
Ruzen menyodorkannya ke arah Mulut Tia. Tia pun hanya bisa geleng geleng melihat tingkah Ruzen.
ia memang benar tadi sudah makan bersama yang lain di luar. Tapi masih saja di paksa makan lagi mau dibuat gembrot?
Huh
dasar Ruzen!!
Setelah menyuapkan nasi pada Tia, Ruzen kembali menyendokan makanannya dan memasukkan ke dalam mulutnya sendiri.
"Ehem lupa bismillah Hem.." Sindir Tia membuat Ruzen sesikit terkekeh.
"Bismillah..." Ucap Ruzen denganbmulut yang penuh makanan membuat Tia ikut terkekeh.
"Setelah ini kakak mau langsung ke makam kakek Heru." Ucap Ruzen.
"Ini sudah malam Kak lebih baik kita ke sana besok saja ya." Larang Tia.
"Nggak bisa, kakek itu orangnya gasuka sama yang namanya terlambat bisa ngomel ngomel nantik aku dikatain cucu." Ucap Ruzen sambil terkekeh.
"Nggak boleh kaya gitu kak, Kakak nggak boleh kayak gini." Ucap Tia dengan mata yang kembali berkaca kaca.
"Nggak boleh kenapa?"Tanya Ruzen.
"Pokoknya malam ini Tia ngga ijinin Kak Zen pergi apalagi buat kemakam kakek, besok pagi Tia yang akan temenin Kakak ke makam kakek, tapi kalau malam ini Tia gak akan kasih izin." larang Tia.
"Kenapa?" tanya Ruzen lagi.
"Pokoknya enggak ya enggak! Kak Ruzen bisa nggak sih nurut sekali aja sama Tia, kalau kakak ngelarang kan Tia selalu nurut sama kakak."
"Ya udah iya, ini di makan lagi." Ucap Ruswn seraya kembali menyodorkan satu sendok makananbke arah Tia yang langsung disambut baik oleh Tia.
"Terima kasih untuk belas kasihan yang telah engkau berikan Tuhan, terima kasih engkau telah mengirimkan wanita sebaik dia dalam hidup saya.
Terima kasih sudah berbaik hati dan tidak membiarkan aku sendirian dalam menjalani semuabujian yang kau berikan.
Aku berjanji dan aku bersumpah aku tidak akan pernah menyia-nyiakan wanita setulus dia. " Guman Ruzen berdoa di dalam hati.
"Kak Zen kenapa nangis lagi?" Tanya Tia.
Ruzen menggeleng, "enggak kok." Ucap nya lalu menghapus air matanya dan tersenyum.
"Makasih ya Tia, kamu sudah menjadi obat untuk segala luka yang aku rasakan." Ucap Ruzen.
Tia tersenyum lalu mengambil alih piring
yang ada di tangan Ruzen.
__ADS_1
"Makan nya di habiskan dulu ya." Ucap Tia seraya menyendok makanannya dan menyuapkan pada Ruzen.
"Sebelumnya kakak juga ceritabnggak sama kak Yoga sama kak Rion? Maksudnya curhat gitu?" Tanya Tia yang di jawab gelengan oleh Ruzen.
"Kalau sama mereka paling cuma ngajakin balapan aja." ucap Ruzen.
Tia manggut-manggut lalu kembali menyuapkan nasi ke dalam mulut Ruzen.
Tok tok tok
"Tiaaa.."
"Iya bang..." Sahut Tia.
"Tia bukain pintu buat bang Sigit sebentar ya Kak." Ucap Tia meminta izin pada Ruzen yang langsung diangguki oleh Ruzen.
Setelah mendapat persetujuan dari Ruzen, Tia langsung beranjak dari tempat tidur ia kembali memakai cadarnya dan mendekat ke arah pintu membukakan pintu untuk bang Sigit.
"Gimana sama keadaan Suami mu dek ?" Tanya Ruzen saat Tia sudah membukakan pintu untuk dirinya.
"Alhamdulillah sudah baik bang, Kak Zen juga sudah sadar dari pingsannya kok. Abang mau masuk?" Tanya Tia.
"Boleh?" Tanya Sigit .
