Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Bab 34 Masa Lalu Ruzen


__ADS_3

Iya iya ini mau cerita, gitu aja ngambek. Ngambek ya?"


"Enggak kok." Jawab Tia menggeleng pelan.


"Jadi yang bener mau di ceritain atau enggak nih?" Tanya Ruzen yang di jawab anggukan oleh Tia.


"Namanya anggi.." Ucap Ruzen tersenyum ke arah Tia, Tia hanya diam saja tak berniat merespon terlebih dahulu. Ia masih fokus menatap Ruzen menunggu Ruzen


melanjutkan cerita nya.


"Dia sahabat aku dari kecil, dia baik banget. Mirip sama kamu." Ucap Ruzen yang kali ini membuat alis Tia mengerut pertanda jika ia tak suka di samakan dengan orang di masalalu Ruzen.


"Maksud aku mirip sifatnya aja,." Ucap Ruzen manggut manggut.


"Jangan bilang kalau kak Ruzen mau nikah sama Tia karna Tia mirip sama dia?" Tanya Tia memincingkan matanya membuat Ruzen tertawa.


"Ya enggak lah sayang, emang wajah kakak kelihatan se bajingan itu ya?"Udah jangan berprasangka buruk dulu, jadi ini mau di lanjutkan atau mau di udah aja? Kalau saran aku mending di udahin aja dari pada nanti kamu malah berprasangka buruk sama kakak." Ucap Ruzen.


"Enggak kok, asal kak Ruzen bicara jujur Tia pasti akan percaya." Ucap Tia meyakinkan.


"Yaudah tapi janji harus percaya sama apapun yang aku ceritain nanti." Ucap Ruzen yang langsung di jawab anggukan oleh Tia .


"Perempuan itu namanya Anggi, kaya yang kakak bilang tadi, sifat sama karakter dia mirip sama kamu banget. Bedanya dia agak sedikit tomboy dan nggak pake hijab." Ucap Ruzen kembali bercerita.


"Dari dulu saat kita masih kecil, kami udah sahabatan bertiga, aku Abang Rian sama Anggi." Ucap Ruzen seraya mengangkat tiga jarinya dan menunjuk jarinya satu persatu saat menyebutkan 3 nama itu.


"Loh kak Ruzen punya abang? Ucap Tia yang kaget karna mengetahui kalau Ruzen punya abang.


" astaghfirullah jadi kakak blm cerita ya kalau kakak punya abang. kakak punya abang namanya Rian dia sekarang kuliah di luar negeri dan udh hampir selesai kuliahnya. '' Ucap Ruzen menjelaskan.


Tia pun hanya mengangguk.


"lanjut cerita ya. jadi Dari kecil Anggi lebih dekat sama bang Rian karna memang bang Rian anaknya baik dan pinter, sedangkan aku anaknya nakal dan bandel." Ucap Ruzen.


" kalau dia tomboy bukannya seharusnya dia sukanya sama kak Ruzen ya?" Tanya Tia.


Ruzen mengangkat kedua bahunya tanda tak paham dengan jawaban dari pertanyaan Tia.


"Intinya dia sukanya sama bang Rian , terus pas SMA kebetulan banget aku sama Anggi satu kelas.


Jadi aku lebih sering kemana-mana sama Anggi. nah dari situlah aku mulai suka sama Anggi."


"Menurut aku, Anggi itu sama kaya kamu. Beda dari yang lain." Ucap Ruzen kembali membuat Tia cemberut.


"Tapi kamu lebih beda ..." Ucap Ruzen.


"percaya deh kamu lebih beda, lebih spesial dari pada Anggi, buktinya aku butuh waktu selama bertahun-tahun untuk mencintai Anggi. Dan setelah kepergian Anggi aku hanya merasa sedih selama 2 hari." Ucap Ruzen.


"Tapi kalau sama kamu, sebaliknya. Aku hanya butuh waktu selama beberapa hari dan aku langsung mencintai kamu. Tapi mungkin aku akan butuh waktu yang sangat lama jika kamnu juga pergi ninggalin aku." Ucap Ruzen.

__ADS_1


Tia menunduk menyembunyikan wajahnya yang


memerah malu karna gombalan Ruzen.


"Apalagi yang mau kamu tanyakan ? Aku sudah lupa


semua tentang dia jadi sedikit kesulitan jika di minta bercerita. Tapi kalau kamu tanya aku bakalan jawab


apa adanya." Ucap Ruzen.


