
*Tia mengangguk lalu mendekat ke arah Ruzen. Tialangsung memutar tubuhnya
membelakangi Ruzen dan Ruzen langsung mendekat untuk mengikatkan cadar milik Tia.
"Udah. kurang longgar nggak?" Tanya Ruzen yang langsung di jawab gelengan oleh Tia.
"Udah kok Kak, udah pas." Ucap
Tia.
"Makasih ya." Ucap Tia yang juga di angguki oleh Ruzen.
"Ayo Keluar, kita mau sarapan di
rumah atau di luar aja?" Tanya Ruzen
meminta pendapat.
"Kalau di luar aja gimana Kak? Soalnya kalau di rumah pasti akan ada Bang Rian, Tia nggak akan nyaman kalau makan bareng sama laki laki lain" Ucap
Tia.
"Ya udah kalau gitu kita makan di luar aja ya." Ucap Ruzen.
ia mengambil kunci yang berada tergantung di belakang pintu.
"Ayo." Ajak Ruzen.
Tia mengangguk setelah menyampirkan tasnya di pundak ia langsung mendekat ke arah Ruzen.
Ruzen meraih Kursi roda Tia lalu
mendorongnya dan membawanyabkeluar dari kamar.
"Kamu mau kemana Ruzen? Keluarga kita masih berduka dan kemungkinan hari ini masih akan ada lagi orang yang berkunjung. Kamu mau pergi ke mana memangnya memakai pakaian yang rapi seperti itu?" Tanya Lusi saat melihat Ruzen
dan juga Tia mengenakan pakaian yang rapi.
"Ruzen cuma mau ke makam kakek kok. Sebentar aja insya Allah nanti Ruzen langsung pulang ya." Ucap Ruzen.
"Ya sudah kalau begitu, nanti kalau pulang tolong bawakan air mineral yang gelasan itu ya masih sisa satu kotak yang ada di sini kasihan nanti kalau ada tamu lagi." Ucap Lusi.
"Iya ma nanti Ruzen bawakan." Ucap Ruzen.
ia berjalan mendekat ke arah Lusi dan juga Arman lalu mencium punggung tangannya
dengan dikuti oleh Tia.
"Kalau begitu kita pamit dulu ya mah pah Assalamua'laikum." ujar Ruzen berpamitan.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." Ucap Tia mengikuti Ruzen.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh.." Jawab Lusi dan juga para
pembantu yang memang masih
membereskan barang-barang dibruang tamu.
Sedangkan Arman hanyabmenatap ke arah putranya itu, hari ini wajahnya terlihat biasa dan datar tidak ada raut wajah kebencian atau raut wajah emosi.
Sepertinya memang Armab tidak membenci Rusen, mungkin dia hanya ingin menentukan jalan hidup Ruzen, sedangkan dia lupa bahwa Ruzenbadalah anak yang tidak suka jika jalan hidupnya ditentukan.
Akhirnya Ruzen dan juga Tia bisa keluar dari mansion itu, mereka memutuskan pergi ke makam kakek Heri dengan menaiki mobil yang terakhir kali diberikan secara langsung oleh kakek Heri.
Tia mengeryitkan keningnya saat Ruzen tidak membawanya ke arah pemakaman itu melainkan membawa ke arah lain.
"Kak Zen lupa jalan ke makamnkakek atau emang nggak tahu jalan ke makam kakek?" Tanya Tia menoleh ke arah Ruzen.
"Nggak kok nggak dua-duanya, Kakak mau jemput Yoga sama Rion dulu. Kata Yoga ibuk nggak buka cafe jadinya Kakak mau ajak mereka bertiga sekalian." Ucap Ruzen.
Tia manggut manggut lalu kembali menatap ke arah jalanan yang berada di depannya.
"Oh iya Kak Zen, Tia mau nanya dong." Ucap Tia saat ia teringat sesuatu.
"Mau nanya apa?" Tanya Ruzen.
ia menoleh sekilas ke arah Tia lalu kembali fokus kepada jalanan yang ada di depannya.
Cittttt
Dengan tiba tiba Ruzen langsung
menginjak rem mobilnya dengan kuat saat tiba tiba Tia menanyakan tentang hal itu.
