Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Bab 42 Bertemu Anggi


__ADS_3

"Woy! Pada ngapain lo ngeliat kita kaya gitu? Mau gue colok tuh mata?!" Bentak Ruzen pada beberapa orang yang sedang bergerombol menatap dan membicarakan mereka.


"Udah kak.."


Tia yang melihat wajah suaminya sudah berubah masam langsung menenangkan Ruzen.


"Udah ah, masa gitu aja kakak jadi bad mood sih. Kita kan Tujuan nya tadi mau jalan jalan biar seneng. Jangan bad mood ya sayanggg" Ucap Tia mesra menenangkan Ruzen.


Ruzen menghembuskan nafas nya dan langsung mengajak Tia ke lantai dua dengan menggunakan lift khusus.


"Pokok nya beli semua yang Tia mau beli ya" Ucap Ruzen.


"Emang kakak Ada uang?" Tanya Tia.


"Kamu ngejek kakak ya?" Ucap Ruzen yang membuat Tia terkekeh.


"Engga kak, Maksud Tia tuh apa engga sebaiknya uang nya di tabung buat keperluan yang lebih penting?" Ucap Tia.


"Iya nanti kita beli keperluan yang penting. Sekarang kita beli apa yang kamu mau dulu ya ." Ucap Ruzen.


"Kakak yakin mau beliin Tia?" Tanya Tia.


"Kenapa? Kamu ngeraguin kakak? " Tanya Ruzen sedikit tidak suka.


"Astaghfirullah enggak kak, kakak ni kayak lagi pms lah. Sensi banget" Ucap Tia terkekeh.


"Lagian kamu kebanyakan nanya sama mikir sih. Udah pokoknya kamu beli apa yang kamu mau! Uang kakak ada banyak " Tegas Ruzen sambil mendorong Tia menuju penjual baju baju muslimah yang ada di mall itu.


"kamu mau yang warna apa?" Tanya Ruzen sambil melihat lihat baju muslimah.


"Mau warna Hitam aja deh kak" Ucap Tia.


"Bagus yang mana sayang?" Tanya Ruzen sambil mengangkat dua model baju gamis terbaru.


"Bagus semua kak" Ucap Tia.


Ruzen pun langsung menaruh dua baju tersebut di pundaknya.


Tak berapa lama, Mata Tia terbuka lebar saat Ruzen membawa lebih dari 5 stell model baju gamis yang terbaru yang ia letakkan di pundaknya.


"Astaghfirulah kakak, kok banyak banget itu." Ucap Tia yang kaget.


"Ada lagi enggak yang kamu suka?" Tanya Ruzen.


"Nggak ada kak, kakak kenapa memilih baju sebanyak itu? Mau buat siapa kak?" Tanya Tia lagi.


" Ya buat kamu lah, masa iya kakak mau pake gamis" Ucap Ruzen sinis.


"Kenapa sebanyak itu kak, dan kenapa harus warna hitam semua." Ucap Tia.


"Kan kamu tadi bilang mau yang warna hitam, makannya kakak pilih yang hitam.Kalau gt kakak pilih warna lain deh" Ucap Ruzen.

__ADS_1


"Enggak usah kak Tia mau yang hitam aja" Ucap Tia.


"Iya udah" Ucap Ruzen sambil mendekat ke arah kasir.


"Ya Allah mahal banget kak" ucap Tia saat melihat nominal yang di bayarkan oleh Ruzen kepada kasir.


"Udah gak papa, Ayok " Ajak Ruzen setelah ia menyelesaikkan pembayaran di kasir.


Tia hanya bisa menghembuskan nafasnya perlahan dan menurut apa kata Ruzen. Selanjutnya mereka berjalan menuju stand sayur mayur untuk membeli beberapa sayur dan juga bumbu bumbu dapur.


"Woi Ruzen"


Ruzen dan Tia langsung menoleh ke arash sumber suara yang memanggilnya. Tia melihat dengan mata tajam saat melihat yg memanggil Ruzen adalah seorang wanita dengan jeans biru dan baju berwarna merah.


"Anggi''?


Tia langsung menoleh ke arah Ruzen saat ia memanggil nama itu dan seketika Tia langsung menunduk kan wajah nya serta sedikit agak menjauh dari Ruzen.


" Kangen banget gue sama lo" Ucap Wanita tersebut.


