Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Eps 58 Rasa Cinta Yang Besar


__ADS_3

"Kalau di rumah banyak barangnya pasti gue ngambil karna gue cuma sendiri di sini. untung rumah bang Sigit nggak ada harta berharga." Gerutu Rion di sepanjang jalan.


Setelah ia sampai di luar,Sigit dan juga Yoga tengah menoleh ke arahnya dengan tatapan datar.


sedangkan Rion terus saja menggombal kesal karena ditinggal sendirian di dalam rumah Sigit.


"Udah?" Tanya Ruzen saat Rion sudah menghentikan ucapannya dan langsung dia menatap mereka dengan sinis.


"Makanya kalau kumpul itu fokus sama orang-orang, fokus sama temennya jangan malah fokus sama game sendiri." Omel Sigit.


Rion yang merasa dirinya tidak salah masih saja diam dan menatap sinis ke arah mereka membuat ketiga orang itu geleng geleng kepala termasuk Tia.


"Udah ih ayo, keburu di suruh beli air mineral gue." Ucap Ruzen seraya masuk ke dalam mobilnya yang diikuti oleh Tia.


Mereka mulai melajukan kendaraannya masing-masing menuju ke makam kakek Heri, memang mereka menaiki motor


sendiri sendiri sedangkan yang menaiki mobil hanya Ruzen dan juga Tia.


----------


"Kenapa sayang?" Tanya Ruzen.


"Pusing liat tingkah kak Ruzen sama temen-temen Kakak." Ucap Tia seraya memijat pelipisnya yang terasa pusing.


Dan hal itu sukses membuat Ruzen tertawa terbahak bahak.


"itu emang tempat pelampiasan kakak sama Yoga yang memang kurang kasih sayang dari orang tua ." Ucap Ruzen yang terkekeh.


"Tapi aneh." Ucap Tia seraya menoleh ke arah Ruzen.


Ruzen juga menoleh sekilas ke arah Tia lalu kembali fokus menatap ke arah jalanan yang berada di depannya.


"Bukan aneh sayang, tapi unik." Bantah Ruzen sehingga membuat Tia mengangkat kedua alisnya bingung sekaligus tidak terima jika Ruzen menyebut tingkah mereka dengan sebutan unik.


"Emang kenapa? Gakpercaya?" Tanya Ruzen.


Tia hanya menggelengkan kepalanya lalu kembali menatap ke arah jalanan yang ada di depannya membuat Ruzen kembali tertawa terbahak bahak.


"Kak Zen.." Panggil Tia.


Dan lagi lagi Ruzen hanya menoleh sekilas ke arah Tia lalu kembali fokus pada jalanan yang ada di depannya.


"Dalem sayang..." jawab Ruzen.


"Kenapa?" Tanya Ruzen saat Tia masih saja diam dan belum melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Emm, Kak Sam masih suka sama kak Anggi nggak?" Tanya Tia dengan suara lirih.


"Bukannya kamu udah pernah tanya soal ini ya?" Tanya Ruzen mengerutkan keningnya saat ia merasa bahwa Tia sudah pernah


menanyakan hal ini padanya.


"Jawab aja."


"Enggak lagi sayang. Perasaan aku buat


dia sudah terkubur sangat dalam dan


sampai kapanpun perasaan itu tidak


akan pernah lahir kembali." Ucap Ruzen dengan sangat yakin.


Tia hanya menghembuskan nafas pelan lalu mengangguk tidak tahu harus merespons seperti apa.


"Kenapa nanyain hal itu? Kamu ragu sama cinta yang Kakak punya?" Tanya Ruzen menoleh ke arah Tia.


"Nggak tau kak, setelah Tia denger cerita dari kakak tadi kayaknya cinta yang kakak miliki buat kak Anggi itu besar banget." Ucap Tia dengan kepala yang sedikit tertunduk.


"Dulu memang iya , tapi itu dulu bukan sekarang. Cinta yang kakak miliki buat kamu sekarang jauh lebih besar sangat jauh lebih besar dari pada cinta kakak yang dulu Kakak miliki buat Anggi." Ucap Ruzen.


Mendengar pertanyaan dari Tia, Ruzen langsung mengangguk dengan cepat.


