
"Ahahah, bener kan kakek itu orangnya memang lebay. Tinggal wa atau telpon aja kok ribet, malah cari yang ribet." Ucap Ruzen terkekeh.
Tia kembali melipat kertas itu dan menatap ke arah Ruzen.Tia tersenyum lalu mengulurkan tangannya menghapus air mata Ruzen yang mengalir di sudut mata nya.
"Kenapa kakek menyebalkan ya ?" Tanya Ruzen.
Tia hanya diam belum berniat menjawab ucapan Ruzen.
"Kakek sudah tau banyak, dari semua yang di tulis kakek di surat itu sepertinya kakek sudah memiliki firasat. Tapi kenapa ya kakek malah tetep pengen pergi ke luar kota yang akhirnya malah membuat kakek pergi untuk selamanya?"
"Nggak boleh gitu kak, ini semua namanya sudah menjadi takdir. Sekuat apapun kita menghindar sehebat apapun kita bersembunyi dan sebanyak apapun harta yang kita miliki, kalau sudah waktunya
meninggal ya kita tidak bisabmenghindar." Ucap Tia dengan tangan yang membelai pipi Ruzen dengan lembut.
Ruzen menghembuskan nafas pelan mendengar ucapan dari Tia, sebenarnya ia sudah berusaha sekuat mungkin agar menerima semua ini.
Tapi bagaimanapun kakek nya adalah orang yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan Ruzen. Bukan hanya sekali dua kali kakek nya menemani Ruzen dan
menjaga Ruzen, tapi sudah berulang kali.
Tia tersenyum, ia juga pernah merasakan apa yang di rasakan oleh Ruzen, saat di mana kita kehilangan orang yang kita sayang. Tapi kitabsama sekali tidak bisa menangis. Rasanya sakit dan sesak.
"Mau cium kak?" Tanya Tia yang
langsung membuat Ruzen membuka
kedua matanya.
"Udah berani nawarin nih?" Tanya Ruzen.
Tia memejamkan matanya saat menyadari
kebodohannya. Dapat keberanian dari mana tadi sampai dia berani bertanya seperti itu pada Ruzen.
"Sini, sini sama sini." Ucap Ruzen seraya menunjuk ke arah kedua pipi dan juga hidungnya, setelah itu ia memejamkan matanya dengan senyuman.
"Nggak jadi kak, Tia cuma becanda tadi heheh." Ucap Tia meringis lalu sedikit mendorong kepala Ruzen agar menjauh dari dirinya.
Tapi Seperti sebelumnya, Ruzen justru
menahan kepalanya agar tidak bergeser sedikitpun.
"Tia mau sisir rambut dulu kak." Ucap Tia seraya kembali berusaha mendorong kepala Ruzen.
"Janji adalah hutang, cium dulu baru boleh pergi." Ucap Ruzen memaksa.
__ADS_1
Haduh, sepertinya mulai saat ini kalau bicara memang harus hati-hati, entah kenapa mulut Tia suka tiba tiba bicara tanpa kontrol saat berada di dekat Ruzen.
Tok tok tok
"Assalamu'alaikum den Ruzen." Tia menoleh ke arah Ruzen tengah menyisir rambutnya di tepi ranjang.
"Itu bi Momon sayang, tolong kamu bukain ya." Ucap Ruzen.
Rum mengangguk dan kembali memakai
cadarnya dan langsung mendekat ke arah pintu.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh, iya bi? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Tia begitu ia sudah membuka pintu kamarnya.
"Ini neng, nyonya meminta untuk neng dan Aden keluar untuk makan bersama." Ucap bi Momon.
"Oh baik bi, kalau begitu saya akan segera turun bersama Kak Ruzen. Terima kasih ya bi." Ucap Tia.
"Iya neng sama sama, kalau begitu bibi turun duluan ya neng." Pamit bi Momon dan langsung berjalan menuruni tangga untuk kembali ke kamarnya.
"Di panggil mama buat makan ya" Tebak Ruzen.
"Iya kak." Jawab Tia seraya menutup kembali pintu kamarnha lalu mendekat ke arah Ruzen.
Tia mengangguk dan ikut berdiri.
"Nanti kalau di luar cuman ada mama sama papa di buka aja cadarnya nggak papa ya." Ucap Ruzen berpesan sebelum mereka keluar dari kamar.
