Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Eps 51 Drama Sebelum Sholat Subuh


__ADS_3

"Mau di peluk boleh?" Tanya Ruzen pelan.


Tia tidak menjawab, ia langsung memiringkan tubuhnya menoleh ke arah Ruzen.


"apa? nggak denger?" Ucap Tia menoleh ke arah Ruzen sepenuhnya.


"Mau di peluk boleh nggak?" Tanya Ruzen dengan nada suara yang masih pelan mengulangi pertanyaannya.


"Kak Zen kalau bicara yang keras dong, Tia nggak bisa dengar suara kak Zen." Ucap Tia yang menggoda Ruzen.


Ruzen mengerucutkan bibirnya, ia yang sudah kasal langsung menggeser tubuhnya lebih dekat dengan Tia dan langsung memeluk tubuhnya.


"Crewet!" Ucap Ruzen memeluk tubuh Tia dengan kuat hingga tubuhbTia benar-benar berada di dalam dekapannya.


Tia terkekeh, ia membenarkan posisi pelukan mereka agar ia bisa bernafas lalu ia juga membalas pelukan Ruzen.


Ruzen juga langsung memejamkan matanya, dan mencari posisi yang paling nyaman kemudian langsung mulai memejamkan matanya.


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam mimpi dengan posisi yang berpelukan seperti itu.


-----------


Pukul 04.05 Tia lebih dulu bangun dari tidurnya dan langsung mandi, jujur saja tadi ketika bangun Tia sempat kaget karena tidak biasanya dia bangun jam 04.00 lebih 5 menit.


Biasanya ia akan bangun untuk salat tahajud di sepertiga malam, tapi entah kenapa kali ini Tia bangun tepat sebelum adzan subuh.


Jadi Tia memutuskan untuk segera melakukan kegiatannya yaitu mandi pagi.


Tepat setelah ia selesai melakukan ritual mandinya, Tia langsung berjalan mendekat ke arah Ruzen.


"Kak Zen.... Kak Zen bangun dulu." Ucap Tia lirih seraya menepuk pelan pipi Ruzen.


"Kak Zen....


"Kak Zen bangun dulu ya udah azan subuh nih, ayo kita salat berjamaah dulu." Ajak Tia masih setia mencoba membangunkan Ruzen dengan cara menepuk pelan pipinya.


"Kak Zen bangun.." Ucap Tia sedikit kesal.


"Ya Allah susah banget sih buat di bangunin salat subuh doang." Ucap Tia semakin kesal, menghembuskan nafasnya pelan lalu tersenyum.


Tia yang awalnya kesal dan ingin marah ia langsung tersenyum saat melihat wajah damai Ruzen.


Dengan iseng nya, Tia langsung menarik dan memainkan bulu mata Ruzen yang lentik, membuat sang empu memekik kaget.


"Aih jangan di tarik.." Ucap Ruzen seraya menutup matanya dengan telapak tangan.


"Bangun dulu kak, masa iya sih imam bangunannya belakangan." Ucap Tia.


"Iya sebentar lagi, satu menit lagi ."Ucap Ruzen.

__ADS_1


"Oke beneran 1 menit ya." Ucap Tia.


Tia menuruti Ruzen ia diam tidak mengganggu Ruzen melihat dan menatap wajah Ruzen yang tidur dengan wajah damai.


"Bangun kak Zen, udah 1 menit." Ucap Tia kembali menepuk pelan lengan Ruzen.


tapi Ruzen hanya menggeliat dan menarik selimut hingga menutupi wajahnya.


"Aish kak Zen!"


"Ayo bangun dulu kak, ayo kita salat subuh dulu!" ujar Tia kembali menggoyangkan lengan Ruzen lebih cepat dari sebelumnya.


tapi hasilnya tetap sama, Ruzen sama sekali belum mau membuka matanya.


"Kak Zen ih! Ayo ih kita bangun dulu salat subuh Kak..." paksa Tia.


"Tia duluan aja." Ucap Ruzen tanpa membuka matanya.


"Ishhhh."


Tia berdecak kesal dengan wajahnya yang ikutan kesal karena kesulitan membangunkan Ruzen,bsampai akhirnya dia kembali tersenyum saat terpikirkan satu ide yang dipastikan akan langsung


membuat Ruzen terbangun dari tidurnya.


