Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Eps 72 Ruzen And The Gank


__ADS_3

Sigit, Yoga, dan juga Rion yang sedang duduk bersama di ruang tengah sembari mengobrol langsung menoleh ke arah tangga melihat Ruzen dan juga Rum yang berjalan beriringan mendekat ke arah mereka.


"Udah datang dari tadi bang?" Tanya Tia sembari mendekat ke arah Sigit dan mencium punggung tangannya.


Begitu juga dengan Ruzen yang juga mengalami ke tiga sahabatnya itu dengan salaman ala laki laki.


"Baru aja kok." Jawab Sigit.


"Tumben jam segini udah tutup cafe bang, biasanya kan tutup cafe paling cepat jam 20.00 malam." Ucap Ruzwn seraya duduk di salah satu sofa dengan di ikuti oleh Tia yang juga duduk di sampingnya.


"Tau nih bang Sigit, dari sore udah ngoceh ngoceh suruh tutup kafe cepet." Ucap Yoga kesal, "udah buka kafe jam habis dhuhur, jam 15.00 udah minta di tutup aja." Sambung Yoga menggerutu.


Sedangkan Sigit hanya terkekeh saja melihat Yoga yang kesal dan berwajah masam seperti itu. Pasalnya memang sedari tadi sore Yoga sudah mencak mencak karena mendengar Sigit yang terus bertanya mau tutup jam berapa.


Bukankah seharusnya terbalik? Kenapa jadi bos yang pengen cepat tutup kafe Sedangkan anak buahnya pengen tetap buka lama?


"Ya kan Gue pengen tutup cafe cepet cepet karena keburu beliin Ruzen ayam geprek, adek ipar gue minta ayam geprek nih." Ucap Sigit melirik Ruzen.


"Lah, kenapa malah jadi nyalahin gue? Gue kan cuma bilang nitip. Kalau nggak ada yaudah, lagian sampe malem jam 12.00 pun tuh ayam geprek bakalan masih ada. Masih buka." Ucap Ruzen tak terima.


"Abang itu mau bilang kalau Abang kangen sama Tia, tapi Abang gengsi." Sahut Tia.


Sigit hanya terkekeh sembari menggaruk


tengkuknya yang tak gatal. Pasalnya apa yang di katakan oleh Tia memang benar adanya, walaupun belum sampai ada satu hari mereka berpisah, Sigit sudah


merindukan adik satu satunya itu.


"Lo sebenarnya keberatan nggak sih bang kalau gue sama Tia Tinggal disini ?" Tanya Ruzen saat ia melihat Sigit sama sekali tidak menyangkal saat Tia mengatakan bahwa Sigit merindukan dirinya.


"Enggak kok, cuma agak ada yang aneh aja." Ucap Sigit lagi-lagi terkekeh.


"Aneh gimana?" Tanya Ruzen.


"Ya aneh aja, biasanya gue sama Tia yang bantuin ibuk jaga kafe kalau pulang sekolah , biasanya yang gantianbsolat sama jaga kafe juga Tia, biasanya yang solat di belakang gue juga Tia, sekarang posisi Tia di gantikan sama Yoga dan Rion agak aneh ajabgitu." Ucap Sigit terkekeh.


"Jadi intinya lo nggak mau gitu kan gue temenin lo?" Tanya Yoga sinis, memang dari sebelumnya ia sudah emosi lebih dulu makanya dia jadi mudah menyimpulkan.


"Bukan gitu juga monyet..." Ucap Sigit seraya menoyor kepala Yoga membuat Yoga memiringkan wajahnya ke arah Rion yang ada disampingnya.


"Ya Alloh, Rion ternodai...." Ucap Rion penuh drama seraya mengelus pipi kirinya.


"Nggak kena bego!!" Ucap Yoga beralih menggeplak kepala Rion membuat sang empu meringis kesakitan.


"Sakit nyet." Ucap Rion mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


"Lihat nih bos, kalau nggak ada lo gue di aniaya terus sama bang Sigit sama Yoga." Adu Rion menoleh ke arah Ruzen.


"Dasar!! Bisanya cuma sembunyi di balik ketek Ruzen lo!!!" Ucap Sigit ikut memiringkan kepalanya dengan badan yang sedikit membungkuk agar bisa melihat Rion yang sedang mode cepu.


Ruzen hanya geleng-geleng kepla melihat tingkah ketiga sahabatnya yang memang sering kali tiba tiba somplak seperti ini.


"Kembali ke pembahasan awal bang." Ucap Ruzen kembali menoleh ke arah Sigit.


"Jadi intinya lo itu ijinin gue bawa Rum buat pindah kesini atau enggak?" Tanya Ruzen kembali mengulangi pertanyaannya.


"Gue ngijinin Ruzenn, gue kan juga udah pernah bilang sama lo kalau Tia udah jadi tanggung jawab lo dan gue nggak berhak buat ngatur apapun lagi tentang Tia." Ucap Sigit.


"Terus kenapa baru setengah hari lo belum ketemu sama Tia lo udah kangen aja sama Tia?" Tanya Ruzen.


"Ya gue tadi kan udah bilang, kalau gue cuma belum terbiasa aja apalagi lo sendiri kan tau kalau dari dulu gue cuma tinggal


berdua sama Ibu sama Tia dan tia satu satunya adek gue, jadi sedikit susah buat gue bisa lepas dari Tia." Ucap SIgit menjelaskan agar Tia dan juga Ruzen tidak salah paham dan tidak malah kepikiran dirinya.