"Terus sekarang Anggun ada dimana?" Tanya Tia.


Ruzen mengangkat kedua bahunya tak paham.


"dia pergi saat kita kenaikan kelas 2 SMA nggak tau pergi kemana, dia cuma pamit ke bang Rian nggak pamit sama aku."


"Kak Ruzen cemburu?" Tanya Tia.


"Cemburu sama siapa?"


"Sama kak Rian?" Tanya Tia.


"Pas dulu iya, cemburu. Tapi setelah dia pergi kaya yang aku bilang tadi, nggak ada lagi rasa sayang atau


cinta buat dia. Yaudah ilang gitu aja." Ucap Ruzen yang membuat Tia manggut-manggut.


"Kak, tidur yok udah malem besok kan harus sekolah." Ajak Tia.


"Ayok " Ucap Ruzen sambil jari telunjuk nya mengarah ke pipi kiri nya.


"Kenapa jarinya gitu kak'' Tanya Tia tak mengerti maksud Ruzen.


" ih kamu mah gak peka" Ucap Ruzen sedikit cemberut.


"Oalahh cium" Ucap Tia manggut manggut.


"Iyaa, cium sini cium sini dan cium sini" Ucap Ruzen sambil menunjuk kening dan pipi kanan nya.


"Iya udah iyaa" Ucap Tia menurut.


Setelah itu mereka pun tidur hingga subuh.


°°°°°


Setelah melakukan sholat subuh, Mereka pun sedikit berbincang.


"Mau makan apa kak pagi ini?" Tanya Tia.


"Emang bisanya masak apa aja?" Tanya Ruzen dengan nada mengejek.

__ADS_1


Masalahnya Tia pernah bilang bahwa ia hanya bisa masak nasi goreng saja tapi masih berani menawari Ruzen untuk makan apa.


"Kak Ruzen maunya makan apa biar Tia sekalian belajar buat, Nanti Tia cari resepnya nanti di YouTube." Ucap Tia.


"Yaudah deh ayo, mendingan kita masak berdua aja biar nanti minta bantu bi Momon." Ucap Ruzen yang langsung berdiri.


"Sudah halal suami istri, ayo..." Ucap Ruzen.


"Lama kamu mah!" Ruzen yang geregetan langsung menarik tangan Tia dan langsung memindahkan Tia ke kursi rodanya.


"Pelan-pelan ih kak!" Omel Tia.


"Abis kamu lama sih." Ucap Ruzen masih mengangkat tubuh Tia ke kursi roda.


Di Dapur~


"Mau makan apa kamu?" Tanya Ruzen saat mereka sudah berada di dapur.


Terserah kakak aja mau makan apa?"


"Kalau di tanya jangan di jawab dengan pertanyaan balik dong." Ucap Ruzen seraya membuka pintu kulkas.


seblak mau?"tawar Ruzen.


"Mau. Kak Ruzen bisa buat seblak?" Tanya Tia.


"Bisa." Jawab Ruzen sembari mengeluarkan bahan untuk membuat seblak.


Ruzen meletakkan bahan-bahan itu di samping kompor.


" sini." Panggil Ruzen.


"Emang kak Rusen nggak butuh bantuan?"


"Enggak, biar aku yang masak, kamu duduk ajadi situ." Ucap Ruzen seraya berbalik kembali berkutat pada bahan masakannya.


Tia Memilih menurut dan diam di tempat yang di tunjuk oleh Ruzen, Tia terus mnemandang ke arah Ruzen. sudut bibirnya terangkat melihat laki-laki itu sangat fokus pada kegiatannya. Tia lebih suka Ruzen yang seperti ini, anteng tidak banyak ulah dan terlihat sangat dewasa di mata Tia.


"Mau yang pedes atau yang biasa aja?" Tanya Ruzen menoleh ke arah Tia.


"Kalau kak Ruzen mau yang apa?"


"Hadeh, baru juga di bilangin, kalau di tanya itu di jawab bukannya malah balik nanya Sayang.." Ucap Ruzen kesal yang lagi-lagi membuat Tia tertawa.


"Mau yang sedang aja kak, jangan terlalu pedas." Ucap Tia..


Ruzenn tak lagi menjawab dan kembali fokus pada kompor yang ada di hadapannya.


"Kak Zen, Tia boleh main hp nggak? Mau buka Instagram."

__ADS_1


__ADS_2