"Ya udah deh kalau gitu Tia mau panggil bg Rian dulu deh minta disuruh imamin bang Rian aja solatnya." Pancing Tia.


"Emang Berani?!"


"Berani kok, emangnya takut sama apa? Takut kakek bangun lagi? Tia mah nggak takut sanma setan." Ucap Tia seraya membalikkan tubuhnya hendak keluar dari


kamarnya.


Tapi dengan segera segera, Ruzen langsung menarik pergelangan tangan Tia dengan kuat hingga membuat Tia terjatuh di atas tubuhnya.


"Jangan macam-macam ya kamu !" Ancam Ruzen dengan mata yang melotot.


"Macam-macam kenapa sih Kak? Cuma satu macan doang kok." Ucap Tia yang mengerutkan alisnya.


"Kalau sampai kamu berani salat bareng orang lain-" Ruzen terdiam tidak melanjutkan ucapannya bingung harus mengancam dengan cara apa.


"Kenapa? Kalau sampai Tia berani solat bareng sama orang lain emangnya kenapa?" Tanya Tia.


Ruzen mengerucutkan bibirnya lalu menarik tubuh Tia agar tidak menjauh darinya, Ruzen mendekap tubuh mungil itu dan kembali memejamkan matanya.


"Nggak boleh solat bareng sama laki laki lain , kan imam kamu aku ." Ucap Ruzen dengan bibir mengerucut.


"Ya udah makanya iya ayo kita salat dulu, kalau nggak mau aku nanti salat sama laki laki lain loh?!" ancam Tia.


"Enggak boleh! Pokoknya harus salat bareng aku!" paksa Ruzen.

__ADS_1


"Yaudah ayo..."


"Sebentar lagi ya."


"Ih kak Zen... Waktu subuh keburu habis." Omel Tia.


Ruzen pun berdecak kesel ia langsung melepaskan tangannya yang berada di


leher belakang Tia, setelah Ruzen melepaskan dirinya Tia langsung berdiri.


"Ayo bangun." ujar Tia.


Kali ini Ruzen menurut dan langsung bangkit dari tidurnya. Laki laki itu langsung berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


Tia sampai dibuat geleng-geleng melihat tingkah Ruzen, Tia segera mendekati ke arah lemari mengambil mukena dan sajadahnya.


la membentangkan dua sajadah lalu memakai mukenanya, hanya butuh waktu kurang dari 5 menit Ruzen sudah keluar dari kamar mandi.


Tia menyerahkan sarung yang sudah ia


ambil dan langsung dikenakan oleh Ruzen.


Ruzen menggusur wajahnya sebentar agar kantuknya hilang lalu ia mulai berdiri di depan Tia.


"Allohu Akbar..."


"Allohu Akbar.."


Dalam hati Tia merasa sangat tenang bisa diimami oleh Ruzen seperti ini, merasa sangat senang dan juga merasa sangat bangga di dalam hatinya.


Ruzen memang tidak sepandai bang Sigit dalam mengerjakan ibadah, bacaan surat yang di bacanya juga hanya surat-surat pendek dari juz amma.


Tapi Tia sama sekali tidak merasa terganggu dengan itu semua, menurutnya Ruzen mau belajar dan mau berusaha itu jauh lebih baik daribpada orang yang sudah bisa dan tidak perlu belajar lagi tapi dia merasa sombong.


Ruzen memang tidak seperti laki laki lain, dan itulah yang membuat Tia sangat tertarik dan sangat mencintai dirinya sejak dulu.


Jika kebanyakan wanita akan mencintai Ruzen karena fisiknha, tapi tidak dengan Tia yang memang benar-benar mencintai Ruzen karena cinta.


Karena jika Tia ditanya tentang kenapa dia memilih Ruzen untuk dijadikan orang yang dia cintai Tia tidak akan pernah tahu jawabannya.


"Assalamualaikum warahmatullah.."


"Assalamualaikum.."


Ruzen membalikkan tubuh nya menoleh ke arah Tia yang berada di belakang nya, lalu ia mengulurkan tangannya dan dengan segera Tia menerima uluran tangan itu dan


langsung mencium punggung tangan


Ruzen.

__ADS_1


__ADS_2