Ruzen manggut manggut mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Sigit.


"Kapanpun lo mau kesini, lo bisa kesini bang." Ucap Ruzen.


"Ya iya lah boleh, orang adek gue ada di sini. Kalau nggak di bolehin gue nggak akan ijinin lo bawa adek gue pergi." Ucap Sigit membuat Ruzen memutar bola matanya malas.


la jadi menyesal berkata seperti itu pada


"Permisi den." Ucap bi Momon yang datang dengan membawa satu nampan di tangan, bi Momon datang dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan.


"Makasih bi." Ucap Sam yang di angguki oleh wanita setengah baya itu.


"Oh iya bi, makanan yang ada di meja makan tadi nggak usah di beresin nggak papa, siapa tau aja nanti kita makan. Sama ada ayam geprek di meja jangan di makan ya bi itu punya saya." Ucap Ruzen.


"Baik den." Ucap bi Momon seraya menganggukkan kepalanya.


"Oh iya satu lagi bi." Ucap Ruzen membuat bi Momon yang awalnya hendak membalikkan tubuhnya meninggalkan mereka mengurungkan niatnya dan kembali menoleh ke arah Ruzen.


"Tolong panggilin bang Rian suruh turun buat makan ya, tadi dia belum jadi makan. Biar dia makan dulu kasihan." Ucap Ruzen.


"Baik den." Ucap bi Momon sedikit membungkukkan tubuhnya, kemudian bi Momon pergi menjauh berjalan di belakangnya.


"Kak, jangan macam-macam ya..." Ucap Tia memperingatkan, jelas saja Tia tau apa maksud Ruzen meminta bi Momon untuk memanggil Ruzen agar turun dan makan bersama, jelas karna ada niat terselubung.


"Tia nggak mau kalau nanti justru ada keributan loh kak." Ucap Tia berbisik, sehingga hanya Ruzen saja yang dapat mendengar suaranya, sedangkan ketiga lelaki itu sudah fokus menyantap pisang goreng dan camilan lain yang baru saja di siapkan oleh bi Momon .


"Enggak sayang, kakak nggak akan ngelakuin macem macem kok, cuma satu macem aja." Balas Ruzen juga ikutan berbisik.

__ADS_1


"Bisik bisik tetangga." Ucap Rion menyindir.


Sigit dan juga Yoga juga ikut mendongak menatap ke arah Tia dan juga Ruzen.


"Kenapa?" Tanya Ruzen sedikit mengangkat dagunya menatap ke arah mereka, tiga lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali melanjutkan kegiatan mereka yang sempat tertunda.


Tap tap tap


Lagi lagi mereka reflek menoleh ke belakang saat mendengar suara langkah kaki berjalan menuruni tangga.


Rian yang awalnya memasang wajah Cool seketika sedikit terkejut saat ia melihat ada Rion di sana. Itulah Rion. jika di mata Ruzen, Yoga dan juga Sigit, Rion itu hanya


seorang laki laki menyebalkan, menjengkelkan dan oon, tapi beda lagi dengan Rion yang ada di mata Rian.


Di mata Rian, Rion adalah laki laki yang sangat menyeramkan dan sangat berbahaya, jelas ia tidak pernah lupa bagaimana Rion menghajarnya waktu di parkiran mobil sekolah saat Rian membuat


Ruzen bad mood.


Jangan lupakan saat Sigit menghajar Rian habis habisan di satu tahun yang lalu, Rion tidak ingat siapa yang menghajarnya, ia


hanya ingat bahwa orang yang


menghajarnya itu di tarik pergi oleh Yoga.


Dan dari situlah Rian mengira bahwa yang menghajar dirinya sampai koma satu tahun yang lalu itu Rion dan bukan Sigit.


Tentang kenapa Rian sama sekali tidak melaporkan Rion ke kepala sekolah atau kepada kedua orang tuanya, itu semua bukan tanpa alasan, tapi Rian tidak lupa bahwa Rion adalah salah satu anggota black kobra, genk motor yang terkenal


dengan kekuatannya.


jika Rian menindak lanjuti kasus itu ke jalur hukum, mungkin Rion bisa saja di hukum, tapi ia tidak bisa menjamin setelah itu anggota genk motornya yang lain juga tidak ikut membalaskan dendam.


"Sini bang, gabung." Ucap Ruzen.


Rian tak menjawab dan langsung berjalan mendekat dan mengambil duduk di sebuah kursi single yang ada di sana.


Yoga dan Rion yang awalnya celelek an, kini mereka merubah raut wajahnya menjadi sok dingin dan dengan ekspresi wajah yang datar.


Dalam hati mereka berdua terus mengumpati Ruzen, kenapa Ruzen malah


meminta Rian agar turun? Mengganggu suasana saja.


"Santai aja bang santai... Kenapa malah jadi pada tegang gini sih?" Tanya Ruzen terkekeh, sedangkan Tia hanya geleng geleng pelan lalu memilih diam dan menyaksikan apa yang akan di lakukan oleh Ruzen and the genk setelah ini.


"Udah tutup kafe kak?" Tanya Rian menatap ke arah Sigit dengan senyuman.

__ADS_1


Sigit mengangkat kedua alisnya saat mendengar pertanyaan dari Rian, tapi sesaat kemudian SIgit mengangguk.


"Iya kak, baru saja." Jawab Danu.


__ADS_2