
Setelah itu Tia langsung berdoa, sedangkan Ruzen, ia justru kembali menjatuhkan kepalanya di atas paha
istrinya dan kembali memejamkan
matanya membuat Tia geleng geleng kepala.
Tia mengadahkan kedua tangannya ke atas lalu mulai memanjatkan doa, ia meminta kepada yang maha kuasa, meminta ampunan dan memohon agar selalu dikelilingi dengan kebaikan.
"Ya Allah, hamba mohon kepadamu ampunilah hamba dan kedua orang tua hamba dan sayangilah kedua orang tua hamba sebagaimana mereka menyayangi hamba ketika hamba masih kecil ya Allah..." Ucap Tia membacakan doa.
Ruzen membuka matanya ketika ia
mendengarkan doa yang dipanjatkan oleh Tia.
la menatap wajah Tia yang tertutup oleh telapak tangannya lalu tersenyum
"lucu nggak ya kalau aku doain mama sama papa pakai doa itu? Sayangilah mereka sama seperti ketika mereka menyayangiku di waktu kecil? Di waktu kecil aku
mendapatkan kasih sayang, tapi aku hanya mendapatkan sedikit kasih sayang dan lebih banyakbmendapatkan cambukan.
Hahaha kasihan juga mereka kalau aku doain mereka pakai doa ini." Guman Ruzen dalam Hati.
"Ya Allah lindungilah Abang dan Kak Zen dari orang-orang yang berniat buruk dan ingin mencelakai mereka, berikanlah mereka kesehatan kewarasan kekuatan umur panjang dan rizki yang halal."
Apa maksudnya doa kayak gitu?
Dikira aku selama ini cari uang pakai
uang halal apa hahaha.
Di sepanjang Tia berdo'a terus saja Ruzen membalasnya dengan nyleneh di dalam hati.
"Ya Allah lindungilah rumah tangga hamba, jauhkanlah dari hal-hal buruk yang sedang mengintai rumah tangga hamba. Jauhkan rumah tangga hamba dari orang-orang yang berniat buruk pada rumah tangga
hamba."
"Jika ada takdir buruk yang engkau berikan kepada rumah tangga hamba, maka gantilah takdir itu dengan takdir yang baik ya Allah."
Ruzen tersenyum lebar saat mendengar doa Tia yang kali ini, ia bahkan sampai mengaminkan doa Tia di dalam hati.
"Amin ya robbal alamin..." Ucap
Tia dan juga Ruzen secara bersamaan
seraya mengusapkan telapak tangan
mereka ke wajah mereka masing-masing.
__ADS_1
"Eh, kak Zen bangun toh? Tia kira Kak Zen tadi tidur makanya Tia baca doa keras banget." Ucap Tia terkekeh karena malu.
"Nggak papa dong baca keras kan malah diaminkan jadi lebih banyak yang mengaminkan." Ucap Ruzen.
"Iya." Ucap Tia sambil tersenyum manis.
"Hari ini libur sekolah Tia, kata Yoga sebagai penghormatan untuk pemilik sekolah yang baru saja meninggal dunia." Ucap Ruzen terkekeh.
"Oh ya? Kalau begitu Alhamdulillah, katanya Kak Zen juga mau pergi ke makam kakek iya kan?" Tanya Tia yang dibalas anggukkan oleh Ruzen.
"Kak Zen mau dengerin syairan nggak?" Tanya Tia malu malu.
Ruzen yang mendengar tawaran Tia langsung mendongak menatap wajah Tia yang berada di atasnya.
"mau, mau banget dong." Ucap Ruzen
dengan antusias.
----------
"Masya Alah, merdu banget Suara Kamu..." Puji Ruzen.
Tia yang mendengarkan pujian dari Ruzen langsung menutup matanya dan menggigit bibir bawahnya karena merasa malu.
"Manisnya nggak ada obat ya Allah." Ucap Ruzen yang semakin membuat Tia merasa malu.
"Ih jangan gitu ih kak! Tia kan jadi malu." Ucap Tia seraya menutup mata Ruzen dengan telapak tangannya.
" jadi Ceritanya malu nih?" Goda Ruzen
yang semakin membuat Tia memejamkan matanya kuat.
