Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Bab 44 Keputusan Tia


__ADS_3

Tia juga menggenggam tangan Ruzen yang ada di atas pipinya.


"Kak Zen punya keinginan apa gitu nggak?" Tanya Tia.


"Keinginan yang gimana gitu mksudnya?" Tanya Ruzen tak mengerti dengan maksud Tia.


"Ya apa gitu kak yang kakak pengenin tapi belum bisa kesampaian." Jelas Tia.


"Ada, kakak pengen banget di sayang sama mama papa. Pengen tau rasanua di sayang sama mama sama papa" Ucap Ruzen yang membuat Tia tersenyum kecut.


"apa lagi kak?"


"Kakak pengen di cium dan di peluk sama mama" Ucap Ruzen.


"Sini sini, Tia aja yang gantiin meluk sama cium" Ucap Tia sambil menarik tubuh Ruzen lalu memeluk dan mencium pipi Ruzen.


Ruzen tersenyum lalu mencubit pipi Tia.


"Makasih ya sayang"


"Ada lagi engga kak yang kakak pinginin?"


"Selama Kakak hidup kakak belum pernah sholat di imamin sama papa. Dan kakak sekarang pengen banget di imamin sma papa walaupun nanti kakak sudah menjadi jenazah." Ucap Ruzen yang kini airmata nya mengalir perlahan di pipi nya .


"Hmm gaboleh bicara seperti itu kak."


Tia langsung menghapus air mata Ruzen yang ada di pipi Ruzen.


"Tia pernah enggak sholat di imamin sma ayah Tia?" Tanya Ruzen.


"Udah gaush bahas kayak gini kak" Ucap Tia yang masih saja menghapus air mata Ruzen.


"Jawab aja sayang, kamu pernh enggak sholat di imamin sama ayah kamu" Tanya Ruzen lagi yang langsung di angguki oleh Tia.


"Pasri Seru banget yah kalau sholat di imamin sama ayah kita. Iya kan sayang?" Tanya Ruzen.


Rum Tersenyum.


"Enak di imamin sama suami tauk" Ujar Tia yang mencoba mencairkan suasana.


"Maaf ya, kalau kakak udah bahas kayak gini emg kakak cengen jadinya" Ujar Ruzen.


"Enggak papa kak, ini bisa di jadiin pelajaran buat kakak kalau nanti kak Zen punya anak, anak kakak gaboleh ngerasain apa yg kak Zen rasain sekarang" Ucap Ruzen yang kali ini menatap dalam wajah Ruzen.


"Iya pasti itu, kakak akan pastikan kalau anak anak kakak nanti enggak akan pernh ngerasain yang namanya kurang kasih sayang orang tua. Kakak janji akan menyayangi anak anak kakak nanti" Ucap Ruzen yang membuat Tia tersenyum lebar.


"Janji ya kak" Ucap Tia sambil mengulurkan jari kelingkingnya yang mungil dan langsung di sambut dengan jari kelingking ruzen.


"Kok udah bahas anak sih, Emang udh boleh ya?" Tanya Ruzen yang membuat mata Tia melotot.

__ADS_1


"Boleh kan?" Tanya Ruzen lagi.


"Oh iya ini udh masuk waktu dzhur ayok sholat kak" Ucap Tia yang mengalihkan pembicaraan.


"Ahahahahah kamu lucu tauk" Ucap Ruzen .


°°°°°°°°°


Sore hari, Tia menjalani pengobatan Rutin yang sedang Tia jalani. Hari itu merupakan bulan pertama sejak ia pertama kali melakukan pengobatan dan progres nya luar biasa Tia sudah bisa berdiri walau harus di bantu dengan Ruzen.


Ia baru bisa berdiri saja dan belum bisa melangkahkan kaki. Tia pun sangat senang dengan progres pengobatan yang telah ia lalui. Ia pun semakin bersemangat untuk menjalani pengobatan pengobatan berikutnya.


Siang pun berganti malam. Setelah mengerjakan Sholat isya, Ruzen kembali menyetor hafalan Surat surat ayat suci Al Quran.


"Masya Allah, kak Zen cepet banget sekarang menghafalnya. Udah dapet banyak sekarang nih" Ucap Tia yang bangga dengan pencapaian suaminya.


"kakak di kasih hadiah dong " Ucap Ruzen.


"Kak zen Mau hadiah apa?" Tanya Tia.


"Kalau kakak minta sesuatu di kasih enggak?" Tanya Ruzen balik.