"Sebentar ya bang." Ucap Tia seraya membalikkan kembali tubuhnya menoleh ke arah Ruzen, "kak Zen, Abang mau masuk buat nengokin Kak Zen boleh?" Tanya
Setelah mendapatkan persetujuan dari Ruzeb, Tia kembali membalikan badannya menghadap ke arah Sigit lalu ia membuka pintunya lebih lebar agar Sigit bisa masuk ke dalam kamarnya.
"Silabkan bang..." Ucap Tia seraya menggeser tubuhnya sedikit minggir agar Sigit dapat lewat dan masuk ke dalam kamarnya.
Sigit tak menjawab apapun dan langsung berjalan masuk dan mendekat ke arah Ruzen.
"gimana keadaan Lo ? Udah enakan?"
Tanya Sigit saat ia sudah berada di dekat Ruzen.
"Gue baik kok bang," Ujar Ruzen.
Sigit hanya geleng geleng kepala lalu ia berdiri tepat di samping Ruzen.
"ini tadi ada titipan dari sekretarisnya kakek Heri, katanya sebelum berangkat ke luar kota kakek Heri sempat nitipin pesan ini buat lo." Ucap Sigir seraya menyerahkan
sesobek kertas kepada Ruzen.
Ruzen melihat dan menatap ke arah kertas itu sekilas sampai akhirnya dia menerima kertas itu dari tangan Sigit.
'untuk Ruzen yang tersayang.
__ADS_1
Ruzen hanya membaca judul yang berada di depan kertas itu lalu meletakkan kertas itu ke atas loker yang ada di sana.
"Keadaan di bawah sekarang gimana bang?" Tanya Ruzen kembali menoleh menatap ke arah Ruzen.
"Peziarah udah mulai pada pulang Tuh, gimana kalau sekarang lo keluar aja gabung bareng keluarga lo ada orang tua sama abang Lo juga di luar." Ucap Sigit.
Ruzen mengangguk, ia merapikan wajahnya membersihkan wajahnya sedikit lalu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan keluar bersama Sigit dan juga Tia yang di dorong oleh sigit.
Saat mereka sudah berjalan menuruni tangga memang hanya tersisa keluarga dengan beberapa tetangga terdekat dan juga rekan kerja kakek Heri yang masih
berada di sana mengobrol bersama.
Saat suara langkah kaki mereka terdengar menuruni tangga beberapa orang yang sedang mengobrol di sana langsung menoleh ke arah mereka.
Dapat Ruzen lihat, bagaimana kondisi wajah Lusi, Rian dan juga Arman yang wajahnya sudah membengkak, karena terlalu banyak menangis mungkin?
"Sudah makan nak?" Tanya Lusi menoleh ke arah Ruzen yang hanya dijawab anggukan oleh Ruzen.
Ruzen langsung mengambil duduk
bersama mereka dengan Sigit di
sampingnya dan Tia yang berada di
samping tapi sedikit dibelakangnya.
"Gimana kepalanya Ruzen masih pusing nggak?" Tanya Lusi yang memang saat itu duduk posisinya tidak jauh dari Ruzeb hanya ada beberapa piring makanan yang
membatasi duduk mereka.
"Enggak ma, cuma sedih aja karena nggak bisa nganterin Kakek ke tempat peristirahatan terakhirnya." Ucap Ruzen tersenyum tipis.
"Nggak papa namanya juga orang sakit." Ucap Lusi sedikit mengangguk menatap Ruzen.
Ruzen juga hanya mangut-manggut menanggapi ucapan Lusi. Ruzen tidak lagi menjawab apapun dan langsung ikut bergabung mengobrol dengan beberapa tamu yang masih tertinggal di sana, kebanyakan orang yang masih berada
di sana adalah mereka yang satu
teman angkatan dengan kakek Heri,
atau teman kerja kakek Heri.
"Oh ternyata ini toh yang namanya Ruzen?" Tanya salah seorang pria yang mengenakan jas dan berdasi menatap ke arah Ruzen lalu manggut-manggut.
"Iya Pak saya Ruzen." Ucap Ruzen seraya mengangguk dan memaksakan sedikit senyuman untuk laki laki itu.
"Woalah, ini toh cucu yang selalu dibanggakan sama Heri." Ucap salah seorang mereka terkekeh yang dianguki oleh yang lain ikut menatap ke arah Ruzen.
__ADS_1