"sayanggg.." Panggil Ruzen yang membuat Tia terpaksa membuka nmatanya.
"Dalem?" Sahut Tia.
"Kamu tuh kalau udah solehah tuh ya udah Solehah aja nggak usah pakai acara cantik imut manis gemesin penurut sabar penyayang bikin hati orang nggak aman aja sih." ujjar Ruzen.
"Ih kirain mau ngomong beneran tauk." Ucap Tia mengerucutkan bibirnya.
sebenarnya Ruzen juga menahan malu karena ia menggombalinya seperti itu. la merasakan panas di pipinya bisa di bayangkan seberapa merah wajah Tia saat ini.
"Ini beneran tauk." Ucap Ruzen.
"udah ya sana Kak Sam jauh jauh." Ucap Tia seraya mendorong pelan kepala Ruzen agar menjauh dari pahanya.
"Nggak mau." Tolak Ruzen.
__ADS_1
"Ih kak Zen!!!! Kaki Tia pegel tauk kesemutan, angkat dulu ya Kak pergi dulu ih...." Ucap Tia kesal dan masih berusaha mendorong kepala Ruzen agar menjauh dari pahanya.
"Cium dulu baru mau pergi." Ucap Ruzen seraya menutup matanya dan memasang senyumnyà.
"Nggak mau ih kak... Kakak apa apaan sih!" Omel atia yang masih tetap berusaha mendorong kepala Ruzen agar menjauh dari pahanya.
"Kalau nggak mau ya udah biar kayak gini aja nanti sampai besok sampai besok sampai besoknya lagi." Ucap Ruzen masih menutup matanya dan dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada, di atas dadanya.
"Nggak mau Kak malu ih!" Tolak Tia.
"Malu sama siapa sih? Orang kita juga udah jadi suami istri, kan udah ngelakuin yang lebih dari ciuman kan kita udah- emph."
Mata Tia langsung melotot dan langsung membungkam mulut Ruzen menggunakan tangannya.
"Udah ya kak Zen apaan sih...." Ucap Tia sebal banget bahkan bibirnya sampai maju 3 senti membuat Ruzen terkekeh.
"Kenapa sih? kamu kenapa?" Tanya Ruzen pada Tia membuat Tia semakin berdecak kesal.
"Iya iya, yaudah maaf. Sayang dulu di sini." Ucap Ruzen seraya menunjuk pada dahinya dengan jari telunjuk.
"Malu Kak!" ujar Tia.
"Malu kenapa sih? Kalau nggak mau ya udah." Ucap Ruzen seraya melipat kedua tangannya di depan.dada membuat kesan seakan-akan dirinya sedang marah.
"Ya udah iya tapi kak Zen harus tutup mata." Ucap Tia.
"Memangnya kenapa sih minta dicium sama istri aja kok banyak banget syaratnya." Omel Ruzen.
"Kalau Kak Zen nggak mau tutup mata ya udah nggak usah dicium sekalian, Tia nggak mau." Ucap Tia balik pura pura marah kepada Ruzen.
"Ya udah ya nih tutup mata nih tutup mata lagi." Ucap Ruzen kembali memejamkan matanya lalu menutup matanya dengan tangan.
Tia juga meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Ruzen agar ia tidak jail dan tiba-tiba membuka matanya.
Cup
"Udah."
"Nggak mau nggak kerasa, tadi kena sama tangan." Protes Ruzen tak terima karena bibir Tia mengenai telapak tangannya yang berada di atas mata.
"Udah ih, ayo kita persiapan. Katanya mau ziarah ke kuburan kakek?" Tanya Tia yang membuat senyum di wajah Ruzen langsung
memudar, hampir saja ia lupa bahwa ia baru saja kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya.
Ruzen langsung mengangkat kepalanya dari Paha Tia dan langsung duduk. Tia menggeser duduknya lebih dekat dengan Ruzen lalu mengelus pundak Ruzen pelan.
"ayo kak." Ucap Tia dengan senyuman.
__ADS_1
Rusen menoleh ke belakang menatap ke arah Tia sekilas lalu mengangguk.
"Kakak mandi dulu ya biar agak segar." Ucap Rusen yang langsung di angguki oleh Tia.