
Jujur Tia hanya berpura-pura marah, ia merasa sangat senang karna Ruzen sudah tidak diam seperti tadi, kalau Ruzen diam seperti tadi Tia akan kebingungan tak tau harus apa.
"Main ke mall lagi yuk." Ajak Ruzen.
"Kapan?" Tanya Tia.
"Besok nunggu kamu hamil" Ucap Ruzen yang membuat Tia tertawa terbahak bahak.
"Keras banget ketawanya." Ucap Ruzen.
"Habis kak Ruzen Lucu." Ucap Tia kembali tertawa pelan.
"Udah ayok siap siap, Kita jalan jalan ke mall" Ucap Ruzen beranjak dari tempat tidur.
"Nanti kalau ketemu anak sekolah kita gimana kak?" Tanya Tia.
"Ya emang kenapa?"
"Ya takut lah kak, gimana kalau nanti pada tau kalau kita udah nikah?"
"Ya bagus lah, biar nggak ada cowok yang gangguin kamu lagi, dan nggak akan ada cewek yang gangguin cowok ganteng ini." Ucap Ruzen mulai dengan PD nya.
"Ish."
Tia beranjak dari kasurnya dan mendekat ke arah meja rias, Ruzen tersenyum lalu ikut mendekat dan membantu Tia mengikat rambutnya.
"Kamu nggak mau lepas cadar aja syang? Cadar sunah kan?" Tanya Ruzen.
Tia mendongak menatap Ruzen saat mendengar pertanyaan dari Ruzen.
"Kakak nggak suka ya Kalau Tia bercadar?" Tanya Tia.
Dengan cepat Ruzen langsung menggeleng.
"bukan gitu maksudnya. Maksud kakak kamu merasa risih atau enggak." Ucap Ruzen cepat karna takut Tia salah paham.
"Di awal Tia memang risih dan nggak nyaman, tapi sekarang udah nyaman dan PD." Ucap Tia.
"Tapi kalau kakak minta Tia buat lepas cadar pasti tia lebih memilih melepas cadar." Ucap Tia.
"Kenapa?" Tanya Ruzen mengerutkan alisnya.
"berarti kakak dosa dong?"
Tia menggeleng, "memakai cadar itu Sunnah, sedangkan taat pada suami itu kewajiban." Ucap Tia.
membuat kedua sudut bibir Ruzen
melengkung ke atas.
"Makasih."
"Jadi, kakak mau Tia tetap pakai cadar atau mau Tia lepas cadar?" Tanya Tia.
"Pakaii cadar dong." Ucap Ruzen dengan cepat.
"Alasannya?"
Ruzen memutar kursi roda membuat Tua kink menghadap ke arahnya. setelah itu, Ruzen sedikit merendahkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan wajah Tia.
"Alasannya, karna Tia sudah berusaha susah payah buat menjaga wajah cantik ini agar hanya kakak yang bisa lihat, masa iya sekarang kakak ngijinin orang lain lihat wajah cantik yang sudah terjaga ini?"
__ADS_1
Tia tersenyum, jawaban yang di lontarkan oleh Ruzen sungguh tidak pernah terfikirkan oleh Tia kalau Ruzen akan menjawab dengan kata-kata yang semanis itu.
"Tia seneng, tia nggak salah pilih pasangan." Ucap Tia tersenyum.
"Terima kasih sudah menghargai usaha Tia dan sudah menghargai perasaan Tia." Ucap
Tia dengan tangan kembali membelai pipi itu.
"Udah ah, ayo kita berangkat. Tia mau pakai baju apa biar kakak ambilin." Ucap ruzen setelah selesai bicara dan menguncir rambut Tia.
"Gamis hitam yang di gantung di balik pintu kak, udah ada setelan hijab hitam sama cadar hitam." Ucap Tia seraya menunjuk pada baju yang di maksud.
Ruzen berbalik menatap Tia dengan sinis, "ke mall cah ayu, ke mall! Mau di ajak ke mall bukan ziarah kubur!" Ucap Ruzen yang
membuat Tia meringis.
"Yaudah terserah kak Zen aja, tadi nanya giliran di jawab malah marah-marah."
"Ya bukan marah-marah. Tapi kamu aneh!" Ucap Ruzen memberengut seraya berjalan ke arah pintu mengambil baju yang di minta oleh Tia.
"Nih. Nggak usah mandi, nanti demam lagi." Ucap Ruzen seraya menyerahkan baju gamis itu pada Tia.
