Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Eps 68 Flashback


__ADS_3

"Tumben kita nggak pake baju warna couple?" Tanya Ruzen saat dia sudah keluar dari tempat ganti baju itu dan menunduk melihat kaosnya yang berwarna putih.


"Karna kalau Tia pakai baju warna hitam terus, kasihan kalau kak Ruzen harus ikutin tia yang terus pake pakaian hitam." Jawab Tia.


"Lah, ya nggak masalah kali. Kakak mah enjoy aja, lagian setelah lama sama kamu, sekarang kakak udah terbiasa sama warna hitam dan malah justru sekarang suka sama warna hitam." Ucap Ruzen.


"Ya udah kalau gitu mulai besok Tia bakalan siapin pakaian kakak warna hitam semua." Ucap Tia berniat bercanda tapi malah di acungi jempol oleh Ruzen.


"Ayo solat Maghrib dulu." Ajak Ruzen.


Tia mengangguk lalu memakai mukenanya dan membentangkan dua sajadah di dekat sofa yang ada di sana. Setelah itu mereka berdua segera mengerjakan salat Maghrib secara berjama'ah.


Setelah selesai mengerjakan salat magrib berjamaah, kedua insan itu duduk dengan kaki yang di selonjorkan dengan saling


berhadapan.


"Kamu mau telpon bang Sigit dulu nggak sayang? Sebelum bang Sigit berangkat kesini biar mampir dulu ke rumah." Ucap Ruzen seraya menatap ke arah Tia dengan kedua tangan yang mengelus kedua lututnya.


"Udah kok kak, nggak jadi telepon, tadi Rum udah kirim pesan ke Abang ." Ucap Tia yang kemudian di angguki oleh Ruzen.


"Tiaaa..." Panggil Ruzen.


"Iya kak?" Tia ikut mendongak menatap ke arah Ruzen yang memanggil dirinya.


"Kamu nggak mungkin lupa kan kalau kamu masih punya hutang sama kakak?" Tanya Ruzeb membuat kedua alis Tia tertaut karena bingung.


"Utang apa kak?" Tanya Tia sembari mengingat ingat dia pernah berhutang apa pada Ruzen.


"pasti lupa deh." Ucap Ruzen berdecak kesal melihat Tia melupakan janjinya yang ia bilang akan bercerita pada Ruzen tentang kematian kedua orang tuanya.


"Bentar." Tia mengingat ingat kembali ia pernah berhutang apa kepada Ruzen, tapi walaupun dia sudah berusaha mengingat ingat ia tidak ingat pernah berhutang apapun kepada Ruzen.


"Seinget Tia, Tia nggak pernah punya hutang sama kak Ruzen deh, bukan cuma sama kakak doang, sama siapapun juga nggak pernah hutang kok. Soalnya Abang selalu ngelarang buat Tia pinjem uang ke orang." Ucap Tia membuat Ruzen


memutar bola matanya.


"Masa sih kamnu nggak inget?" Tanya Ruzen.


"Enggak kak." Ucap Tia seraya menggelengkan kepalanya, "tapi


emang Tia nggak pernah pinjem uang sama orang kok.

__ADS_1


Tia selalu dibajari sama Abang buat mensyukuri apa yang ada." Ucap Tia yang


lagi lagi membuat Ruzen berdecak kesal.


"Oalah.... Bilang dong kak." Ucap Tia seraya menepuk jidatnya saat dia mengingat sesuatu.


Dan hal itubsukses membuat kedua sudut bibir Sam terangkat ke atas.


"Yang waktu itu di minimarket kan? Yang waktu kita pertama kali kenal dan Tia lupa bawa dompet kan?" Tebak Tia yang membuat senyum di wajah sampai luntur di gantikan dengan wajah sinis.


"Ya Allah Tia lupa kak, bentar Tia ambilin dulu ya." Ucap Tia seraya hendak


mengambil uang untuk mengganti uang Ruzen yang waktu itu.


Tapi dengan segera Ruzen langsung menarik tangan Tia hingga Tia terjatuh dan terduduk di atas paha Ruzen dan wajahnya menubruk dada Ruzen.


"Bukan itu!" Ucap Ruzen kesal lalu


menggigit pelan pipi Tia.


"Terus apa dong?" Tanya Tia seraya mengusap pipinya yang bekas digigit oleh Ruzen.


