
"Saya tidak tau tuan, yang jelas saya hanya menyampaikan amanat yang diberikan tuan Heri kepada saya" Ucap Anto.
"Ah dasar kakek! Suka sekali merepotkan Ruzen!" Ucap Ruzen terkekeh membuat Anto juga ikut terkekeh karena ia juga paham dengan sifat dan karakter tuan
besarnya itu.
"Baiklah tuan, hanya itu yang ingin saya sampaikan. Mungkin saya akan kembali dalam waktu 2 sampai 3 hari." Ucap Anto.
"Baik om, terima kasih karena Om sudah mau menyampaikan amanat yang diberikan oleh kakek Heri kepada om." Ucap Ruzen.
"Tidak masalah tuan, ini memang sudah menjadi kewajiban saya." Ucap Anto.
"Kalau begitu terima kasih saya matikan dulu teleponnya karena saya masih ada urusan." Ucap Anto.
"Iya, semoga semuanya berjalan dengan lancar ya Om." Sahut Ruzen.
"Iya tuan, terima kasih untuk respon dan do'anya. Assalamu' alaikum...."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh." Ücap Ruzen dan juga Tia secara bersamaan setelah itu Tia
mematikan teleponnya dan langsung
kembali meletakkan ponsel Ruzen di atas dasbor mobil.
"Itu tadi sekretarisnya kakek ya kak?" Tanya Tia sambil menoleh ke arah Ruzen.
"Iya, Kakak juga baru kenal sama beliau kemarin kok. Om Anto namanya, beliau juga yang udah ngabarin Kakak kalau Kakek meninggal karena kecelakaan ." Ucap Ruzen.
Tia manggut-manggut paham dengan cerita Ruzen.
5 menit setelah itu mereka sudah sampai di sebuah tempat pemakaman umum di mana kakek Heri dimakamkan.
Ruzen mencari tempat parkir mobil
lebih dulu diikuti oleh ketiga motor
yang berada di belakangnya.
----------
Setelah itu, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam pemakaman itu. Tentunya tidak dengan Tia.
Karena alasan wanita tidak boleh masuk ke dalam kuburan, akhirnya Tia putuskan untuk menunggu di dalam mobil saja.
__ADS_1
Awalnya Rion menawarkan diri untuk menemani tapi Sudah barang tentu dia di tolak mentah mentah oleh Tia dan juga Ruzen.
Sebenarnya Ruzen merasa tidak tega meninggalkan Tia sendirian di dalam mobil tapi karena Tia berusaha meyakinkan Ruzen akhirnya Ruzen mau meninggalkan Tia di dalam mobil sendirian.
Walaupun begitu Ruzen juga meninggalkan ponselnya agar bisa dimainkan oleh Tia.
"Kuburan kakek gue yang mana sih?" Tanya Ruzen saat mereka berjalan melewati sela sela kuburan.
"Di sana, di paling ujung dekat tembok itu tuh." Ucap Rion seraya menunjuk ke sebuah tembok besar.
PLAKKK
Dengan segera Yoga langsung menggeplak tangan Rion.
"kata neneknya temen gue kalau kita
nunjuk kuburan itu nanti di ikutin sama yang di tunjuk, di ikutin sampai rumah." Ucap Yoga dengan mata melotot membuat mata Rion juga ikutan melotot.
"Emang iya Ga?'" Tanya Ruzen yang juga baru tahu tentang mitos seperti itu.
"Iya serius gue, kalau mau nggak diikutin harus gigit jari yang dipakai buat nunjuk tadi terus di masukin ke dalam ketek." Ucap Yoga yang sukses mendapatkan geblakan dari Sigit di kepalanya.
"Dasar sesat!"
"Ih serius bang!" Ucap Yoga dengan mata yang terbuka lebar meyakinkan mereka.
"Masa sih syirik bang?" Tanya Yoga.
Ruzwn dan juga Rion juga ikut menoleh menatap Danu menunggu jawaban dari Sigit.
"Iya lah syirik, tahayul. Mana ada orang mati bisa bangkit lagi sebelum hari kianmat, namanya orang mati ya bangkitnya nanti kalau udah hari kiamat dibangkitkan bareng-bareng." Ucap Sigit.
"Oh gitu ya."
