Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Bab 40 Sosok Istri


__ADS_3

"Kak Ruzen pinter banget sih masaknya, buburnya enak." Puji Tia saat bubur itu sudah melewati kerongkongannya.


"Iya, kakek pernah ngajarin buat bubur. Selain itu bi Iyah juga sering buatin makanya jadi bisa buat." Ucap Ruzen


"Kak Zen jago masak, Nanti kalau Tia udah sembuh, Ajarin Tia masak ya kak" Ucap Tia memohon.


"Iya cantik" Ucap Ruzen.


Ruzen terus menatap ke arah Tia yang tengah asyik menikmati Bubur Buatan nya.


"Sini minum dulu" Ucap Ruzen samvil mengambil mangkok bubur yang telah habis dari tangan Tia dan menyerahkan segelas air putih.


"Alhamdulillah" Ucap Tia.


"Kakak udah makan?" tanya Tia.


"Sudah" Ucap sam berbohong.


"Kakak tidur sebentar gapapa ya" Ucap Ruzen merebahkan dirinya di kasur.


"Kakak kenapa? Kok kayak nya lagi sedih gitu" Tanya Tia.


"Kakak tiba tiba ke inget sama mama" Ucap Ruzen.


Tia pun hanya terdiam menatap Ruzen. Ia mencoba terus berfikir harus melakukan apa di saat situasi seperti ini.


"Kak Zen mau sesuatu engga?" Tanya Tia.


"Hem?" Ruzen membalikkan tubuhnya yang kini menghadap Tia.


"Mau sesuatu enggak kak?" Tanya Tia lagi.


"Hmm. engga deh" Ucap Ruzen. sambil meletakkan tangan nya di atas lutut Tia.


"Kasih semangat dong" Ucap Ruzen lirih.


"Emmm ,Kasih semangat?" Tanya Tia.


Tia mengangguk pelan dan matanya masih terpejam.


Tia tersenyum lalu mengulurkan tangan nya menyentuh pipi Ruzen dengan lembut.


"Semangat Kak Zen." Ucap Tia.


"Udah semangat belum kak?" Tanya Tia dan di jawab gelengan oleh ruzen.


"Semangat dong sayang" Ucap Tia lagi dengan berbisik di telinga Ruzen yang membuat Ruzen mengangkat Sudut bibir nya.


"Udh semangat?" Tanya Tia .


"Sedikit" Ucap Ruzen sambil membuka matanya.


"Kok Cuma sedikit sihh" Ucap Tia Cemberut.


Ruzen membuka matanya lalu menatap ke arah Tia.


"Sini cerita sana Tia kak, siapa tau dengan kak Zen cerita ke tia, hati kak Zen bisa tenang" Ucap Tia.

__ADS_1


Ruzen menghembuskan nafas nya terus menatap Tia.


"Kakak bodoh banget ya sayang?" Ucap Ruzen.


Tia terdiam sejenak menunggu Ruzen melanjutkan perkataan nya.


"Sayang'' Panggil Ruzen yang melihat Tia terdiam.


" Iya kak"


"Kakak sebodoh itu yaa" Ucap Ruzen kembali mengulangi pertanyaan nya.


"Engga kak, emang siapa yang bilang kakak bodoh?" Tanya Tia.


"Orang tua kakak" Jawab Ruzen yang kembali menatap langit langit kamarnya.


Tia tersenyum mendengar jawaban dari Tia. Tangannya kembali terulur membelai wajah Ruzen dengan lembut.


"Mereka salah kak, Kak Zen itu engga bodoh. Merekalah yg bodoh udh nyakitin putra yang gantengnya kayak gini" Ucap Tia sambil menyentuh dada Ruzen.


Ruzen menangkap tangan Tia yang masih di dada dan segera menggenggam tangan Tia.


"Bener juga sama apa yang di bilang papa, Kakak bodoh gak seperti Bang Rian yang nurut dan pandai. kakak gak bisa buat papa sama mama bangga"


"Mereka salah kakk, mereka tidak bisa membandingkan kakak sama bang Rian"


"Engga, Kakak memang orang yang gak berguna kakak bodoh dan-"


Tia menaruh telunjuk di bibir nya Ruzen agar Ruzen menyetop apa yang ia katakan.


Ruzen kembali menatap wajah Tia yang tersenyum dan mata yang berkaca kaca.


"Kakak bukan orang yang seperti itu! Mereka salah udh nganggep kakak seperti itu" Ucap Tia mengelus pipi Ruzen.


"Kakak dan bang Rian itu gak akan pernah sama, jadi stop banding bandingin diri kakak dengan bang Rian." Ucap Tia.


