
Ruzen dan juga Anggi menoleh ke belakang melihat ke arah sumber suara, di belakang sana terlihat ada Rian yang melambaikan
tangan ke arah Anggi dengan senyuman manis yang berada di wajahnya.
"Haii.. "Anggi membalas lambaian tangan Rian juga dengan senyuman yang tak kalah manis kedua tangan sambil kepala di
samping tubuhnya.
"Lo nanti tunggu di taman aja ya Zen gue cuma bentar doang kok nanti kalau udah selesai gue langsung susul lo ke sana." Ucap Anggi lalu berjalan meninggalkan Ruzen sebelum Ruzen sempat menjawab ucapan Anggi.
Tanpa Ruzen sadari di belakang sana ada Sigit Yoga dan juga Rion yang tengah menatap ke arahnya tentunya Sigit dan Yoga marah melihat respon Anggi yang seperti itu kepada Ruzen.
Rion lebih dulu berjalan mendekat ke arah Ruzen lalu menepuk pelan pundak Ruzen.
"kalau sampai lo nggak mau nurutin apa yang dibilang sama bang Sigit sama Yoga, Lo akan merasakan sakít yang jauh lebih
sakit dari pada ini ." Ucap Rion dengan wajah yang serius.
"Lo apaan sih on mulai sama deh kayak bang Sigit sama Yoga." Ucap Ruzen terkekeh seraya mengalungkan tangannya di tengkuk Rion sama seperti saat ia merangkul Anggi tadi.
Setelah itu Ruzen membawa Rion pergi dari sana ke arah parkiran untuk mengambil motornya dan Rion hanya bisa diam saja karena ia tahu bosnya ini memang keras kepala.
Kalau kata Ruzen kalau nggak keras itu namanya bukan kepala namanya Boba empuk-empuk gitu.
Ruzen benar-benar melajukan motornya ke arah taman yang berada di dekat sekolahan tidak lupa la juga membawa setangkai Mawar berwarna merah untuk ia gunakan menembak Anggi.
Satu jam, 2 jam bahkan sampai Ruzen dapat mendengarkan suara adzan maghrib Ruzen belum melihat tandatanda kedatangan Anggi.
Gerimis mulai turun dan Ruzen masih tetap duduk di kursi tengah taman bahkan ia sama sekali tidak berniat untuk berteduh karena ia takut kalau sampai nanti Anggi
datang dan Anggi tidak dapat melihatnya.
"Gue mohon nggi, datang dan buktiin sama gue kalau Apa yang diucapin sama bang Sigit sama Yoga itu nggak bener." Ucap Ruzen lirih.
Di sisi lain, Yoga dan juga Sigit yang memang dari tadi mengikuti Ruzen dan Anggi sudah menggeram kesal. Pasalnya Rian dan juga Anggi berada di tempat yang sama dengan Ruzen tapi dengan egoisnya
Anggi tetap memilih tetap bersama Rian meneduh bersama bahkanbsampai tidak mengingat Ruzen.
Sigit dibuat semakin naik pitam saat mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Kayaknya lo tadi ada janjian sama Ruzen ya Nggi?" Tanya Rian.
__ADS_1
"lya di taman ini juga palingan juga udah pulang hujan lebat gini kok." Ucap Anggi serayabmenggosok-gosokkan kedua
tangannya agar rasa dinginnya sedikit berkurang.
Jujur saja meneduh bersama Rian di bawah hujan Anggi merasa sangat bahagia, sudah berulang kali Rian menolak dirinya,
tapi Anggi tetap bersemangat tak pernah berputus asa untuk mengejar cinta dari Rian.
"Ruzen mau ngapain ngajakin lo ketemuan Nggi?" Tanya Rian terkekeh.
"Gue nggak tahu juga sih palingan juga ngulang yang kayak kemarin dia nembak gue lagi. " Jawab Anggi ikut terkekeh.
"Lah, terus kenapa nggak lo terima aja?" Pancing Rian.
"bangsat emang ya Lo gam! Kan gue udah bilang sama lo kalau orang yang gue suka itu lo bukan Ruzen." Jawab Anggi lagi lagi
terkekeh.
Yoga yang sudah tidak tahan melihat itu langsung berjalanbmendekat ke arah mereka dan menarik tangan Anggi dengan
kasar.
