
Ruzen pun tersenyum kikuk lalu ia menggaruk tengguknya yang tak terasa gatal menatap ke arah mereka.
"Semasa hidupnya , Heri selalu membanggakan dirimu. Katanya kau adalah cucu yang paling hebat dalam meremas kantong nya." Ucap pria itu kembali terkekeh membuat Ruzen ikut tertawa.
Jelas ia tahu kalau kakek nya selalu menceritakan tentang dirinya kepada teman temannya, tentang Ruzen yang selalu meminta uang kepadanya dan tentang Ruzen yang selalu curhat kepadanya.
"Dia bilang kalau kau adalah cucu yang paling menyebalkan di Indonesia makanya dia selalu pergi ke luar negeri agar tidak bertemu dengan cucu yang menyebalkan
sepertimu." Ucap pria lain yang di
angguki oleh mereka.
"Lalu yang mana yang nàmanya Rian?" Tanya salah seorang mereka.
"Yang ini yang namanya Rian pak. Anak saya juga" ucap Arman yang kebetulan saat itu sedang duduk berada di samping Rian.
"Oalah ini toh yang namanya Rian, kata tuan Heri cucunya yang satu ini sangat pandai dan selalu memenangkan banyak olimpiade. apakah itu benar?" Tanya salah
seorang dari mereka menatap ke arah
Rian dan juga Arman.
"Iya Pak Kalau anak saya yang ini memang pandai dalam hal itu dalamnhal akademik, ia selalu pandai." Ucap Arman dengan penuh rasa bangga.
Mereka yang ada di sanansemuanya manggut manggut dengan senyuman.
"Tuan Heri sudah menjelaskan banyak tentang cucunya yang memenangkan banyak perlombaan di sekolah ini." Ucap
salah seorang dari mereka.
"Tapi memang tuan Heri itu lebih seringnya menceritakan tentang yang Ruzen ya?" Sahut yang lain.
"Iya Pak, karena memang ayah saya lebih dekat dengan Ruzen mungkin karena dari kecil ayah saya selalu dekat dengan mereka juga." Ucap Lusi yang ikut menyambung.
"Oh pantas saja tuan Heri selalu membanggakan dan selalu menceritakan tentang ternyata memang sedekat itu mereka?.
"Apa memang sesering itu papa saya menceritakan tentang Ruzen saat di kantor pak?" Tanya Arman yang langsung di angguki olehbteman teman kakek Heri.
"Sangat sering, bahkan jauh lebih sering dari apa yang tuan bayangkan." Ucap salah seorang dari mereka yang laki-laki di angguki oleh yang lain.
"Bahkan tuan Heri jauh lebih sering membahas masalah putranya, eh maksudnya cucunya yang bernama
__ADS_1
Ruzen saat di kantor dari pada membahas tentang masalah kerjaan kantor."Ucap salah seorang dari mereka.
Lusi ikut tersenyum mendengar cerita dari para teman dan klien kakek Heri. Pasalnya la juga tahu bahwa orang yang palıng
dekat dengan kakek Heri adalah Ruzen.
Sudah berulang kali meminta pada William dan juga Agam supaya bisa mengambil hati kakek Heri. Tapi nyatanya tetap hanya satu saja yang bisa mengambilnya. Yaitu Ruzen.
"Lalu ini siapa?" Tanya salah seorang dari mereka menoleh ke arah Ruzen, Tia dan juga Sigit.
Tia hanya bisa menunduk sedangkan Sigit hanya bisa tersenyum, ia bingung harus menjawab apa.
Saat ia sedang hendak menjawab bahwa dirinya hanya teman Ruzen, Ruzen terlebih dulu menjawab membuat Sigit kembali menelan suaranya.
"Yang ini abang saya Pak, kalau perempuan yang tepat berada di samping saya itu adiknya, adiknya Abang." Ucap Ruzen dengan senyuman.
