tatap karena kaget.
"Baru juga kemaren nikah kek udh di suruh pindah aja." Ucap Ruzen.
"Udah gaush banyak protes, pokok nya besok harus sudah tinggal di rumah kakek." paksa Heri
"Emang kenapa sih kek kok harus buru buru?" Tanya Ruzen penasaran.
"Kakek sudah mencari dokter yang akan merawat Tia agar bisa sembuh dari lumpuhnya. Dan mulai besok dokter itu akan selalu datang ke rumah kakek. Jadi kalian besok sore harus sudah dirumah kakek. Tenang saja dokternya itu perempuan jadi gak papa kalau harus menyentuh Tia " ucap Heri yang membuat tia kebingungan.
"Maaf kek, tapi Tia tidak punya uang untuk membayar nya" Ucap Tia.
"Sudah tidak usah memikirkan itu, biar kakek semua yang urus. Yang penting kamu besok harus sudah tinggal di rumah kakek." Pinta Heri.
__ADS_1
Ruzen yang mendengar niat baik kakek nya pun langsung setuju tentang ucapan kakeknya barusa.
"Oke kek, besok sehabis pulang sekolah, Ruzen bakalan langsung kesini dan tinggal disini." Ucap Ruzen penuh semangat.