Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Bab 46 Kabar Duka


__ADS_3

Drrt Drrt Drrt


Tia menoleh saat mendengar ponsel yang di bawa oleh Ruzen berdering pertanda ada telpon masuk tapi Ruzen sama sekali tak berniat mengangkat telpon itu dan terus


mengabaikannya walaupun sudah berulang kalu berdering.


"angkat dulu telfon nya kak, Kenapa nggak di angkat telponnya cobak?" Tanya Tia.


"Anggi yang telpon, boleh di angkat?" Tanya Ruzen memperlihatkannlayar ponselnya pada Tia sehingga Tia dapat melihat panggilan masukndari nomor tanpa nama.


"Di angkat aja kak, siapa tau hal penting." Ucap Tia membuat Ruzen mengangkat satu alisnya karnabmerasa bingung.


"Yakin mau di angkat aja?" Tanya Ruzen meyakinkan.


Tia menganggukndengan senyuman menanggapi pertanyaan Ruzen.


Ruzen pun mengangkat kedua bahunya


lalu menurut dan mengangkatbpanggilan itu, tanpa di duga Ruzen menyerahkan ponselnya pada Tiablalu pergi ke kamar mandi.


"Hallo Zen..." Sapa Anggi dari sebrang telepon saat telepon sudah tersambung.


Tia masih diam belum menjawab dan masih menatap pintubkamar mandi, tempat dimana punggung Ruzen tadi menghilang.


"Hallo Zen?" Ini lo kan?" Tanya anggi lewat telefon.


"maaf kak, Ini kak Ruzen masih di kamar mandi kak" Ucap Tia.


"Loh ini siapa?" Tanya Anggi saat mendengar suara wanita yang menjawab telfonnya.


Tia tak menjawab pertanyaan Anggi lalu ia pun mematikan telefon itu.


"Udah?" Tanya Ruzen saat kembali dari kamar mandi sambil terus berjalan ke atas kasur nya.


"Udah kak'' Ucap Tia mengangguk.


" Ngapain dia nelfon ?'' Tanya Ruzen.


"Gak tau kak, tadi kak anggi bilang halo langsung tia matiin telfonnya" Ujar tia.


"Gitu tadi nyuruh angkat telfonnya" protes Ruzen.


"Kak Zen masih suka sama kak anggi ya?" Tanya Tia.


"Ha kan nanya itu lagi, udah berapa kali cobak kamu nanya itu? Kan kakak udh bilang, kakak gak suka lagi. Mau berapa kali pun kamu nanya itu ya jawabannya bakalan ttep sama aja enggak" Ujar Ruzen .


"Ya kan siapa tau aja hati kakak bisa berubah. Karna manusia itu bisa berubah kapan aja" Ucap Tia sambil tertawa.


"Gak akan, kakak hanya ingin satu dan itu untuk selamanya. Jadilah wanita idaman kakak di dunia dan di akhirat ya" Ucap Ruzen sambil tersenyum ke arah Tia.


"Iya kak," ucap Rum.

__ADS_1


Ruzen pun tersenyum lalu memeluk mesra Tia .


"Oh iya kakak lupa. tadi kakak ketemu kakek, katanya kakek besok mau ke luar kota sampai bebrapa bulan. Jadi kita disuruh menjaga rumah ini selama kakek pergi." Ucap Ruzen.


''Besok ini kak? Kenapa mendadak?" Tanya Tia.


"Katanya sih ada urusan mendadak jadi kakek mendadak juga ngabarin kita ." Ucap Ruzen.


Tia pun hanya mengangguk dan melanjutkan pelukannya bersama Ruzen.


°°°°°°°°°°


Keesokan harinya, Ruzen seperti biasa berangkat kesekolah tanpa berpamitan dengan kakek nya yang akan pergi keluar kota.


Ruzen dan tia tak sempat berpamitan dengan kakek nya karena Heris setiap pagi selalu tak ingin di ganggu oleh siapapun.


Saat di kantin Ruzen sedang memakan makanan di kantin itu, Ruzen mendapat telfon dari seseorang yang tidak ia kenal.


Drttt drtttt drtttt


Dengan segera, Ruzen langsung mengangkat telfonnya .


"Haloo? Ada yang bisa saya bantu?" ucap Ruzen.


"Ruzen pradana?" Tanya seseorang dari seberang telfon .


"Iya dengan saya sendiri, ini siapa?" Tanya Ruzen penasaran.


