Badboy SMA Dan Gadis Bercadar

Badboy SMA Dan Gadis Bercadar
Eps 60 Saudara Sepupu Anggi


__ADS_3

Bukankah menjahili teman adalah hal yang wajib? Ahahah... Seperti di dalam hubungan pertemanan mereka ini, harus ada salah satu orang yang di jadikan bahan tawaan.


Kalau masih belum ada yang dijadikan bahan tawaan maka harus dicari apa yang bisa dijadikan bahan tawaan.


Tapi tentunya kalian tidak lupa dengan bagaimana circle persahabatan mereka, yang ketika salah satu tersakiti maka yang lain ikut bertindak.


Sedari dulu memang seperti itu circle persahabatan mereka, ada masanya bermain main dan ada masanya serius.


Ada satu prinsip yang dipegang teguh oleh mereka, yaitu ketika salah satu terluka maka itu akan melukai semuanya dan semua akan membalas luka yang didapatkan oleh sahabatnya dengan berkali lipat.


----------


Setelah itu Ruzen membawa teman temannya ke arah mall. ia memutuskan untuk makan di sana sekalian mencari bahan belanjaan yang perlu di beli bersama Tia.


"Lo bertiga pada makan aja, gue sama Tia mau naik dulu." Ucap Ruzen.


"Terus nanti siapa yang bayar?" Tanya Rion dengan bibirnya yang maju 3 senti.


"Ada tuh ATM gue di bawa sama Yoga." Jawab Ruzen.


"Nggak mungkin Lo habisin kan Ga?" Tanya Ruzwn menoleh ke arah Yoga.


Sigit dan juga Rion juga menoleh ke arah Yoga menunggu jawaban yang diberikan oleh Yoga.


sedangkan orang yang dilihat hanya cengengesan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Bisa kalian tebak kan apa jawaban Yoga?


"Emang kemarin isinya ada berapa sih?" Tanya Yoga basa-basi.


"Emh, aroma tai kuda nih." celetuk Sigit seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Heheh.... Gue abis main kemarin Bos." Ucap Yoga meringis, apalagi saat dengan kompak ketiga sahabatnya menatap ke arahnya dengan penuh intimidasi.


"Parah Lo Ga!" Ucap Ruzen geleng geleng, tapi laki-laki itu tetap merogoh dompetnya dan mengeluarkan satu kartu atm lalu ia


serahkan kepada Sigit.


"Udah gue bilangin stop main di club' malam! Selain dosa itu juga ngabisin duit." Omel Sigit.


"Iya bang."


"Iya, iya doang! Dasar anak e Nyoto!" Ucap Rion ikut mengomel.


Yoga hanya menatap tajam ke arah Rion, kalau saja Yoga tidak habis mendapatkan omel dari Ruzen dan juga Sigit sudah di pastikan kepalan tangan Yoga sudah mendarat di lengan Rion.


"Ruzen geleng geleng lalu kembali berbalik mendorong Tia dan membawanya masuk ke dalam mall.

__ADS_1


ia sudah malas jika harus menanggapi


ketiga temannya yang nggak akan habis tingkahnya ini.


"Kak Zen punya uang hasil balapan?" Tanya Tia menoleh ke arah Ruzen sedikit mendongak karna wajah Ruzen yang lebih tinggi dari dirinya.


"Iya, nggak papa kan? Tapi ini yang balapan dari lama, dulu sering kehabisan uang.


kalau lagi dimarahin Kakek nggak berani minta uang makanya nabung biar kalau butuhbuang tinggal ambil." Ucap Ruzen.


"Jangan balapan lagi ya." Larang Tia yang langsung di angguki oleh Ruzen.


"Itu temen kakak kan?" Tanya Tia menunjuk ke seorang lelaki yang berdiri di rak bagian Snack.


Ruzen menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Tia, saat tatapan mata Ruzen jatuh pada orang yang ditunjuk oleh Tia.


Ruzen langsung melotot Dengan segera ia menarik tangan Tia dan bersembunyi dari laki laki itu.


"Kenapa kak?" Tanya Tia yang keheranan.


"Kakak lagi males cari masalah, kalau kakak ketemu sama dia dan dia lihat Kakak bisa di pastikan akan ada masalah." Ucap Ruzen.