Mata Tia melotot saat melihat Anggi yang tiba tiba memeluk tubuh Ruzen. Tangannya terkepal kuat dan Alisnya sedikit mengerut, apalagi saat Ruzen tidak merasa risih dengan apa yang dilakukan gadis itu pada Ruzen.


"Gimana kabar lo dan Rian ?" Tanya Anggi.


"Alhamdulillah baik, Lo apa kabar? Pergi ngapa nggak bilang-bilang Lo." Ucap Ruzen menoyor kepala Anggi membuat tangan Tia semakin terkepal kuat.


"Alhamdulillah baik, sorry nggak sempet ngabarin. Kakek gue yang ada di Amerilka meninggal, mau telpon juga kayanya Lo ganti nomer, mana Rian di mintai nomer Lo pelit banget lagi." Ucap Anggi.


"Dia juga nggak punya nomer gue ahahah." Sahut Ruzen dengan tawanya.


"engga ahh, gw skrng udh ga pernh berantem lagi sama bang Rian karena dia kuliah di luar negeri." Balas Ruzen.


"Kuliah di mana emang?" Tanya Anggi.


"gatau gue, gapernh nanya ke bokap." Ucap Ruzen


"Parah lu" ucap anggi.


"Lu kesini sama siapa?" Tanya Anggi.


"Gue samaa-" Mata Ruzen terbuka lebar saat menyadari tia menatapnya tanpa ekspresi.


"Astaga, ya Allah maaf Sayang. Kakak- Astaghfirullah maaf ya." Ruzen langsung mengusap pipinya yang bekas di cium oleh Anggi.


"Ini siapa?" Tanya Anggi dengan ramah.


Tia tak menjawab dan langsung menjauh begitu saja meninggalkan mereka berdua.


"Tiaa..." Teriak Ruzen seraya berlari mengejar Tia.


"Zen..." Panggil Anggi, tapi Ruzen tak menghiraukan panggilan Anggi masih terus mengejar Tia.

__ADS_1


°°°°°°°°°


Di Rumah~


"kamu marah ya? Maaf ya.." Ucap Ruzen memohon.


Tia sama sekali belum mau menjawab, ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan langsung menuju ke atas ranjang.


Ruzen ikut naik dan merangkak mendekati Tia.


"Sayang... Maaf ya, kakak bener-bener nggak sengaja tadi." Ucap Ruzen seraya mengelus lengan Tia.


"Jangan pegang-pegang." Ucap Tia menggoyangkan lengannya agar tangan Ruzen menjauh.


"Maaf ya.." Ruzen mengintip wajah Tia yang terlihat sangatbcemberut, Ruzen melepaskan cadar yang di kenakan oleh Tia agar bisa melihat wajah istrinya itu.


"Maaf..."


"Sana geser ih!" Ucap Tia kesal.


"Nggak mau, maaf dulu." Ucap Ruzen menciumi pipi Tia secara bertubi-tubi.


Tapi setelah itu Tiablangsung menghapusnya danbmenutup pipinya dengan telapak. tangan.


"Maaf sayang..." Ucap Ruzenn menjauhkan wajahnya dari wajah Tia dan duduk tegak masih menatap Tia.


Tia menghembuskan nafas pelan lalu ikut duduk dan langsungbmemeluk Ruzen.


"Ma-"


"Diem dulu Tia masih marah! Jangan bicara!" Ucap Tia semakin mengeratkan pelukannya.


Ruzen membalas pelukan Tia dan mengelus kepala Tia dengan lembut. Tia memejamkan matanya, ia mendengarkan suara detak jantung Ruzen yang merdu, detak jantung yang dapat menenangkan hatinya dan bisa membuat marahnya menguap begitu saja.


Sekitar lima menit, Tia baru melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Ruzen dengan senyuman.


"maaf ya Tia udah marah-marah." Ucap Tia seraya membelai pipi Ruzen.


Ruzen menggeleng.


"'maaf ya kakak ceroboh." Ucap Ruzen.


Tia mengangguk.


"'Sekarang, kakak cuma punya Tia. Nggak boleh ada yang menyentuh apalagi sampai memeluk selain Tia." Ucap Tia.


"Iya." Jawab Ruzen dengan senyuman.


"Itu tadi yang namanya Anggi?" Tanya Tia.


"Iya."

__ADS_1


"Cantik juga." Puji Tia tapi dengan bibir mengerucut.


"Enggak kok, cantikan juga Tia." Ucap Ruzen.


__ADS_2