
"Oh, pantas saja kamu mau menikahi Ruzen, karena kamu tahu kalau Ruzen itu anak orang kaya kan?"
Lagi lagi suara Arman membuat Ruzen menatap tajam ke arahnya, sedangkan Lusi hanya melirik sekilas ke arah suanminya lalu fokus kepada makanan yang ada di
hadapannya.
"Papa bisa nggak sih kalau bicara yang sopan sedikit aja." Ucap Ruzen dengan tatapan tajamnya menatap ke arah Arman yang tersernyum mengejek ke
arah Ruzen.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu sama papa? Papa hanya menanyakan sesuatu yang pantas untuk papa tanyakan." Ucap Arman sinis.
Saat Ruzen hendak kembali membuka mulutnya, Tia lebih dulu menggenggam tangannya di bawah meja memberi isyarat agar Ruzen tidak menanggapinya.
Lagi lagi Ruzen hanya bisa diam, jika saja di sini tidak ada Tia, mungkin sudah terjadi pertengkaran hebat di antara mereka sama seperti sebelum sebelumnya.
Tapi saat ini Ruzen sadar bahwa ada Tia di antara mereka, dan Ruzen tidak ingin Tia menjadi merasa tidak nyaman hanya karena pertengkaran mereka.
"Kelas berapa kamu?" Tanya Lusi lagi.
"Kelas sepuluh ma, satu bulan lagi naik kelas 11." Jawab Tia.
"Dan kamu sudah mau menikah di umur yang semuda itu?" Tanya Lusi dengan alis yang kini benar benar mengkerut kebingungan.
"sebenarnya apa yang kalian lihat dalam
pernikahan sampai kalian memutuskan untuk menikah di usia yang masih bocah seperti ini." Tanya Lusi yang kali ini membuat Tia menundukkan kepalanya dalam.
"Sudah lah ma, Apa nggak lebih baik kita makan dulu. Kalau kita udah selesai makan baru kita lanjutin obrolannya." Ucap Ruzen yang sudah mulai kesal dengan ucapan kedua orang tuanya ini.
"Sekarang papa yang balik tanya sama kamu, bisa nggak sih kamu itu kalau bicara sopan sedikit aja? Apalagi kamu ini bicara sama orang tua loh." Tanya Arman membalikkan pertanyaan yang tadi di lontarkan oleh Ruzen kepadanya.
"Memangnya di bagian mana Ruzen bicara nggak sopan? Di kalimat bagian yang mana yang Ruzen nggak sopan?"Tanya Ruzen.
Tia menggenggam kuat tangan Ruzen dengan sedikit mengelusnya berharap agar Ruze tidak terpancing emosi.
Lusi tidak lagi bertanya dan kembali melanjutkan makannya yang sempat terjeda.
Ruzen menghembuskan nafas pelan lalu menoleh ke arah Rum.
"di makan dulu sayang." Ucap Ruzen yang
__ADS_1
memang ia sedang khawatir kalau Rian tiba tiba datang karena Tia melepas cadarnya.
Tia mengangguk dan langsungbmenuruti Apa yang di perintahkan oleh Ruzen.
Di sepanjang mereka makan tangan Ruzen dan juga tangan Tia terus tertaut di bawah meja, bukan karena lebay, bucin atau apa. Tia hanya tidak ingin sampai Ruzen kelewatan nantinya.
Dengan cara ini mungkin Ruzen akan teringat bahwa ada Tia di sampingnya dan bisa berusaba menjaga emosinya.
"Oh iya nak, malam ini mama sama papa bakalan pulang." Ucap Lusi kembali membuka suaranya.
"Kenapa cepat sekali ma?" Tanya Ruzen basa basi.
"Mama tidak nyaman menumpang di rumah ini." Ucap Lusi.
"Maksud mama apa?" Tanya Ruzen yang memang tidak paham dengan apa yang di ucapkan oleh Lusi.
"Iya Mama memang tidak nyaman menumpang di rumah orang lain." Ucap Lusi mengangguk.
"bukankah memang rumah ini diberikan oleh kakek untukmu saja?"
DEGH
"Orang lain?" Ujar Ruzen menatap ke arah sang ibu dengan penuh tidak percaya.