"Woy Yoga? Maksud lo apa?!" Tanya Anggi yang kaget karena Yoga tiba-tiba datang dan langsung menarik tangannya dengan kasar.
"Nggak usah pura-pura nggak tahu lo b****t!" Ucap Yoga dengan mata yang memerah menahan amarah.
"Gue nggak tahu apa yang lo maksud b****at anjing!" Anggi mendorong dada Yoga dengan kuat karena tidak terima jika Yoga tiba-tiba datang dan mengomel padanya.
Rian hanya diam saja tidak ingin ikut campur dengan urusan mereka, Rian hanya duduk diam menonton saja Saat Yoga dan juga Anggun Yang tengah bertengkar.
"Dasar manusia nggak punya hati lo nggi! Lo liat itu." Yoga menunjuk ke tengah tengah taman terlihat Ruzen yang sedang duduk di kursi dan kehujanan duduk membelakangi mereka.
"Ruzen? Ya Allah demi Allah gue nggak tahu kalau dia masih ada di sini Ga" Ucap Anggi.
"Nggak punya hati lo Nggi!" Yoga menggelengkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan Anggi yang menerobos hujan untuk mendekat ke arah Ruzen.
"Rian, gue susulin Ruzen sebentar ya sorry banget." Ucap Anggi seraya menyatukan kedua tangannya di depan dada.
Sebelum mendapat persetujuan dari Rian,
Anggi langsung berlari menerobos hujan menyusul Yoga yang sedang berbicara dengan Ruzen.
__ADS_1
Setelah kepergian Anggi, Rian tersenyum licik, "sorry Sam, lo udah rebut perhatian semua orang dari gue. Dan ini yang gue pengen gue bakalan bikin semua orang benci sama lo. "
Sigit yang masih bisa mendengarkan ucapan Rian langsung berjalan mendekat dan langsung menghajar Rian.
BUGH.
"Lo siap-"
BUGH
Belum selesai Rian menanyakan tentang siapa orang yang memukulinya, Sigit langsung memukul habis wajah Rian tanpa
ampun.
BUGH BUGH BUGH
Kedua sudut bibir hidung bahkan matanya semua mengeluarkan darah, melihat semua luka yang dimiliki oleh Rian, Sigit
belum nmerasa puas dan terus melanjutkan aksinya.
BUGH BUGH BUGH
Bukan Rian tidak ingin melawan, tapi memang kekuatan yang dimiliki oleh Sigit sangat jauh jika dibandingkan dengan kekuatan Rian, akhirnya Setelah beberapa
saat Rian bertahan, suaranya akhirnya menghilang dan dia pun pingsan.
Melihat lawannya tumbang seperti itu sama sekali tidak menjadikan Sigit merasa iba, bahkan ia terus menghajarnya tanpa
ampun menginjakbinjak perutnya sampai Rian memuntahkan darah.
Bukan tanpa alasan Sigit melakukan semua itu, Ruzen, Yoga dan juga Rion sudah ia anggap sebagai adiknya. Jadi siapapun yang berani menyakiti mereka akan berhadapan dengannya.
Yoga yang baru saja kembali untuk memberikan waktu Ruzen dan Anggi berbicara berdua, ia melotot saat melihat Sigit menghajar Rian tanpa ampun.
Dengan segera Yoga langsung berlari mendekat dan membawa Sigit menjauh dari tempat itu meninggalkan Rian yang babak belur di bawah guyuran hujan.
"'Sorry ya , jawaban gue masih sama seperti jawaban yang sebelumnya. Gue nggak bisa nerima Lo karena memang bukan lo yang gue sayang tapi abang lo Rian yang gue sayang." Ucap Anggi, ia mengusapbwajahnya dari air hujan agar Ruzen dapat melihat wajahnya dengan jelas.
"Gue harap setelah ini nanti kita tetap masih bisa berteman ya Zen, gue udah nganggep lo kayak sahabat gue sendiri saudara sendiri. Gue harap persahabatan yang udah kita bangun bertahun tahun nggak akan rusak hanya karena kata cinta." Ucap Anggi dengan senyumam.
Ruzen hanya bisa diam saja ia juga menggusar wajahnya yang dibasahi oleh air hujan.
__ADS_1