Tia mengerutkan keningnya bingung tapi ia tidak bertanya dan ikut melihat ke arah laki laki itu. Laki laki itu sudah berjalan ke


arah kasir dengan belanjaannya.


Tia menggeser tubuhnya dengan jalan jongkok.


"Kenapa sih kak?"


"Sini dulu."


Ruzen membawa Tia ke arah rak bagian belakang agar laki laki itu tidak melihatnya.


"Huh..." Ruzen menghembuskan nafas pelan lalu berdiri dengan diikuti oleh Rum.


"pegel ya? Maaf ya." Ucap Ruzeb seraya membantu membersihkan baju Tia yang kotor.


"Nggak papa kak, nggak masalah kok." Ucap Tia seraya melangkah agar Ruzen tak berhasil mundur menjangkau dirinya.


"Sini biar kakak bantu bersihkan dulu." Ucap Ruzen.


"Nggak papa kak, nanti ganti baju lagi." Ucap Tia.


"Kenapa kita ngumpet?" Tanya Tia.


"Kamu nggak inget gimana kejadian saat kita ketemu dia di mall waktu itu? Dia itu nggak bisa kalau nggak buat masalah, makanya lebih baik kita hindari." Ucap Ruzen.

__ADS_1


"Iya juga sih." Ucap Tia


"Ya udah ayo." Ajak Ruzen seraya kembali nmenarik tangan Tia dan membawanya ke arah tempat sayur dan buah-buahan.


Mereka berdua mulai memilih buah dan sayuran, Tia yang memilih buah-buahan sedangkan Ruzen yang memilih sayur sayuran.


Setelah puas berbelanja, Ruzen dan Tia pun bergegas kembali menemui teman nya tadi. Dan setelah mereka makan, mereka pun langsung pulang .


----------


"Kak Zen Udah beli tadi pesenan mama?" Tanya Tia.


"Udah kok, udah di antar pulang juga tadi sama orang. Soalnya tadi Mama telepon suruh cepetan anterin pulang." Jawab Ruzen.


Tia pun hanya manggut manggut.


"kak Zen..." panggil Tia.


"Dalem." Jawab Ruzen tanpa menoleh ke arah Tia, pandangannya tetap fokus ke arah jalanan yang berada di depannya.


"Kalau seumpama nanti malam kita tidur di rumah abang dulu, kak Zen mau nggak?" Tanya Tia hati-hati.


"Memangnya kenapa sayang? Kamu merasa nggak nyaman karena ada mama sama papa?" Tanya Ruzen yang kali ini menyempatkan dirinya menatap ke arah Tia secara sekilas.


"Sedikit kak. Tapi lebih banyak merasa nggak nyaman karena ada kak Rian di sana." Ucap Tia jujur.


"Ya udah nggak papa nanti kita coba bilang sama mama ya." Ucap Ruzen seraya mengelus tangan Tia.


"Makasih ya kak, maaf Tia banyak maunya." Ucap Tia.


"Nggak papa Sayang, bagaimana nyamannya kamu aja." Ucap Ruzen yang memang mengerti apa yang dirasakan oleh Tia.


Jujur saja ia sendiri merasa tidak nyaman saat Rian Ataupun laki laki lain terus melihat ke arah Tia dengan berlebihan.


"Oh iya kak, satu lagi. Kakak udah tau dari lama ya kalau Selvi itu saudara sepupu kak Anggi?" Tanya Tia.


"Tau, dulu kan kalau kakak sama bang Rian pergi ke rumah Anggi pasti, eh maksudnya sering ada Selvi juga di sana." Jawab Ruzen.


Tia hanya manggut manggut lalu diam tak lagi bertanya.


"Kenapa? Cemburu?" tanya Ruzen.


"Enggak kok kak, cuma sedikit insecure aja." ujar Tia.


"Insecure kenapa sih sayang?" ujar Ruzen dengan lembut.


Tia tersenyum saat Ruzen memanggil dirinya dengan sebutan sayang, ini memang bukan pertama kali Ruzen melakukan hal itu. Tapi tetap saja Tia merasa belum terbiasa.

__ADS_1


__ADS_2