"Kalau begitu lebih cepat lebih baik ma, nggak baik kan kalau numpang di rumah orang lain lama lama?" Ucap Ruzen.
"Ruzwn! Sudah mulai kembali kurang ajar ya kamu!" Ucap Arman menatap ke arah Ruzen dengan murka saat mendengar ucapan Ruzen barusan tadi.
"Kenapa lagi? Ruzen salah lagi? Ruzen kan cuma ngucapin apa yang barusan di ucapin sama mama." Ucap Ruzen menatap tajam ke arah kedua orang tuanya secara bergantian.
"Udah kak." Ucap Tia lirih membuat Ruzen sadar dan langsung memejamkan matanya kuat.
Sebenarnya kalau ditanya tentang terima atau tidak, jelas Ruzen sangat tidak terlibat dengan perlakuan kedua orang tuanya.
Mereka sendiri yang berbicara seenaknya tapi kenapa mereka juga yang merasa sakit hati dan merasa tidak dihormati?
"Sudah Mas lebih baik kita segera habiskan makanan ini dan segera pulang." Ucap Lusi.
Akhirnya di meja makan itu mulai tenang dan semua orang kembali fokus kepada makanannya masing masing.
"Assalamu'alaikum.."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam.."
Tia tersentak kaget saat tiba-tiba Bang Rian datang dan ia mengucapkan salam saat dirinya sudah berada di dekat ruang makan.Dengan segera Tia meraih cadarnya hendak ia gunakan.
"Di buka saja, memangnya kenapa jika Rian melihat wajahmu? Bukankah dia juga Kalkak iparmu?" Tanya Lusi.
"Biarkan saja, dia terlalu paham seperti nabi. Jadi hanya suaminyan saja yang bisa melihat wajahnya." Ucap Arman yang kembali membuat kedua tangan Ruzen ter kepal kuat.
Sungguh Ruzen dibuat heranbdengan isi keluarganya sendiri, apalagi saat ia melibhat Rian yang terus menatap ke arah Tia.
Ruzen langsung membalikkan tubuhnya ke arah Tia dan membantu Tia mengikat cadarnya.
"Ruzen sama Tia makan di kamar saja, kami tidak bisa makan dengan manusia seperti kalian. Menjijikkan." Ucap Ruzen seraya berdiri lalu mengambil piringnya an juga piring Tia.
"Ayo Sayang."ajak Ruzen.
"SAM! JANGAN KURANG AJAR YA KAMU!" Teriak Arman yang tidak terima dengan ucapan Ruzen.
Ruzen sama sekali tidak menghiraukan Lusi dan jugaa Arman apalagi Rian yang sudah berwajah masam karena Ruzen pergi ke kamarnya sambil mengejek mereka bertiga.
"SAM!!!!" Teriak Arman.
"Sudah biarkan saja, lebih baik kita habiskan makanannya sekarang Setelah itu kita pulang." Ucap Lusi menepuk William agar dia tenang.
"Pulang? Kenapa harus cepat sekali kita pulang ma?" Tanya Rian yang tentu saja tidak suka.
"Kita harus segera pulang karena memang papa besok udah mulai kerja ." Ucap Lusi.
"Tapi Rian masih mau tinggal di sini mah." Ucap Rian dengan bibir yang mengerucut.
"Ya sudah kalau kamu mau di sini ya kamu di sini dulu tapi mama sama papa mau langsung pulang karena memang papa udah mulai kerja besok." Ucap Lusi yang
membuat kedua sudut bibir Rian terangkat ke atas.
"Oke, kalau begitu Agam akan menginap di sini selama beberapa hari lagi." Ucap Rian.
"Ya sudah, Kalau begitu kamu cepat makan dulu mama sama papa mau persiapan beresin barang barang buat pulang ke rumah." Ucap Lusi.
yang memang saat itu sudah selesai dengan urusan perutnya begitu juga dengan Arman.
"Papa sama Mama mau langsung naik ke atas kamar dulu ya." Pamit Lusi yang langsung di jawab anggukan oleh Rian.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan dari Rian, Lusi langsung berjalan menaiki tangga menuju ke kamarnya dengan diikuti oleh Armandi belakangnya.