"Iya kak." Jawab Tia, "tapi kalau ada Kak Rian gimana?"
"Kalau ada bang Rian... Gimana ya? Kamu maunya gimana?" Tanya Ruzen.
"Gimana kalau ada kak Rian nanti bilang aja Tia udah makan, terus nanti Tia makan di atas aja." Usul Tia.
"Yah, kasihan dong kamu." Ucap Ruzen menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya menghadap ke arah Tia.
"Nggak apa apa Kak , lagian sebenarnya Tia nggak terlalu lapar kok. Cuma pengen deketin kedua orang tuanya kak Zen aja." Ucap Tia.
"Ya udah, ayok." ujar Ruzen yang langsung
mendorong kursi Roda Tia lalu membawanya keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga menuju ruang makan.
"Makan dulu Nak." Ucap Lusi.
"Iya ma." Jawab Ruzen.
__ADS_1
"sini sayang." Ücap Ruzen seraya menarikkan satu kursi untuk Tia duduk.
"Makasih kak." Ucap Tia yang kemudian duduk di kursi itu tepatnya duduk di depan Lusi.
"Sama sama." Jawab Ruzen seraya mengambil duduk di samping Tia atau tepatnya duduk berhadapan dengan Arman.
"Apa istrimu itu akan tetap memakai cadar walaupun dia berada di ruang nmakan Zen?" Tanya Lusi sambil menatap ke arah Ruzen shingga membuat Tia menunduk.
"Tia duduk di depan Mama kenapa Mama nggak tanya langsung sama orangnya?" Tanya Ruzen seraya ambil nasi untuk piringnya dan juga piring Tia.
Mendengar pertanyaan dari Lusi, Tia langsung berinisiatif membuka cadarnya karena ia ingat dengan pesan yang di sampaikan oleh Ruzen tadi bahwa jika hanya ada Lusi dan Arman ia di. perbolehkan untuk membuka cadarnya.
"Bisa nggak?" Tanya Ruzen saat melihat Tia kesulitan dalam membuka ikatan cadarnya, sebelum mendapat jawaban dari Tia.
Ruzen langsung mengulurkan tangannya
untuk membantu Tia yang sedang melepaskan cadarnya.
"Anak muda zaman sekarang taunya cuma pacaran doang ya." Ucap Arman yang reflek membuat Ruzen menoleh ke arahnya dan menatap tajam ke arah Arman.
"Kenapa?" Tanya Arman santai seraya kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
"Memangnya kenapa? Hubungan Rizen sama Tia sama seperti hubungan mama sama papa, lagian kita tidak berbuat yang berlebihan kan?!" Ucap Ruzen dengan alis yang mengkerut pertanda ia tidak menyukai apa yang di ucapkan oleh Arman.
Sedangkan Tia langsung menepuk paha Ruzen, memberi kode agar jangan dilanjutkan. Jujur saja Tia merasa ketar-ketir berada di tengah-tengah mereka.
Apalagi baru di pancing seperti itu saja Ruzen sudah emosi. Ruzen menghembuskan nafas pelan lalu menyerahkan satu piring nasi beserta lauknya ke arah Tia.
"Kamu cantik juga, siapa nama kamu?" Tanya Lusi kemudian memasukkan makanan ke dalam mulutnya dengan tatapan yang menatap ke arah Tia sekilas lalu kembali fokus pada makanannya.
"Tia ma." Jawab Rum sedikit menundukkan kepalanya.
Entah bagaimana perasaan Ruzen saat ini, apakah dia harus marah karena Lusj sampai menanyakan nama Tia, sedangkan Tia sudah lama menikah dengannya.
Ataukah dia harus merasa senang karena Lusi mau mencari bahan obrolan dengan Tia.
Entahlah, kali ini Ruzwn hanya memilih diam. Lusi manggut manggut
mendengar jawaban dari Tia.
"Bagaimana respon kedua orang tua kamu saat kamu menikah dengan anak saya?" Tanya Lusi kali ini menoleh ke arah Tia karena memang benar benar ingin tahu dengan jawaban Tia.
"ayah Tia sudah meninggal 1 bulan lebih, sebelum bersama dengan Kak Ruzen. sama ibuk sama Abang sigit di rumah."
Ucap Tia.
__ADS_1