"Kata orang-orang kalau janji itu sama dengan hutang kan?" Tanya Ruzen.


Lagi lagi Ruzen menghembuskan nafas kasar karna merasa kesal dengan Tia.


"untung aja sayang, kalau nggak sayang udah aku buang kamu ke lautan yang." Ucap Ruzen kesal yang membuat Tia terkekeh.


"Tia juga manusia kak, pastibbisa lupa. Kalau Tia punya janji tapi Tia lupa ya di ingatkan kalau Tia punya hutang dan Tia lupa ya di tagih." Ucap Tia.


"Yaudah iya." Ucap Ruze memilih mengalah dari pada urusannya semakin panjang.


"Kenapa nih? Tia pernah janji apa sama kak Ruzen?" Tanya Tia dengan senyuman.


Tia hendak beranjak dari atas paha Ruzen, tapi Ruzen lebih dulu menahan pinggang Tia.


"Gini aja biar enak." Ucap Ruzen.


Tia akhirnya hanya bisa pasrah lalu membalikkan tubuhnya menatap ke arah Ruzen sepenuhnya.


"Kamu bilang kamu mau cerita sama kakak soal masa lalu kamu?" Tanya Ruzen.

__ADS_1


"Oalah...." Ucap Tia manggut manggut paham, Ruzen juga ikut manggutmanggut reflek mengikuti Tia.


"Sekarang mumpung inget sama ada waktu longgar." Ucap Ruzen.


"Kak Zen beneran mau tau?" Tanya Tia yang di jawab anggukan oleh Ruzen.


"Tia juga ikut mengangguk, Tia mau cerita tapi dengan satu syarat." Ucap Tia membuat kedua alis Ruzen sedikit naik.


"Syarat apa? Perasaan pas waktu itu kamu minta kakak buat cerita masa lalu kakak kakak nggak minta syarat apapun sama sekali deh sama kamu." Ucap Ruzen dengan bibir mengerucut.


"Bukan syarat yang gimana gimana kok Kak, Tia cuma mau duduk di samping Kak sambil meluk pinggangnya kakak." Ucap


Tia.


Tia tersenyum lalu mengangguk cepat, "kalau syaratnya cuman kayak gitu mah gampang." Ucap Ruzen seraya melepaskan tangannya yang tadi menahan pinggang Tia.


Tia mengangkat tubuhnya dari paha Ruzen, lalu ia menggeser tubuhnya menjadi duduk tepat di samping kanan Ruzen.


Seperti yang ia bilang sebelumnya, sebelum memulai bercerita, Tia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ruzen, dan menyandarkan kepalanya pada lengan Ruzen.


Sedangkan tangan kanan Ruzen terus merangkul lengan Tia dan menundukkan kepalanya menoleh ke arah Tia yang berada lebih rendah darinya.


"Nanti kalau Tia masih cerita jangan di potong di tengah jalan ya. Kak Ruzen boleh nanya tapi nanti kalau Tia udah selesai cerita, atau Tia menjeda cerita." Ucap Tia yang langsung di angguki oleh Ruzen.


"Abang pernah cerita sama kak Zen nggak kalau Tia dulu nakal?" Tanya Tia sedikit mendongakkan kepalanya menetap ke arah Ruzen yangbjuga menunduk menatapnya.


"Pernah." Jawab Ruzen mengangguk, "Kalau kata bang Sigit kamu dulu itu kayak t-rex." Ucap Ruzen terkekeh saat ia mendengar sebutan yang di berikan Sigit untuk Tia di masa lalu.


Tia juga ikut tersenyum mendengar ucapan Ruzen, setelah itu Tia mengangguk.


"Rum dulu nakal:kak. Nakal banget." Ucap Tia.


 


Flash back on


Di sebuah club malam yang ramai dengan pengunjung dari kalangan muda maupun tua. Terdapat seorang gadis yang sedang


merayakan hari kelulusan sekolahnya


dua hari yang lalu bersama dengan teman temannya.

__ADS_1


Namanya Tia, Dwi Septiana Putri. Gadis nakal yang baru saja lulus dari sekolah Smp dan hendak masuk ke sekolah Sma. la


terbilang gadis yang sangat cantik namun nakal, bahkan kedua orang tua dan juga kakaknya sampai merasa kesulitan dalam mengurusi dirinya.


__ADS_2