"Iya ada apa ya? Apa ada yg bisa saya bantu?" Tanya Ruzen.


"Maaf tuan muda saya hanya ingin mengabarkan bahwa mobil yang kakek gunakan untuk pergi ke kuar kota telah mengalami kecelakaan tunggal di jalan tol" Ucap Anto yang membuat Ruzen syok.


Deghhh.....


"Halo om! Mana kakek! Bisa tidak kalau becanda jangan kelewatan!" Ucap Ruzen emosi karna mengira ini adalah ulah kakek Gaston yang hendak mengerjai dirinya.


"Saya tidak berani berbohong masalah nyawa tuan."


Ruzen diam mematung, rasanya seperti aliran darah Ruzen berhenti tiba-tiba..


"Tuan bisa menemui saya sekarang? Saya akan membawa tuan menjemput jenazah tuan Heri. Saya juga sudah memberikan kabar/ini kepada tuan Arman dan juga nyonya Lusi."


"Kalau om di minta oleh kakek untuk mengerjai saya, tolong hentikan ya om. Saya tidak suka bercanda seperti itu. " Ucap Ruzen yang kini mulai bergemetar pada tangannya.


"Om dimana sekarang?" Tanya Ruzen.


"Biar saya saja yang jemput tuan. Tuan ada di mana sekarang?" Tanya Anto balik .


Ruzen langsung mematikan telfonnya dan langsung mengirimkan lokasinya saat itubkepada Anto. Ia mulai memejamkan matanya dan menutupi wajahnya dengan kepalanya.


Tia yang tengah celingak celinguk mencari keberadaan Ruzen dari tadi. Ketika tidak melihat Ruzen, Tia pun langsung berinisiatif untuk mengirimkan pesan kepada Ruzen dan menanyai keberadaannya.

__ADS_1


Ruzen pun membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh Tia.


"Kak, Dimana?" Ucap Tia lewat ketikan.


"Kakak ada di kantin, Ayok kita pulang, kakak tunggu di parkiran" Balas Ruzen.


"Kan masih jam sekolah kak, kok pulang?" Ucap Tia.


"Udah nanti kakak jelasin semuanya di perjalanan" Balas Ruzen.


setelah itu Ruzen pun langsung bergegas menuju parkiran untuk bersiap siap pulang.


Begitupun juga dengan Tia yang menuju Parkiran.


Sepanjang perjalanan menuju parkiran, Hati tia pun tak tenang.


"Apa kak Zen marah ya sama Tia" Ucap Tia dalam hati.


Tin tin tin


Tia menoleh melihat ke arah mobil Ruzen yang mendekat ke arahnya. Tia pun langsung berusaha naik dan di bantu Ruzen dan langsung menuju rumah.


Diperjalanan, Ruzen terdiam karena masih kaget perihal kabar yang diberikan oleh Anto.


"Ada apa kak?" Tanya Tia membuka pembbicaraan.


Ruzen masih saja diam tak menjawab.


"Kak" Panggil Tia.


"Iyaa," Jawab Ruzen singkat.


"Ada apa kak" Ujar Tia.


"Kakek kecelakaan saat perjalanan keluar kota. Kakak di kabarin sama sekertaris pribadinya tadi" Ujar Ruzen yang membuat Tia kaget.


"Innalillahi wainnaillahi roji'un" Ucap Tia reflek.


"Sekarang kakek dimana?" Tanya Tia.


''Kakak gak tau, ini mau di jemput sama om Anto sekertaris pribadi kakek" Ujar Ruzen.


Seluruh tubuh Tia tiba-tiba gemetaran membayangkan bagaimana kondisi perasaan Ruzen saat ini.


Di sepanjang perjalanan Tia terus gelisah tubuhnya terus bergerak gelisah sedangkan Ruzen juga hanya diam saja melajukan mobilnya dengan fokus ke jalanan yang berada di depan tak berniat mengajak Tia mengobrol sama sekali.


Setelah perjalanan selama 10 menit akhirnya mereka sampai di kediaman rumah kakek Heri di sana sudah ada beberapa tetangga dan juga kedua orang tua Ruzen begitu juga dengan Bg Rian yang sudah berada di sana.


Tia menunduk di dorong Ruzen ia merasa sedikit takut saat melihat tatapan Arman yang menatap ke arahnya dengan


wajah datar dengan tangan yang mengelus lengan Lusi yang sedang menangis sesenggukan di samping Rian.

__ADS_1


__ADS_2