°°°°°°°°°°
Mereka berangkat ke mall dengan menaiki mobil yang di berikan oleh kakek Heri Pradana .
Di sepanjang perjalanan Tia terus menatap ke arah luar tak beraninmengajak Ruzen berbicara takut mengganggu konsentrasinya.
"sayang.." Panggil Ruzen.
"Dalem?" Sahut Tia seraya menoleh ke arah Ruzen.
"Bicara apa gitu kek, nanya apa gitu biar nggak diem-diem an kaya gini." Ucap Ruzen.
"Yang nyetir kan tangan sama mata sayang, telinga sama mulut nggak ikutan nyetir." Ucap Ruzen.
"kamu inibya, hobi banget bikin kesel suami." Ucap Ruzen membuat Tia meringis.
"Tia bingung kak." Ucap Tia.
"Yaudah kalau gitu biar kakak aja yang nanya." Ucap Ruzen.
Tia mengangguk lalu menatap ke arah wajah Ruzen menunggu kelanjutan ucapan Ruzen.
"Kamu kenapa suka banget sama
warna hitam?" Tanya Ruzen.
"Eum, jawaban ini jelas sih kak, karna Tia bercadar." Ucap Tia.
"Apa hubungannya? Nggak nyambung banget sih kamu."
"Ada dong hubungannya." Ucap Tia.
"Apa?"
"Karna Tia bercadar berniat untuk menutupi wajah dan aurat agar tak ada laki-laki yang bukan mahram melihat aurat dan wajah Tia, apalagi laki-laki hidung belang." Ucap Tia.
"Dan kalau pakai pakaian yang berwarna agar terlihat cantik, jelas orang-orang justru akan melihat Tia karna merasa kagum atau
bahkan tertarik. Lalu apa gunanya cadar Tia?"
__ADS_1
Ruzen tersenyum mendengar alasan Tia yang terdengar sangat indah dan memuaskan di telinga.
"Itu juga alasan kalau Tia lagi di sekolah atau keluar rumah nggak pernah pakai pensil alis untuk menghias mata Tia. Agar tidak menimbulkan perhatian." Sambung
Tia.
"Terus kalau di kamar kenapa malah dandan?"
"itu karna buat kak Ruzen lah, biar kakak nggak bosen lihat Tia dengan wajah
lusuh dan lecek." Jawab Tia.
"Salah satu ciri perempuan yang baik adalah menyenangkan ketika suami
memandang dirinya."
"Ya dengan cara itu tadi, merias wajah, menjaga dirinya dan selalu berwajah ceria." Ucap Tia.
"Gitu ya?"
"Iya."
"Beruntung banget sih Ruzen Pradana dapet spek bidadari yang cantik luar dalam." Ucap Ruzen dengan senyuman.
"Makasilh kak... Tia juga beruntung bisa dapat suami kaya kak Zen." Ucap Tia dengan senyuman.
Akhirnya mereka tiba di mall yang mereka tuju dan langsung masuk ke dalam mall untuk berbelanja.
"Mau beli apa kak?" Tanya Tia yang di dorong oleh Ruzen.
"Belum tau, jalan aja dulu kalau pengen ambil." Jawab Ruzen seraya memelankan langkah kakinya .
"Malu kak." Ucap Tia sedikit.
"Malu kenapa? Kan sama suaminya sendiri masa malu sih? Mana suaminya ganteng lagi." Ucap Ruzen tanpa menghentikan langkahnya.
di dorong sama cowok ganteng, masa
kamu malu sih?"
"Bukan malu yang kaya gitu kak."
Ucap Tia.
"Emangnya ada berapa macam
malu?" Tanya Tia. Ia melihat sekeliling yang
menatap ke arah mereka.
"Kak.. Di lihatin banyak orang." Ucap Tia.
"Yaudah sih biarin aja, namanya juga punya mata. Masa nggak boleh ngelihatin?"
Tia hanya menghembuskan nafas pelan lalu memilih pasrah saja.
Ruzen yang melihat Tia yang tampak terganggu dengan tatapan orang-orang itu, ia menghentikan langkahnya dan menatap ke arah mereka.
"Woy! Pada ngapain lo ngeliat kita kaya gitu? Mau gue colok tuh mata?!" Bentak Ruzen pada beberapa orang yang sedang bergerombol menatap dan membicarakan mereka.
"Udah kak.."
__ADS_1
Tia yang melihat wajah suaminya sudah berubah masam langsng menenangkan Ruzen.