Mereka sama sekali tidak menanyakan Abang apa atau saudara apa ada ikatan darah dari jalur Apa mereka tidak menanyakan hal itu, padahal sedari awal Arman sudah menunggu hal itu.
Jujur saja Arman merasa tidak nyaman karena ada orang asing yang berada di dalam rumah itu bergabung dengan keluarganya.
"Masya Allah kamu cantik sekali sayang." Ucap salah satu dari mereka yang perempuan.
"Iya sangat cantik sekali seperti bidadari." Sambung yang lain menyetujui ucapan rekannya.
"Maaf tuan untuk tempat tidur sudah saya siapkan." Ucap bi Momon yang baru saja datang bersama teman pembantu yang lain.
"Monggo Pak silakan istirahat dulu." Ucap Arman mempersilahkan.
Beberapa orang dari mereka ada yang pamitan, sedangkan partner bisnis kakek Heri yang dari luar kota memutuskan untuk menginap.
Ruzen yang saat itu sudah kelelahan pun izin dengan mamanya untuk istirahat.
"Ma, Ruzen mau langsung ke kamar dulu ya mau tidur mau istirahat, Ruzen capek banget." Pamit Ruzen.
"Iya nak, cepat istirahat ya biar nggak sakit." Ucap Lusi yang perhatian.
Ruzen tidak lagi menjawab dan langsung berjalan sambil mendorong kursi roda Tia
membawanya menuju ke kamar.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar, Ruzen memutuskan untuk langsung mandi. Sebelumnya memang Tia sudah melarangnya agar tidak mandi malam malam tapi Ruzen tetap kekeh pada pendiriannya hanya dengan balasan karena semua badanya lengket belum mandi sejak tadi siang.
Alhasil Tia hanya bisa pasrah dan membiarkan saja Ruzen mandi di tengah malam seperti ini.
Setelah 10 menit ia berada di dalam kamar mandi akhirnya ia keluar sudah dengan mengenakan baju kaos berwarna hitam dan juga celana selutut dengan rambutnya yang basah karena habis keramas.
Coba bayangkan saja laki laki dengan kaos hitam dan celana selutut dengan rambutnya yang setengah basah yang menambah kesan tampan di dalam dirinya selalu melekat.
"Sini biar Tia aja yang keringin rambutnya Kak Sam." Ucap Tia seraya melambaikan tangannya agar Ruzen yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Nggak usah sayang nggak papa Kakak bisa sendiri kok ngerjain ini. Kamu Langsung tidur aja ya.. udah malem banget ini." Ucap Ruzen.
Tia menggelengkan kepalanya, karena Ruzen tidak kunjung mendekat ia berinisiatif mendekat menarik tangan
membawanya duduk di tepian ranjang lalu ia naik ke atas ranjang dan mengambil alih handuk yang berada di tangan Ruzen lalu
mengeringkan rambut nya.
Posisinya Ruzen duduk lebih rendah dari pada Tia. sedangkan Tia posisinya berada di atas ranjang .
"Makasih ya sayang." Ucap Ruzen dengan senyuman.
"Udah kering nih kak." Ucap Tia.
"Tidur dulu ya udah malam banget nanti Kak Ruzen sakit." Ucap Tia yang mendekat ke arah Ruzen.
Tia tersenyum lalu menarik tangan Ruzen dan mencium punggung telapak tangannya cukup lama.
"maaf kalau hari ini Tia ada banyak salah
sama Kak Zen ya." Ucap Tia.
"Sama-sama sayang, Kakak juga minta maaf kalau hari ini Kakak ada banyak salah sama kamu. Makasih juga hari ini Tia udah ada di samping Kakak di saat Kakak lagi
butuh kamu." Ucap Ruzen.
Setelah itu Ruzen mencium kening Tia cukup lama lalu membelai pelan pipi Tia.
"Assalamu'alaikum sayang."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh...."
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Ruzen langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang, Tia menarik selimutnya hingga menutupi Ruzen sebatas dada lalu Tia sendiri ikut
merupakan tubuhnya di samping Ruzen.