"Ada apa kak?" Tanya Tia terkejut saat Ruzen tiba tiba mengerem mobilnya mendadak, Tiabahkan sampai mengelus dadanya karena terkejut.
"Astagfirullah..." Ruzen menggelengkan kepalanya pelan lalu kembali melajukan mobilnya.
Tia hanya diam saja saat Ruzen juga hanya diam tidak menjawab pertanyaannya.
"Kamu tahu tentang kejadian 1 tahun yang lalu dari mana?" Tanya Ruzen tanpa menoleh ke arah Tia danbtetap fokus pada jalanan yang berada di depannya.
"Lupa, Tia lupa . Tia dengarndari siapa cerita itu.
Yang jelas orang yang cerita sama Tia dia belum cerita sampai selesai dan Tia bingung makanya Tia nanya sama
Kak Zen sebenarnya apa yang terjadi
sama satu tahun yang lalu?" Tanya
__ADS_1
Tia.
Kamu yakin kamu mau tahu tentang apa yang terjadi di 1 tahun yang lalu?"
"Iya, Tia mau tahu semua tentang cerita Kak Zen.Tia mau nggak ada satupun hal yang ditutup-tutupi dari Kak Zen . Tia mau kita saling terbuka dan tidak ada rahasia apapun." Ucap Tia.
"Termasuk tentang cerita kenapa orang tua kamu meninggal?"
DEGH
Tia sedikit kaget saat Ruzen tibatiba membahas tentang itu.
"Kenapa sayanh? Bukannya kamu sendiri yang bilang kamu nggak mau ada satu hal pun yang menjadi rahasia diantara kita?" Tanya Ruzen.
Tia menarik nafasnya dalam-dalam lalu
menghembuskannya pelan, setelah
itu Tia memberanikan diri untuk mengangguk menyanggupi kesepakatan yang diberikan oleh Ruzen.
"iya, setelah Kak Zen cerita tentang kejadian 1 tahun yang lalu Tia akan
menceritakan tentang bagaimana
kejadian yang bisa membuat orang tua Tia meninggal." Ucap Yoga dengan kepala sedikit tertunduk. Jujur saja sebenarnya Tia
enggan jika di minta untuk mengungkit kembali cerita ini, cerita yang oleh Sigit saja dikubur sangat dalam, tapi bagaimanapun Andi harus tahu karena Ruzen adalah suaminya.
Seperti yang dibilang oleh Tia. Tadi bahwa menurut Tia dalam hubungan keluarga apalagi seorangbsuami dan istri tidak baik jika ada sebuah rahasia.
"Oke, sekarang kakak dulu yangbcerita sama kamu Dan nanti kalau kita pulang dari ziarah di kuburan kakek baru kamu cerita sama kakak. tentang cerita itu ya." Ucap Ruzen yang di angguki oleh Rum.
"Jadi, satu tahun yang lalu. Tepat ketika kakak baru kelas 1 SMA. SMA, saat itu bang Sigit masih menjadi ketua Black cobra waktu itu dia masih kelas 3 SMA*."
****Flash back on****
*Tadi bahwa menurut Tia dalam hubungan keluarga apalagi seorangnsuami dan istri tidak baik jika ada sebuah rahasia.
"Oke, sekarang kakak dulu yang cerita sama kamu Dan nanti kalau kita pulang dari ziarah di kuburan kakek baru kamu cerita sama kakakbtentang cerita itu ya." Ucap Ruzen yang di angguki oleh Tia.
"Jadi, satu tahun yang lalu. Tepat ketika kakak baru kelas 1 SMA.
saat itu bang Sigit masih menjadi ketua Red ke dragon waktu itu dia masih kelas 3 SMA."
Flash back on*
"Bang, menurut lo gimana kalau gue nembak Anggi? Menurut lo gue bakalan diterima nggak sama Anggi?" Tanya Ruzen minta pendapat pada Sigit.
Mendengar pertanyaan dari Ruzen, Sigit langsung menoleh ke arah dan langsung menatap tajam ke arah Ruzen.
__ADS_1
"Coba ulangi lagi kata-kata lo barusan, ulangi lagi pertanyaan lo tadi!" Ucap bang Sigit yang membuat Ruzen mengangkat sebelah alisnya karena kebingungan dengan sikap bang Sigit yang tiba-tiba
seperti tidak mood.