Yiga dan juga Rion manggut manggut paham dengan apa yang dijelaskan oleh Sigit begitu juga dengan Ruzen yang ikut mangut mangut karena mendapatkan ilmu baru dari Sigit.
"Dasar sesat!"
Seketika Yoga langsung memekik kesakitan ketika tangan kekar Rion mendarat di punggungnya, tangan Yoga langsung terulur mengelus punggungnya yang terasabsangat panas dan kebas akibat tangan Rion yang jahil.
"Itu tuh Ruzen." Ucap Rion seraya menunjuk ke sebuah kuburan yang terlihat masih basah dengan bunga bunga yang juga masih terlihatbsegar di atasnya karena memang barubkemarin sore kuburan itu dibuat.
Ruzen menatap ke arah yang ditunjuk oleh Rion lalu berjalan mendekatinya dengan dikuti oleh ketiga sahabatnya di belakangnya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum kakek....". Ucap Ruzen yang langsung berjongkok membersihkan batu nisan yang kotor karena tadi malam hujan.
"Sebodoh itu ya Ruzen ya kek, sampai sampai ketika kakek Udah nunjukin banyak firasat, Ruzen tetap tidak menyadari semua kode yang kakek berikan." Ucap Ruzen yang terkekeh lalu menghapus air matanya.
"Terima kasih kakek sempat menunggu Ruzen sampai Ruzen menemukan Tia yang bisa menggantikan kakek untuk menjadi
tempat Ruzen mengadu nanti." ujar Ruzen.
Ruzen menghembuskan nafas berat, air mata tidak bisa lagi turun, hanya ada senyuman yang terlihat di wajah Ruzen.
Berulang kali juga lelaki itu menghembuskan nafasnya membuat ketiga sahabat yang berdiri di belakangnya merasa iba.
"Kek, Ruzen belum cerita semuanya sama kakek, tapi ya sudahlah. Nanti Ruzen cerita sama Tia sama teman teman Ruzen aja."
"Oh iya, hari ini papa belum jadi monster." Ucap Ruzen terkekeh.
" mungkin karna hari ini Bang Rian belum
ngebacot kali ya kek?"
Yoga, Sigit dan juga Rion saling toleh dan berusaha sebisa mungkin menahan tawanya saat melihat Ruzen yang berbicara kepada batu nisan.
Saat ini Ruzen malah terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang bermain main. Pasalnya Ruzen sekali tidak ada air mata, yang ada hanya raut wajah cengo dan kadang juga ekspresi marah ketika membahas tentang Rian.
"Udah?" Tanya Sigit terkekeh saat melihat Ruzen berdiri dan menghadap ke arah mereka kembali.
"Udah." Jawab Ruzen seraya menepuk pantatnya yang kotor karena dia tadi duduk di tanah.
"Lo pada ngetawain apa?" Tanya Ruzen seraya yang menoleh ke arah sekeliling mencari tau tentang sesuatu yang membuat mereka tertawa.
"Oh enggak kok, ini kata Yoga sempaknya Rion kebalik." Jawab Sigit yang membuat Yoga dan Ruzen langsung tertawa terbahak bahak.
Sedangkan Rion memincingkan matanya karena lagi lagi dia yang di jadikan bahan tawaan.
"Dah lah males gue." Ucap Rion seraya berbalik arah, menghentakkan kakinya lalu berjalan meninggalkan ketiga teman tanpa akhlaknya itu.
"Udah bos?" Tanya Yoga mengulangi pertanyaan Sigit yang lagi lagi di jawab anggukan oleh Ruzen.
"Udah minta duit belum?" Tanya Yoga membuat ketiganya kembali tertawa terbahak bahak.
"Eh hush! Ini kuburan! Nggak baik ketawa ketawa kaya gini! Ayo keluar." Ajak Sigit saat ia sudah menyadari posisinya.
Akhirnya mereka kembali berjalan keluar dari kuburan itu.
__ADS_1
"Zen, mampir Nyoto yuk." Ajak Sigit.
"Nyoto kan nama bapak angkatnya Yoga buwahahahh..." Ruzen dan juga Sigit kembali tertawa terbahak bahak sedangkan Yoga memberengut dan langsung berjalan lebih cepat dari pada mereka.