"kalau enggak, nggak mungkin kakak bisa cinta kamu mengalahkan cinta yang kakak miliki buat Anggi dulu." Ucap Ruzen sambil tersenyum lebar.


Tia pun hanya merespon dengan senyuman, ia tidak tahu lagi harus


merespon seperti apa. Karena jujur saja hatinya masih sedikit ragu apalagi saat mendengar cerita dari Ruzwn terlihat sangat jelas bahwa Anggi memiliki arti penting dalam hidup Ruzen ketika dulu.


"Jangan pernah kamu meragukan cinta yang aku punya ya." Ucap Ruzen tanpa menoleh ke arah Tia.


"Enggak kok kak, maaf ya..." Ujar Tia.


"Sebenarnya apa yang kamu ragukan dari kakak?" Tanya Ruzen.


Tia hanya diam saja tidak menoleh bahkan tidak menjawab pertanyaan dari Ruzen hanya diam menunduk saja.


"Kakak emang nakal sayang, tapi bagi kakak Cinta dan pernikahan itu bukan hal yang pantas untuk di permainkan. Jadi ketika kakak sudah memilihmu berarti kakak juga sudah melibatkan hati di dalam pernikahan ini." Ucap Ruzen dengan wajah serius.


"Untuk selanjutnya Kakak nggak mau ada keraguan di antara kita, kalau perlu ada yang di tanyakan kamu boleh tanyakan. Kalau perlu ada yang di perjelas silakan di


perjelas. Jangan ada sesuatu yang janggal di antara kita." Ucap Ruzen.

__ADS_1


"Paham kan?"


"Iya kak." Jawab Tia mengangguk.


"maaf ya kalau pertanyaan Tia tadi terkesan seperti meragukan." Ucap Tia .


"Enggak kok nggak papa." Ucap Ruzen seraya mengulurkan tangannya lalu membelai lembut puncak kepala Tia.


Drrt Drrt Drrt


"Ada yang telpon kak." Ucap Tia saat ia mengintip layar ponsel Ruzen yang berada di atas dasbor dengan posisi yang lebih dekat dengannya dari pada dengan Ruzen.


"Siapa?" Tanya Ruzen.


Tia meraih ponsel itu lalu menunjukkan pada Ruzen. Terlihat nomor tidak dikenal yang melakukan panggilan masuk.


"Oh itu sekertaris kakek, angkat aja nggak papa, di loud speaker." Ucap Ruzen.


Tia mengangguk dan langsung menuruti apa yang diperintahkan oleh Ruzen padanya.


"Hallo, tuan Ruzen?" Tanya seorang laki-laki dari seberang telepon setelah Tia menyalakan speaker panggilannya.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh Om." Sahut Ruzen yang membuat Anto terkekeh di seberang sana.


"Maaf saya lupa, Assalamu' alaikum tuan muda." Ulang Anto.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wa barokatuh... Iya om? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ruzen.


"Tidak tuan, saya hanya ingin memberitahu bahwa saat ini saya masih berada di luar negeri untuk menghandle perusahaan yang ada di sini. Jadi kemungkinan saya akan


terlambat datang ke Indonesia." Ucap Anto dari seberang telepon.


"Lalu?"


"Saya hanya mengabarkan tuan." Ucap Anto sedikit kesal dengan respon dari Ruzen yang sangat singkat dan terkesan acuh.


Bahkan sampai Tia di buat terkekeh melihat respon Ruzen yang sepertinya terdengar sangat menjengkelkan bagi siapapun yang bertanya atau berbicara.


"Iya, lalu kenapa Om mengabarkan pada saya? Kan yang mengurus perusahaan yang ada di Indonesia papa bukan saya?" Ujat Ruzen.


"Ini semua atas perintah dari tuan Heri, jadi apapun yang saya lakukan dan keputusan apapun yang saya ambil saya harus memberitahu dan konfirmasi kepada tuan Ruzen." Ucap Anto dari seberang telepon.


"Tapi kenapa saya? Saya kan nggak tau apa-apa." Ucap Ruzen mengerutkan kedua alisnya karena merasa bingung dengan apa yang di ucapkan oleh Anto.


"Saya tidak tau tuan, yang jelas saya hanya menyampaikan amanat yang diberikan tuan Heri kepada saya" Ucap Anto.

__ADS_1


__ADS_2