Ruzen terdiam melihat Tia yang sedang berbicara sambil tersenyum ke arahnya.


"Menurut Kak Zen, Tia itu bodoh atau enggak?" Tanya Tia yang di jawab gelengan oleh Ruzen.


"Nah kan. Terus kenapa kak Ruzen masih meragukan pilihan Tia? KalaubTia saja pilih kak Zen, berarti Tia merasa kak Zen jauh lebih baik dari siapapun"


"Mungkin Kamu khilaf?" Ucap Ruzen.


Tia menepuk dahinya lalu terkekeh mendengar ucapan Tia.


"Khilaf?" Ucap Tia yang di angguki oleh Ruzen, Ruzen pun ikut terkekeh melihat raut wajah Tia yang terlihat mengejeknya.


"Kak Ruzen, Lucu banget sih." Ucap Tia menyentil bibir Ruzen membuat ia mengaduh kesakitan dan langsung memegangi bibirnya.


"Menikah nggak semain-main itu kak." Ucap Tia.


"Udah ah nggak usah bahas orang lain, intinya Tia maunya sama kak Ruzen, nggak perlu dengerin mereka yang nyakitin hati


kakak, sekalipun orang itu keluarga atau bahkan orang tua kak Ruzen sendiri." Ucap Tia dengan tegas.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karna kamu berhak bahagia, dan kamu bertanggung jawab atas bahagiamu sendiri, menjauhkan jika itu membuat kak Ruzen terluka, tutup mata dan telingamu dari hal-hal yang menyakitkan,"


"Tapi kenapa harus orang tuaku yang nyakitin aku ya ?"


"Biarin kak!" Ucap Tia kesal.


"nggak usah dengerin mereka."Ucap Tia


"Kenapa? Kata Kamu waktu itu kalau laki-laki itu milik ibunya sampai mati? Kalau aku durhaka sama mama gimana?"


"Emangnya dari kalimat Tia yang mana yang bilang kalau Tia nyuruh kakak buat durhaka? Emang ada kalimat Tia yang bilang kak Zen harus durhaka sama mama


sama papa kakak? Yang nyuruh kakak buat nyakitin mereka dan balas dendam ke mereka?" Tanya Tia yang di jawab gelengan oleh Ruzen.


"Tia hanya minta sama kak Ruzen, stop dengerin hal-hal yang justru akan menyakiti hati kak Zen nantinya".


Ucap Tia sedikit kesal membuat Ruzen terkekeh.


"Iyaa... Iya sayang..."


" iya, iya tapi nggak di praktekin beneran!" Ucap Tiq ketus seraya mendorong kepala Ruzen dengan pelan agar menjauh darinya,


tapi Ruzen justru menahannya.


"Gitu aja ngambek. Minta di cium nih bibirnya." Ucap Ruzen mencapit bibir Tia dengan kedua jarinya.


"Jangan." Ucap tia terkekeh seraya melepaskan tangan Rusen dari bibirnya.


"Emangnya kenapa jangan? Kan udah boleh?"


"Em, jangan ya kak Zen." Ucap Tia menunduk dengan bibir mengerucut.


"Iya. Cuma becanda kok." Ucap Ruzen.


"Tapi nanti kalau udah boleh bilang ya." Sambung Ruzen membuat Tia blushing dan langsung menutup wajahnya dengan satu tangan.


"Ahahahh... Panas ya Bu? Sampe merah gitu pipinya?" Goda Ruzen seraya mengangkat kepalanya dan duduk.


Ah sungguh! Sepertinya membuat Tia malu dan salah tingkah adalah hobbi baru Ruzwen saat ini.


"Kakak jail ih!"


"Cie ada yang malu nih, sweet Sweet.." Goda Ruzen menaik turunkan alisnya.


"Ish apaan sih kak!" Tia menutup matanya lalu menutup wajah Ruzen dengan telapak tangannya membuat tawa Ruzen semakin pecah.


"Udah ah males!" Ucap Tia mengerucutkan bibirnya dengan tangan yang ia lipat di depan dada.


"Iya, iya. Becanda kok." Ucap Ruzen menghentikan tawanya.


Jujur Tia hanya berpura-pura marah, ia merasa sangat senang karna Ruzen sudah tidak diam seperti tadi, kalau Ruzen diam seperti tadi Tia akan kebingungan tak tau harus apa.


"Main ke mall lagi yuk." Ajak Ruzen.


"Kapan?" Tanya Tia.


"Besok abis kamu lahiran." Ucap Ruzen.

__ADS_1


__ADS_2