"Kalau Tia mampu insya Allah Tia kasih kak, tapi jangan yang mahal mahal ya. Emang kak Zen mau apa sih?" Tanya Tia.


"Hmm enggak jadi deh'' Ucap Ruzen sambil berdiri dan meletakkan Al Quran ke tempat semula dan menuju kasur nya.


" Ihhh kenapa gak jadi kak?" Tanya Tia.


"Kak Zen beneran siap?" Tanya Tia yang paham dengan maksud Ruzen.


"Udah lupain, kamu tidur aja " Ujar Ruzen sambil menutupi wajahnya dengan bantal.


"Kenapa Gitu? Kalau kak Zen mau, Tia insya Allah siap kok kak" Ucap Tia yang membuat Ruzen membuka bantal yang menutupi wajahnya.


"Beneran boleh?" Tanya Ruzen.


Tia mengangguk.


"Tia ini istrinya Kak Zen, jadi apa yang kakak ingin kan wajib hukum nya Tia menuruti itu, dosa kalau Tia menolak nya." Ucap Tia meyakinkan Ruzen.


Ruzen langsung duduk dan menatap wajah Tia.


"Kamu yakin?" Tanya Ruzen.


Tia mengangguk dan tersenyum.


"Lakukanlah apa yang menjadi kehendak kakak" Ucap Tia Yakin.


Ruzen menarik kepala Tia hingga bibir mereka bersentuhan.

__ADS_1


Pasangan itu memejamkan matanya mempersiapkan dirinya masing masing. Tangan Ruzen meraih tengkuk Tia lalu beralih ke pipinya dan membelainya dengan sangat lembut.


Sedangkan Tia hanya bisa terdiam memejamkan matanya membiarkan Ruzen melakukan apa yang ia mau.


Tetapi sesaat kemudian, Ruzen mendorong tubuh Tia perlahan dan menjauhkan diri dari Tia.


"Kenapa kak?"


"Astaghfirullah maafin kakak ya" Ujar Ruzen dengan bibir yang gemetar.


"Maaf kenapa kak?" Tanya Tia kebingungan.


Ruzen menggusar wajahnya kasar lalu bangkit dari duduknya.


"tidurlah , ini sudah malam." Ucap Ruzen


lalu sejalan keluar ke arah balkon membuat Tia mengerutkan dahinya hingga membentuk lipatan-lipatan kecil.


Tia berdiri lalu membenarkan pakaiannya sedikit, mnemakai hijab dan berjalan menyusul Ruzen keluar, ia bingung saat melilhat Ruzen duduk di bawah dengan rokok yang terselip di mulutnya.


Dapat rokok dari mana laki-laki itu?


"Kak Ruzen kenapa malah ngerokok?" Tanya Tia seraya mendekat, tapi lagi-lagi Ruzen malah menggeser tubuhnya mundur.


"Kak Zen kenapa sih? Buang nggak?!"


Tanpa basa-basi Tia langsung menarik rokok itu dari mulut Ruzen tak mempedulikan tangannya yang terkena rokok itu.


"Astaghfirullah, kamu ngapain sih?!" Ruzen langsung menarikntangan Tia dan neniupnya.


"Kak Zen kenapa merokok?"


"Maaf ya, kakak lupa tutup pintu kamar." Ucap Ruzen.


"Bukan itu maksud Tia, kenapa kak Zen ngerokok? Kakak tau kannkalau Tia nggak suka kakak merokok?" Ucap Tia kesal.


"Maaf sayang, nggak ada pilihan lain. Dari pada kakak terus lanjutin yang tadi,"


"Maksud kakak apa?"


"Enggak, maaf kakak hampirnkelewatan sama kamu." Ucap Ruzennseraya mengelus telapak tangan Tia yang terkena bara dari rokoknya tadi.


Tia menarik tangannya dari genggaman Ruzen lalu duduk di samping Ruzen.


"Memangnya kenapa? Tia kannsudah ijinkan, Tia ikhlas lahir batin kak. Tia siap untuk semua itu."


"Nggak bisa Tia, kamu masih kelas satu SMA."


"Satu bulan lagi kelas dua." Ralat Tia.

__ADS_1


"Intinya sama, kamu masih sekolah. Menjauhlah ." Ucap Ruzen seraya menggeser tubuhnya lebih jauh dari Tia.


Tia tersenyum, sekarang ia paham apa yang ada di pikiran Ruzen dan apa yang membuat dirinya Tiba tiba keluar dan memilih merokok.


__ADS_2